Belajar Menghargai Nyawa

candles3-bw

“Satu anak adalah satu nyawa dan setiap nyawa berharga.”

Kalimat sakti yang menjadi slogan perjuangan teman-teman Lentera Anak Pelangi, seharian ini begitu merasuk ke dalam pikiran saya. Kalimat tersebut bukan hanya memiliki pesan kuat namun juga seakan memiliki ruh yang mengajak kembali merenungkan betapa berharganya nyawa setiap anak manusia. Tidak dapat tergantikan oleh apapun.

Teror bom di Samarinda yang melenyapkan nyawa seorang anak bernama Intan Olivia Marbun Banjarnahor (2,5 tahun) dan melukai 3 orang anak lainnya perlu menjadi perenungan bersama. Sampai kapan kekerasan atas nama agama ini dibiarkan terjadi? Apakah kita cukup punya hati untuk menghargai setiap nyawa dari korban yang jatuh?

Menghargai nyawa adalah sebuah penghormatan pada setiap detak nadi kehidupan. Sebuah bagian dari rasa syukur kita telah diberi kehidupan oleh Tuhan. Oleh karenanya kita juga bertanggung jawab untuk memanusiakan manusia lainnya dengan cinta dan kasih. Nilai-nilai luhur inilah yang seharusnya tertanam dalam jiwa manusia dan  dipraktikkan dalam keseharian.

Saya rasa ini yang membuat kita geram ketika kembali terjadi peristiwa yang merenggut nyawa manusia lainnya. Apalagi korbannya anak-anak. Apalagi disengaja dengan motif kebencian atas nama agama. Agama yang seharusnya memuliakan setiap nyawa manusia, kenyataannya malah menjadi jalan kekerasan dan menghilangkan nyawa manusia. Sudah tak terhitung beberapa nyawa manusia hilang dengan dalih membela agama. Dalam kasus ini, agama diterapkan dengan cara kekerasan dan tindakan intoleran. Dalil agama dijadikan alat legitimasi dari tindakan yang sebenarnya ditentang oleh agama apapun.

Lalu kita melakukan apa?

Empati adalah hal yang utama. Membangkitkan rasa empati dalam diri menjadi hal yang yang sangat produktif dan menantang. Membaca berbagai literatur, berdialog, turun tangan dalam kegiatan kemanusiaan merupakan salah tiga untuk menyuntikkan empati dalam tubuh. Bagi saya, empati terhadap sesama menjadi modal dasar kita menghargai nyawa yang diberikan Tuhan. Empati membangkitkan gelora hidup terus tumbuh dan bertambah warna. Menjadi medium untuk saling menguatkan.

Rasa empati dalam diri pada akhirnya yang menuntun kita untuk bijak merespon pemboman yang terjadi di Samarinda, dua hari lalu. Termasuk bagaimana mengendalikan jari jemari kita untuk tidak turut menyebarkan foto-foto korban yang tidak layak tayang di timeline sosial media kita. Kita juga memilah kata dan kalimat yang tepat untuk membubuhkannya menjadi status. Yang juga penting yaitu bagaimana menghindari hasutan bahwa peristiwa pengeboman adalah bagian dari pengalihan isu dan alasan bermuatan politis lainnya. Ini jelas pernyataan yang tidak sensitif. Tidak perlu diladeni.

Berikutnya, berteriak lantang pada hati yang paling dalam bahwa kita tidak akan melakukan tindakan kekerasan dalam berbagai bentuk. Sadari bahwa setiap kekerasan berpotensi menghilangkan nyawa manusia. Menciderai nilai luhur kemanusiaan. Setiap agama dan kepercayaan apapun membenci tindakan kekerasan. Jadi, bahwa doktrin yang mentolerir kekerasan jelas itu bukan ajaran agama dan kemanusiaan. Itu adalah doktrin sesat yang mengatasnamakan agama untuk kepentingan tertentu.

Terus terang saya salut dengan aksi seribu lilin di Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta, Senin (14/11) yang digalang oleh berbagai elemen masyarakat, tepat sehari setelah pengeboman. Aksi ini meruntuhkan sekat-sekat yang membelenggu. Memicu eratnya solidaritas. Mengalirkan doa yang tak hentinya dipanjatkan dari Sabang sampai Merauke untuk korban dan keluarga yang ditinggalkan. Untuk Indonesia yang lebih damai. Untuk Indonesia tanpa kekerasan.

Memang hal yang paling sulit adalah memaafkan. Membayangkan perlakuan yang dibuat pelaku saja kita muak sekaligus marah, apalagi harus memaafkan. Tapi, Keluarga Trinity Hutahaean (4 tahun), korban ledakan bom aksi teror di Samarinda memaafkan pelaku teror. Sungguh sebuah kebesaran hati yang menginspirasi. Menurut keluarga, Tuhanlah yang akan memberi balasan karena pelaku telah menyakiti anak-anak yang tidak berdosa. “Tuhan mengajarkan untuk memaafkan dan bukan membalas kejahatan.”

Tuhan, berikanlah kedamaian. Maafkanlah kami, maafkan.

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s