Ketika Korupsi Menjadi (Semakin) Lumrah

koruptor-pamit-pensiun_1507805019
beritagar.id

Korupsi korupsi… kata ini lagi. Selalu menghantui negeri yang frustasi. … Prinsip imparsial tak berlaku lagi. Siapa punya modal takkan masuk bui.” ~Navicula – Mafia Hukum

Sejak awal pamflet digital “Koruptor Pamit Pensiun” menggentayangi sosial media, saya sudah terperanjat ingin nonton. Sebagai Jemaah Ibadah Kebudayaan Indonesia Kita, saya merasa berdosa besar untuk melewatkan pementasan penutup Indonesia Kita di tahun ini. Apalagi tema yang diangkat dalam pentas kedua puluh enam Ibadah Kebudayaan Indonesia Kita di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki Jakarta, 20-21 Oktober ini adalah penyakit yang (pura-pura) sulit disembuhkan di negeri ini. Korupsi.

Lakon “Koruptor Pamit Pensiun” dibuka dengan pengakuan Butet Kartaredjasa (Butet), seorang pejabat yang mendadak mengaku bahwa selama ini dirinya adalah koruptor dan menyatakan keinginannya untuk pensiun. Pengakuannya secara terbuka di depan keluarga dan koleganya – penegak hukum dan tim dokter pribadinya – sontak membuat geger.

Tentunya lakon tidak berhenti pada pengakuan kontroversial itu. Ine (Sha Ine Febriyanti) anaknya, merasa sangat tidak terima bahwa sejak kecil ia dibiayai dengan uang hasil korupsi. Sang Istri khawatir bukan main jika suaminya kemudian akan masuk bui. Sementara, para penegak hukum (Marwoto dan Trio GAM) juga malah ikutan kalang kabut. Niat jujur Butet mengakui dirinya sebagai koruptor dikhawatirkan akan menginspirasi banyak koruptor lain. Sehingga nanti tidak ada yang menyelenggarakan Negara. Jika terjadi demikian, aparat juga akan tidak “bekerja”.

Aparat penegak hukum pun tidak kehabisan akal. Agar Butet tetap bisa pensiun, tanpa harus menginap di hotel prodeo mereka mengusulkan Butet untuk bertukar identitas dengan kawan lamanya yang kini tinggal di Panti Pensiun, Cak Kartolo. Bahkan aparat hukum turun tangan untuk mengiming-imingi Cak Kartolo bertukar identitas sebagai Butet untuk menjalani proses hukuman dengan uang segepok.

Tim dokter (Akbar dan Cak Lontong) pun turut andil dalam melakukan operasi perubahan identitas Cak Kartolo menjadi Butet. Juga mengeluarkan surat sakti “sehat wal afiat” yang memuluskan jalan Cak Kartolo ke Bui. Lucunya, setelah berbagai adegan-adegan mengocok perut nan menyayat nurani itu, Sang Koruptor menyatakan dirinya tidak jadi pensiun.

Kita dan Korupsi

Bukan Indonesia Kita namanya kalau tidak menebarkan komedi satir. Sejak awal kita diajak untuk menertawakan hal-hal yang sebenarnya menyayat hati. Manis, manis, pahit. Setiap adegannya bukan hanya menyindir pejabat korup tapi juga menampar kewarasan kita, bahwa apakah kita menjadi semakin gandrungnya sama korupsi sampai-sampai koruptor mau tobat aja dianggap tidak waras.

Seperti biasa sebelum lakon dibuka, Butet menyampaikan orasi budaya yang saya sebut sebagai doa. Karena esensi dari sebuah doa bukan hanya melulu soal permintaan – seringkali agak maksa – kepada Tuhan, namun juga ungkapan yang jujur kepada semesta akan kondisi yang membelenggu hati. Melihat kondisi politik nasional dan ibukota yang saat ini semakin menggelitik saat ini, saya sudah agak bisa menebak arah “doa” Butet. Dari mulai “slepetannya” soal sentimen “pribumi – non pribumi” yang didengungkan Gubernur baru Jakarta yang memancing kontroversi. Kekhawatirannya akan korupsi yang semakin menggerogoti nurani. Dan ajakannya untuk “Jangan Kapok Menjadi Indonesia”, yang saya amini dari hati yang paling dalam beserta tawa yang khusyuk. Sembari mengait-ngaitkan kejadian-kejadian politik konyol akhir akhir ini.

Sajian “Koruptor Pamit Pensiun” menjadi sebuah olok-olok parodik yang mengajak berpikir sambil tertawa dan misuh-misuh (marah-marah). Apakah mungkin di dunia nyata, yang benderanya merah putih, seorang pejabat yang selama ini dicitrakan bijak mendadak mengakui bahwa dirinya korupsi? Yang ada, OTT (Operasi Tangkap Tangan) KPK makin banyak menjaring koruptor-koruptor kakap. Yang ada, KPK dengan beragam cara dilemahkan bahkan kalau bisa dimatikan. Yang ada, koruptor berlomba-lomba berakting sakit ala aktor papan atas. Yang ada, uang maha kuasa di atas segalanya.

Lalu, benarkah korupsi sudah menjadi budaya kita? Jadi, bisa dikatakan bahwa melakukan korupsi adalah sesuatu yang lumrah? Sehingga, jika ada pejabat yang (tiba-tiba) mengaku bahwa dirinya korupsi menjadi sesuatu yang aneh? Bagaimana dengan “korupsi-korupsi” kecil-kecilan yang kita lakukan di kehidupan sehari-hari?

Andy Budiman dalam artikelnya “Korupsi Budaya Indonesia?” di dw.com (2011) menyebutkan bahwa korupsi dekat dengan kita. Siapa sih yang tidak kenal istilah uang pelicin, uang rokok, uang transport, setoran, jabatan basah, salam tempel, cara damai, amplop, yang semuanya adalah eufimisme dari perilaku korup yang biasa dilakukan sehari-hari.

Korupsi yang menggurita hari ini, bahkan (tak ayal) menenggelamkan negara kita di kemudian hari adalah cerminan dari pembiasaan dan pembiaran dari perilaku korup yang sistemik. Hingga mampu dihadirkan dalam laku menjadi sebuah kewajaran. Yang menurut Andy Budiman dikatakan, “Korupsi hari ini adalah warisan buruk otoritarianisme yang belum tuntas kita selesaikan”.

Serangkaian tawa dalam ibadah kebudayaan malam itu menjadi medium pengingat bahwa kita masih memiliki sejumlah pekerjaan rumah terkait pemberantasan korupsi. Maka, melawanlah dalam tawamu yang paling hakiki.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s