“buku” Di Tahun Baru yang Bising

31 Desember 2011 – 19.14

Suara terompet dan petasan tak hentinya bersahutan memekakkan telinga. Malam menjelang pergantian tahun ini pun masih menyisakan kenangan yang sama setiap tahunnya, ramai, riuh dan bising. Jujur, saya tidak terlalu senang suasana ini. Namun, karena sudah ada janji penting saya pun meniatkan diri menembus malam. Dan sampai rumah sebelum jam 12.

Beberapa teman via bbm menanyakan pertanyaan yang sama pula setiap tahunnya di tanggal yang sama, “yan tahun baruan kemana?” Dan jawaban saya pun tetap sama “gw ga kemana mana, di rumah aja.” Dan sapaan dengan tema tahun baru pun berhenti di sini, karena mereka tahu saya kurang senang dengan kemeriahan dan keceriaan tahun baru yang menurut saya telah terkomodifikasi. Apalagi sih yang identik dengan trend tahun baru selain hura-hura, alkohol, petasan, dan terompet. Tanpa berpikir, apa manfaat jangka panjangnya bagi mereka setelah menghamburkan banyak uangnya untuk “keceriaan” sesaat itu. Resolusi? Hanya antologi pucat pasi yang kini berhamburan menghiasi TL twitter dan status facebook hingga BBM. Pajangan! Menurut saya resolusi ada di hati bukan diumbar.

Kendaraan yang saya kendarai melaju cepat. Petasan sudah “jedar jedor” meski ini masih jam 7 malam. Saya membayangkan berada di suatu daerah konflik yang diserang tembakan dan bom berkali-kali. Jelas tidak nyaman bagi saya berada di sebuah kota yang hegemonik secara kultural, ya inilah budaya jakarta sebagai kota metropolitan kini, dimana mall-mall kian menjamur, gedung-gedung perkantoran tinggi menjulang kian angkuh mencakar langit, tempat-tempat keriaan anak muda dengan mudah dapat dicari, dan prostitusi ahhh lo punya uang tinggal tunjuk mau yang mana. Semua hal itu yang membuat saya semakin hari semakin asing dengan kota kelahiran saya ini.

Saya juga kurang paham apa maksud mereka menghamburkan uang demi kesenangan dan kepuasan. Dengan ajojing di tempat dugem, mabok, tiup-tiup terompet “ngasal”, pasang petasan lalu lepas semua masalah? Saya sih tidak. Masih banyak teman-teman yang menganggap bawah kolong jembatan dan emperan pertokoan itu tempat yang nyaman untuk ditinggali, meski harus berhadapan dengan petugas Satpol PP dan Satpam yang sok aksi. Banyak juga anak-anak yang terpaksa tinggal di jalanan dan bekerja untuk Bapak-Ibunya demi sesuap nasi untuk keluarganya.

Adilkah? Ketika yang satu merayakan keceriaan tahun baru dengan berlimpah makanan, berpuluh puluh petasan terbeli, terompet-terompet warna warni yang tidak murah, dan minuman-minuman memabukkan terjajar dihajar lalu bersiap melewati detik pergantian tahun dengan menjelajah alam bawah sadar, sedang di tempat lain kelaparan dan berjuang mencari sesuap nasi untuk hari ini. Mungkin teman-teman terpikir pergantian 2011 – 2012 adalah keceriaan, namun teman-teman lain di sana perjalanan detik demi detik dihabiskan dengan : apa yang kita akan makan hari ini dan esok, sedang uang hasil jualan koran hari ini dan mengasong tidak cukup untuk membeli nasi dan sayur saja. Itupun masih dipotong untuk pajak dari para petugas-petugas preman berseragam.

23.45

Kini saya sudah di rumah dan sejak pukul sepuluh tadi sibuk sendiri memainkan cajon, alat musik perkusi dari Peru yang akhirnya terbeli juga, setelah sekian lama memimpikan untuk memainkan alat musik ini bersama teman-teman PKBI. PKBI itu apa sih? Nah silahkan berpikir sejenak, browsing juga boleh, baca buku lebih keren, santai aja sambil ngopi tambah ciamik :D. Nanti akan saya bahas di tulisan berikutnya tentang kegiatan saya dan teman-teman PKBI.

