Damai Dimulai dari Diri Sendiri

berbedatanparasatakut-1

Teror bom masih saja terjadi di bumi Indonesia. Minggu (13/11), bom molotov dilemparkan orang tak dikenal di parkiran Gereja Oikumene, Sengkotek, Samarinda. Ledakan bom terjadi pukul 10.oo WITA, saat jemaah yang telah selesai beribadah keluar menuju parkiran.

Berdasarkan informasi Kompas.com, 17/11 pukul 07.24 WIB, korban ledakan bom adalah 4 orang Balita, mengalami luka bakar sekujur tubuh. Mereka sedang bermain di halaman gereja menunggu orang tuanya keluar. Terduga pelaku berhasil ditangkap. Ia pernah dihukum 3 tahun 6 bulan terkait kasus terorisme dan dinyatakan bebas bersyarat pada 28 Juli 2014.

Duka cita mendalam untuk korban, keluarga korban, jemaah gereja dan masyarakat Samarinda. Kejadian ini jelas menyesakkan dada. Menyedihkan. Kebebasan beribadah yang dijanjikan Negara lewat UUD 1945 pasal 29 (2) sampai saat ini belum terwujud. Warga negara terutama minoritas belum bisa aman dan nyaman beribadah sesuai dengan agamanya, bahkan di tempat ibadahnya sekalipun. Apalagi kali ini korbannya adalah anak-anak. Insan yang seharusnya dilindungi. Insan yang nantinya menjadi generasi penerus bangsa ini.

Mengapa manusia Indonesia begitu gandrung dengan kekerasan? Mengapa Damai sulit sekali diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari kita? Apa ada yang salah jika kita berbeda? Mengapa kita tidak saling mengasihi?

Pertanyaan-pertanyaan itu terus mengaliri otak saya ketika membaca berita ledakan bom di Samarinda pagi ini. Apalagi tahu bahwa terduga pelaku pemboman tinggal di dekat lingkungan gereja. Artinya, pelaku adalah tetangga sendiri. Miris. Tetangga kok gitu?

Coba kita lihat latar belakang terduga pelaku yang pernah dipenjara karena kasus terorisme. Meski harus dilihat lebih jauh lagi kasusnya. Saya berasumsi awal, berarti treatment 3 tahun 6 bulan di penjara belum mengubah perspektif pelaku. Atau upaya deradikalisasi yang dilakukan berbagai pihak untuk meredam timbulnya kasus teror baru bisa dikatakan belum berhasil.

Radikalisasi atas nama agama adalah manifestasi dari internalisasi paham kebencian dengan tujuan tertentu. Apalagi dibawakan oleh (yang katanya) pemuka agama. Padahal sejatinya semua agama mengajarkan kebaikan dan kedamaian bagi seluruh semesta alam. Tidak ada sama sekali nilai-nilai ketuhanan dalam agama yang mengajarkan kejahatan dan kebencian.

Saya bisa bilang bahwa radikalisasi atas nama agama adalah musuh keberagaman. Musuh di sini bukan berarti harus diperangi dengan senjata. Namun nuraninya harus diwarnai dengan nilai-nilai kemanusiaan. Jiwanya harus disirami dengan nilai-nilai kedamaian. Dan otaknya harus diisi dengan ideologi yang logis dan kritis. Diskusi damai dan dialog adalah simpul-simpul yang mempereratnya.

Selama kita hidup, kita pasti akan dihadapkan oleh suatu perbedaan. Apalagi kita hidup di Indonesia. Negara yang sangat beragam. Jadi, mengapa kita harus takut berbeda?

Gusdur pernah bilang, “Tidak penting apapun agamamu atau sukumu, kalau kamu bisa melakukan sesuatu yg baik untuk semua orang, Orang tidak akan tanya apa agamamu.” Jadi berbuat baiklah tanpa memandang status dan latar belakang seseorang.

Saya jadi ingat nasihat Bapak, “apa lagi sih yang kita cari dalam hidup? berbuat baik sama kiri-kanan (sesama) jangan pernah ditunda-tunda. Utamakan hidup kamu untuk orang yang kesusahan.”

Saya sangat mengagumi Gusdur. Saya sangat mengagumi dan mencintai Bapak saya. Dua nasihat beliau-beliau ini jelas lebih tertanam di hati saya, dibandingkan hasutan dan makian orang-orang yang mengaku ahli agama.

Mari sebarkan DAMAI dimulai dari diri sendiri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s