Cita-Cita dan Passion, Saling Berkait?

“Nanti kalau sudah besar mau jadi apa?”

“Pilot!”

 

hidup-untuk-menulis

Pertanyaan ini pastinya sudah menjadi sarapan masa kecil. Entah apa yang terpikirkan oleh saya ketika menjawab itu. Waktu itu, saya tidak terlalu suka pesawat. Keluarga saya juga jarang atau bahkan enggak pernah berpergian dengan si burung besi ini. Jadi apa ya yang membuat saya menjawab itu dengan mantap kala itu? Kepolosan anak-anak kah? Hmmm.

Sadar atau tidak pilihan cita-cita masa kecil kita sudah dikonstruksi oleh lingkungan sekitar, termasuk orang tua dan guru. Pilot, dokter, dan polisi menjadi langganan profesi yang disebutkan oleh anak-anak seusia saya waktu itu. Dan itu diperkuat dengan karnaval 17-an yang sudah menjadi rutinitas memperingati Hari Kemerdekaan kita. Hampir semua anak di Perumahan tempat saya tinggal menjelma menjadi pilot, dokter dan polisi kecil versi orang tua mereka.

Saya? Herannya saya tidak tertarik tuh dengan atribut pilot. Boro-boro sampai membayangkan nyetir pesawat, saya aja takut ketinggian, blah! Ujung-ujungnnya malah bisa muntah semua seisi pesawat karena saya lupa harus mencet tombol yang mana karena stress sendiri di udara.

Karnaval 17-an di masa kecil saya lewati dengan memilih kostum pahlawan betawi, Si Pitung. Atribut legenda betawi ini lengkap saya adaptasi, mulai dari sarung, peci dan pakaian koko khas betawi. Uniknya, di akhir masa karnaval, saya mengenakan pakaian pitung berwarna pink hasil kreasi ibu saya. Dan, saya menjadi pusat perhatian orang-orang. Dulu memang saya enggak mikir jauh kenapa orang-orang memerhatikan saya segitunya. Baru deh sekarang mikir, “ohh dulu itu mungkin mereka ngeliat saya karena pink itu identik dengan perempuan.” Hmm lagi-lagi konstruksi gender.

Belajar Menyetir Mimpi

“Kuliah nanti ambil jurusan apa, teknik?”

“Enggak, aku maunya komunikasi”

“Apa itu? Mau jadi apa?”

“Wartawan.”

Itulah percakapan saya dengan bapak ketika kelas 2 SMA. Bapak menyarankan saya untuk masuk IPA, ya karena beliau memang lulusan Teknik Sipil. Meja gambar tekniknya sudah dipersiapkan untuk saya. Namun saya menolaknya.

Saya memilih IPS, dan jurusan Ilmu Komunikasi Undip menjadi pijakan saya dalam menggapai mimpi. Wartawan (Jurnalis)? Ya hanya itu yang saat itu saya tahu tentang profesi jebolan Ilmu Komunikasi. “Ibu enggak mau kamu jadi wartawan. Nanti terjun di perang, nyawamu terancam,” itu nasehat Ibu yang masih saya ingat.

Sebelum saya mengikuti tes masuk Universitas, saya sudah membeli buku “Pengantar Ilmu Komunikasi”. Tujuannya satu, saya harus bisa membuktikan bahwa masuk Ilmu Komunikasi ingin jadi wartawan. Padahal, saya pun masih bingung jobdesk wartawan ngapain aja ketika itu.

Di perkuliahan lah saya banyak belajar bagaimana menyetir mimpi. Bukan hanya dari mata kuliah yang saya ikuti, tapi dari kegiatan-kegiatan di luar perkuliahan. Saya belajar banyak hal. Bagi saya, kuliah tidak hanya giat belajar untuk mendapatkan nilai bagus dan ujung-ujungnya IPK yang tinggi menjulang bahkan cumlaude. Tidak itu! Karena saya tipikal orang yang enggak suka menghafal. Saya cinta membaca, tapi bukan untuk menjawab soal-soal ujian dengan menghafal. Membaca adalah berimajinasi. Membaca adalah bermain. Membaca adalah Layang-Layang, yang bisa bebas terbang kapan saja menghirup udara bebas di atas sana.