Kembali sedikit ke musik. Ya, saya senang musik, dan bagi saya musik adalah pembebasan diri saya dari segala jenis rutinitas. Selain Puisi, musik juga sebagai sarana saya berekspresi dan berkeluh kesah tentang fenomena politik dan sosial di sekitar. Mahir? Ya nggak lah. Mahir hanya milik Tuhan, karena manusia diciptakan untuk belajar akan segala hal. Melalui musik saya mengenal ritme dan nada. Menurut saya, hidup pun perlu dua hal itu.

Kini tibalah 15 menit menjelang pergantian tahun. Saya menyudahi bercengkrama dengan mas cajon dan kembali ke dunia nyata. Tragisnya, ada penyusup masuk ke dalam lemari saya. Binatang menjijikan itu bernama kecoa, saya melihatnya seperti buah kurma yang berjalan. wuaw! saya memang geli dengan binatang ini. Sontak, langsung saya kuncikan dan sementara menetap dalam lemari. Biar besok pagi saya minta tolong Agen FBI (Mbak yang bantu-bantu di rumah) untuk menginvestigasi lemari. 😀

Setelah insiden kurma berjalan itu, saya buka jendela kamar. Petasan semakin liar dilesatkan ke udara, membentuk percikan kembang api yang bagi sebagian orang mungkin menarik. Bagi saya sama sekali tidak. Karena suaranya jelas mengganggu. Saya buka TL twitter saya, dan nyatanya bukan hanya saya yang merasakan ketidaknyamanan itu. Adik saya dan beberapa teman pun merasakannya.

@ekagen

tille “perut langsung sakit banget wkt dgrin bunyi2 petasan 😦 kayaknya si dedek ga suka jadi kontraksi 😦 maafin bunda ya nak”

Itulah twit dari Eka, teman kuliah saya. Eka bukan saja teman sekelas, tapi juga teman perjuangan dalam proses menyelesaikan thesis. Ya, Eka sedang mengandung bayinya. Dan membaca twitnya menginspirasi saya menulis ini. Terimakasih Eka, telah membuat bulu kuduk saya merinding dan mencoba merasakan perjuangan Eka.

Andaikan saja teman-teman yang semalam membakar petasan untuk kepuasan dirinya membaca twit Eka semalam. Bukankah kita dilahirkan juga oleh seorang ibu. Seseorang sosok yang membuat kita ada di dunia ini. Sosok yang dengan perjuangannya mengandung, dan melahirkan kita, membuat kita bisa ada di hari ini dan merasakan pergantian tahun.

Jujur, twit Eka semalam membuat hati saya tergetar, saya matikan lampu kamar dan merenung dalam. Saya bangun, dan masuk kamar ibu saya, beliau sudah tidur, saya kecup keni

ngnya membisikkan “selamat tahun baru ibu,” dan saya kembali ke kamar dengan mata basah.

Tubuh saya lemas membaca bagian twit Eka : “maafin bunda ya nak :(.” Saya membayangkan kalau yang terjadi pada Eka juga terjadi pada Ibu saya ketika melahirkan saya. Betapa besar kasih sayang seorang Ibu, hingga ia rela mengatakan itu sebagai kesalahannya, padahal ia tidak melakukan itu.

Eka hanyalah satu orang korban dari kebisingan malam tahun baru, mungkin di sana banyak calon ibu yang seperti Eka. Karena twit eka air mata saya turun, dan dari situlah saya berpikir tegas, bahwa boleh kita merasakan nyaman dan puas akan sesuatu yang kita lakukan, tapi sadari bahwa belum tentu orang lain di sekitar kita pun merasakan hal yang sama.

Secara tidak sadar twit Eka telah kembali menyadarkan saya, bahwa kita manusia punya rasa yang berbeda mengenai sesuatu hal, mari tengoklah dan pahami sekitar setelah kita memahami diri kita.

Ya, tahun pun berganti. Tubuh pun tak terasa bertambah renta. Hanya kitalah yang lebih mengenal siapa diri kita dan bagaimana harus bersikap. Saya selalu menganggap orang di sekitar adalah buku yang tak akan pernah habis saya baca. Dari orang-orang yang saya temui saya belajar banyak hal. Dan malam ini saya pun belajar dari petasan, terompet dan Eka.

Selamat Tahun Baru Untuk Teman-Teman Semua.

Sekali lagi, terimakasih banyak Eka.

*Tulisan ini bukan bermaksud menggurui, karena saya pun murid abadi

Foto :
1. 3.bp.blogspot.com
2. 1.bp.blogspot.com
3. 3.bp.blogspot.com

salam,

@botaxryan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s