Selamat Hari Ayah, Pak!

editan

Ini adalah foto saya dan bapak 5 tahun lalu. Saat kami merayakan Lebaran di rumah. Foto yang menggambarkan keseharian hubungan saya dan Bapak, terbuka, cair, penuh canda.

Ya, Bapak memposisikan dirinya bukan hanya sebagai orang tua, tapi juga sahabat terbaik bagi anak anaknya. Sejak saya beranjak remaja, saya bisa dengan bebasnya ber-gue-elo saat kami bicara berdua. Segala hal bisa kami bicarakan, dari mulai kisah percintaan remaja saya, kisah kisah lucu keseharian, isu sosial hingga masalah politik. Bapak selalu menyediakan dirinya untuk jadi tempat berkeluh kesah.

Bapak jugalah yang menumbuhkan jiwa demokrasi dalam diri saya. Dari kecil saya diajarkan untuk bagaimana menyikapi perbedaan dengan bijak, dengan tidak memaksakan orang lain untuk menjadi sama dengan kita. Meski perjalanan menuju demokrasi di keluarga kami lumayan panjang. Waktu saya kecil Bapak cukup otoriter dan keras. Keinginannya harus selalu dituruti. Semua itu berubah ketika saya dan adik saya tumbuh remaja. Perubahan cara kepemimpinan Bapak dari otoriter menjadi demokratis sangat saya acungi jempol. Bapak menyadari bahwa cara mendidik dengan otoriter tidak berfungsi di keluarga kami. Hingga kini kamar tidur utama di Rumah Bapak-Ibu adalah “gedung DPR” bagi kami. Kamar ini menjadi ruang kami bercerita segala hal, hingga mencari solusi dari suatu permasalahan. Hingga kini Saya, Adik, Ibu, Bapak dan kini Istri Saya selalu nyaman berkeluh kesah di “gedung DPR” kami ini. Satu hal yang tidak mungkin saya lupa bahkan selalu saya rindukan adalah momen “Mijetin Bapak”. Bukan hanya sekedar mijetin, tapi juga sukses mempererat hubungan saya dengan bapak.

Hingga kini, perbedaan selalu menghiasi taman sari hubungan orang tua-anak saya dengan bapak.Tapi saya merasa perbedaan ini yang membuat kami belajar saling memahami satu sama lainnya. Dari dulu saat pilpres atau pilgub, pilihan kami selalu berbeda. Ah tak terhitung berapa banyak diskusi saya dengan bapak tentang perbedaan pilihan kita. Tentang demo 411 kemarin kita juga berbeda pandangan. Bapak punya argumen mengapa demo 411 itu masuk akal baginya. Dan saya juga punya alasan logis yang berbeda dengan Bapak. Kami saling menghargai pendapat masing-masing. Tapi kami sepakat, bahwa setiap kekerasan atas dasar apapun tidak dibenarkan. Dan yang saya salut dan belajar banyak dari bapak adalah sikap toleransinya. Bapak adalah seorang yang agamis, hampir tidak pernah absen solat di mesjid dan baca Al Quran di rumah. Nilai-nilai agama yang ia serap, ia praktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Bagi Bapak, inti agama adalah berbuat baik dengan sesama, karena Tuhan selalu menyaksikan seluruh perbuatan kita. Itulah mengapa ia juga aktif dalam berbagai kegiatan kemasyarakatan dan berupaya sekeras mungkin menolong yang kesusahan. Nilai-nilai ini yang ia tularkan ke anak-anaknya.

Mesti terlambat sehari, tapi enggak apa ya Pak. Selamat Hari Ayah, Pak! Saya sangat beruntung menjadi Anak Bapak. Bisa belajar banyak hal hal baik dari Bapak. Saya bangga punya Bapak yang bisa menjadi panutan bagi anak-anaknya. Sangat bangga pak! Sehat-sehat terus Pak! Peluk!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s