Membaca dan Menulis. Ya, dua hal itu bagai sendok dan garpu. Tidak dapat terpisahkan satu sama lain. Kegiatan menulis saya mulai sejak duduk di bangku Sekolah Dasar (SD). Saya suka menulis puisi. Kecintaan ini saya kembangkan juga menjadi tulisan artikel. Puisi dan artikel adalah dua senjata saya dalam melukiskan kisah, dalam mengkritisi realita. Di sinilah ilmu komunikasi saya kepakai. Saya menggunakan komunikasi untuk membunyikan suara-suara yang teredam. Pesan inilah yang dikemas menjadi senjata. Ya, senjata yang berbunyi.

Dari perjalanan pekerjaan saya yang terus berpindah, akhirnya saya menemukan titik cerah. Menjadi Penulis. Ilmu tulis menulis tidak sepenuhnya saya dapatkan di sekolahan, tapi di lingkungan pekerjaan saya. Deadline ketat membuat saya berpacu dengan waktu untuk menyelesaikan pekerjaan yang sebenarnya bukan keinginan saya. Alienasi pun terjadi dengan saya. Benar kata Marx, bahwa manusia memang jadi terasing dari dirinya ketika disudutkan dengan berbagai kepentingan, ya kapital. Bekerja menjadi penulis dan editor di suatu perusahaan konsultan komunikasi sempat membuat saya terasing dari karya tulis. Karena tulisan yang dihasilkan tidak mengalir dengan apa adanya, tapi “ada apanya”. Ya, kita dituntut untuk membuat tulisan indah di mata klien, dengan nilai (kompensasi)  karya serendah-rendahnya. Saya pun memutuskan untuk keluar.

Menemukan Passion

Di kantor konsultan media ini saya sudah menjajal cita-cita saya ketika SMA, ya jadi wartawan. Meliput berita, mewawancarai narasumber dan menulis naskah menjadi pekerjaan rutinitas. Saya menjadi jurnalis untuk majalah khusus, yaitu In-House Magazine dari klien-klien perusahaan tempat saya bekerja. Menyenangkan? Sangat! Di sini saya mendapat beberapa teman wartawan baru dari majalah dan koran ternama. Hubungan saya dengan klien pun baik. Kita pun masih berhubungan sampai saya memutuskan resign.

Passion? Ini penting! Cita-cita setinggi apapun tidak akan tercapai tanpa passion kita di dalamnya. Saya menemukan passion menulis saya belum lama ini. Memang membaca dan menulis sudah saya senangi sejak kecil. Tapi itu berlangsung alamiah tanpa disadari. Sama seperti saya menyebutkan profesi pilot untuk menjadi cita-cita saya. Pada akhirnya, saya tidak menyentuhnya sama sekali.

Menurut saya, menemukan passion itu bagai menggapai nyawa dari cita-cita. Kalau kita sudah mendapatkan nyawanya, tinggal ke mana akan kita hembuskan. Menulis sudah menjadi passion saya, secapek apapun saya akan tetap menulis. Tinggal ke “raga” mana saya akan menghembuskan nyawa menulis ini. Raga di sini berarti pekerjaan.

Dari menulis bisa saja menjadi jurnalis, penulis atau editor buku, novel, skenario film, dll. Tidak mustahil juga untuk menemukan profesi lain yang mungkin dirasa enggak ada hubungannya seperti social worker. Ya, saya saat ini sedang berjuang mewujudkan impian saya menjadi Community System Strengthening Officer di salah satu LSM tertua di Indonesia. Profesi ini mungkin saja asing dalam dunia tulis menulis. Namun tadi saya bilang, menulis itu nyawa, dan menjadi CSS Officer itu raga saya. Selain itu, saya juga masih bisa menulis freelance di berbagai media. Hmmm menyenangkan bukan? Selama masih ada nyawa (menulis), raga (pekerjaan) akan berjalan sangat menyenangkan.

Menemukan passion adalah menyadari kecintaan. Sama seperti ketika kita mulai lirak lirik manusia yang kita sukai, lalu kita berjuang mendapatkannya. Setelah dapat kita akan puas, dan memulai hidup bersama dengan romansa yang kita padukan.

Mari temukan Passion kita, dan jadikan pekerjaan serta hidup kita lebih menyenangkan.

 

*Pernah dipublikasi di blog saya sebelumnya yang saya lupa password-nya 😀 Kamis, 23 Agustus 2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s