Ironi Politik Ibukota : Menjanjikan Persatuan (Namun) Melanggengkan Kekerasan

1486641472_aksi
Ilustrasi : MediaIndonesia.com

Pilkada Jakarta (akhirnya) sudah berlalu. Layaknya sebuah pertarungan, kalah dan menang adalah hal yang wajar. Meski kita mesti harus menunggu keputusan resmi dari KPU (Komisi Pemilihan Umum). Kini, sudah saatnya kita melepas berbagai atribut dukungan, lalu bersiap mengawal dan mengawasi pemerintahan Gubernur dan Wakil Gubernur terpilih, Anies-Sandi.

Hal yang menggelitik nalar dari peristiwa paska pengumuman hasil quick count Pilkada DKI Jakarta putaran kedua adalah terlihat over-dominannya Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto dalam menyampaikan pidato kemenangan Anies-Sandi. Dengan berbinar-binar dan bangga prabowo mengucapkan terima kasih kepada Pemimpin Front Pembela Islam (FPI) Rizieq Shihab dalam doa sujud syukur di Mesjid Istiqlal Jakarta Pusat Rabu (19/4).

Seperti diberitakan Kompas.com, dalam kesempatan ini, Prabowo menyebut Rizieq sebagai sosok yang pemberani. Prabowo juga mengucapkan terima kasih kepada Ketua Panitia Tamasya Al Maidah Ansufri Idrus Sambo.

“Saya terima kasih Habib Rizieq, keberanian Anda luar biasa. Ustaz Sambo, terima kasih, dengan kalian semua di belakang kami, kami tidak gentar,” kata Prabowo.

Apresiasi Prabowo terhadap FPI dan gerakan Tamasya Al Maidah ini wajib dipertanyakan. Pasalnya, sejak awal berdiri pada 1998, FPI seringkali melanggengkan kekerasan dalam serangkaian aksinya. FPI kerap kali meresahkan masyarakat dengan sweeping, intimidasi dan tindak intoleran lainnya.

Sedangkan Tamasya Al Maidah, sukses memprovokasi gairah warga di luar Jakarta yang notabene tidak memiliki KTP Jakarta untuk datang ke Ibukota saat Pilkada putaran kedua. “Tamasya” bermuatan politik dan SARA ini menebarkan ketidakpastian keamanan pada warga Jakarta. Tamasya yang seharusnya riang gembira, kini dirasuki muatan politik bernafaskan rasa curiga dan benci.

Ucapan “terima kasih, dengan kalian semua di belakang kami, kami tidak gentar” ini memperlihatkan bahwa FPI dan Gerakan Tamasya Al Maidah cenderung punya peranan ‘pengamanan’ dalam upaya memenangkan pasangan Anies-Sandi hingga menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur periode 2017-2022. Tak ayal jika terus dibiarkan, Jakarta nantinya akan menjadi ‘surga’ bagi elit politik haus kuasa, kapitalis rakus dan ormas intoleran.

Jargon ‘merangkul semua’, ‘merajut tenun-tenun kebangsaan’, ‘menjaga nuansa persatuan’ yang secara puitis nan retoris dikumandangkan Sang Gubernur terpilih di berbagai kesempatan harus benar-benar ditepati, bukan hanya manis di bibir. Jika Gubernur sebelumnya, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) sejak 3 tahun lalu mewacanakan membubarkan ormas radikal termasuk FPI, Sang Gubernur terpilih dan timnya ini malah asik menjalin tenun-tenun keintiman dengan FPI. Sebelumnya, awal tahun ini Anies malah pernah sowan langsung dengan Rizieq Shihab pada sebuah acaradi  Markas FPI.

Faktanya sekarang, FPI dibiarkan terus berkembang di Jakarta. Kekerasan dengan bumbu-bumbu tafsir agama literal sekian rupa digoreng sedemikan rupa hingga menjadi sajian yang wajar bahkan populer. Jakarta malah menjadi rumah yang sangat nyaman bagi FPI.

Padahal di luar Jakarta, FPI terus mendapatkan penolakan dari masyarakat. Awal tahun ini, (10/1) Sekitar 100 orang dari sejumlah ormas kepemudaan dan mahasiswa menggelar unjuk rasa menolak keberadaan FPI dan Gerakan Nasional Pembela Fatwa-Majelis ulama Indonesia (GNPF-MUI) di kota Balikpapan, Kalimantan Timur. Pada (22/1) ribuan warga dari berbagai Ormas menolak keberadaan FPI di  Bali. Pada (14/4) warga menolak keberadaan FPI di Kota Semarang, Jawa Tengah. Lalu (15/4), FPI ditolak oleh warga Salatiga.

Jika ini dilakukan dalam rangka ‘menjaga nuansa persatuan’, Sang Gubernur terpilih ini juga harus merangkul pemeluk Ahmadiyah dan Syiah, yang kerap kali mendapatkan stigma dan diskriminasi. Tentunya, jika ingin jadi pemersatu jangan ada pilih kasih atau tebang pilih atas dasar kepentingan politik. Bhinneka Tunggal Ika harus menjadi ruh dalam menjalankan Persatuan di Jakarta, kota dengan beragam suku, agama, ras dan antar golongan. Jika tidak, Jakarta akan segera tutup usia, tertimbun nafsu kuasa para pemimpin yang membuali persatuan.

Jakarta, 21 April 2017

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s