Maling Oh Maling

1486485220_korup
Sumber Ilustrasi : mediaindonesia.com

 

“Maling… Maling… Maling…”

Kira-kira sebulanan yang lalu, teriakan di Minggu Pagi itu begitu mengejutkanku. Bukan hanya mengejutkan, tetapi membangunkan tidur. Sontak akupun berlarian ke luar rumah menuju arah suara.

“Siapa yang kemalingan mbak,” tanyaku kepada mbak asisten rumah tangga.

“Enggak tau itu, kayaknya rumah di depan lapangan voli, motornya yang dimaling.”

Kaki tergerak menuju depan rumah. Sepuluhan lebih tetangga sudah bersungut-sungut kesal, karena Maling yang dicarinya sudah kabur entah ke mana.

“Wuah udah kabur. Ya udahlah enggak apa-apa,” tutur pemilik rumah yang katanya motornya kemalingan sambil menjaga nafasnya yang terengah-engah karena mengejar Si Maling.

“Kalo masih di komplek sih, enggak bakalan ke mana-mana mas, nanti juga kena,” kata bapak-bapak tetanggaku yang lain dengan amarahnya yang tertinggal.

“Udah pak, enggak papa,” katanya ikhlas.

Berita pun simpang siur terjadi.

Kata Mbak asisten Rumah Tanggaku, Maling masuk ke rumah, lalu berniat membawa pergi motor. Aksinya dipergoki sang pemilik rumah, lalu maling langsung lari kabur. Si pemilik rumah yang masih muda itu lari mengejar sampai depan rumahku. Maling sudah kabur tanpa bekas.

Kata tetanggaku, Maling pergi berhasil membawa motor yang punya rumah.

“Edan,” umpatku kala itu. Ya, jam baru menunjuk pukul 9 pagi. Masih terlalu pagi bagi mereka yang memiliki niat mencuri sesuatu di dalam rumah. Mengingat resiko yang cukup besar. Si Maling bisa saja tertangkap dan menjadi “bulan-bulanan” massa. Apalagi di Jakarta dengan polusi sosial yang tinggi, maling bisa saja dipukuli bahkan mati dibakar! Mengerikan!

Benar saja. 15 menit berikutnya Mbak Asisten Rumah Tanggaku masuk rumah dengan nafas yang tidak teratur. Katanya, Si Maling ketangkep dan “habis” digebukin massa.

“Oh ya, Gila! ketangkep di mana?”

“Itu mas, ketangkep di Blok Q (tengah komplek perumahanku). Diseret sampe ujung jalan ini. abis degebukin mas. Enggak tega saya ngeliatnya.”

“Ya Tuhan, terus sekarang masih ada,” aku hampir berlari menuju lokasi.

“Enggak mas, udah dibawa ke Pos Polisi. Darahnya banyak banget. Diinjek-injek kepalanya, ditendang-tendang. Malah ada orang yang enggak kenal main pukul aja.”

“Yang parah lagi mas, Bapak-bapak yang mukulin banyak yang udah Haji. Ada juga yang keluar rumah udah bawa kayu gede banget, untung tadi dibujuk sama Ibu-ibu. jadinya gak ikutan mukul pake kayu,” katanya masih shock.

Bulu romaku berdiri membayangkannya.

“Malingnya bawa lari motor?”

“Enggak mas. Jadi, malingnya itu enggak jadi bawa lari apa-apa. Dia pas lagi lewat rumah yang pintu gerbangnya terbuka. Di halaman rumah ada sepeda anak kecil. Maling itu mau ngambil sepeda. Eh, udah ketauan sama yang punya. Kabur deh sampe depan rumah tadi itu.”

“Jadi malingnya enggak pengen nyuri motor?”

“Ya, Enggak mas”

Malam harinya akupun merenung. Hmmm, luar biasa yah lingkungan kita ini. Kita terbiasa untuk mendengar berita yang tidak utuh, sehingga tidak memahami kasusnya secara menyeluruh. Tapi, dengan begitu kita bisa dengan mudahnya menghakimi. Memukul. Menjambak. Menendang. Menginjak. Mencekik. Dan tindakan pelampiasan kemarahan lainnya kepada orang lain. Hal yang tidak disadarinya, atau lupa disadari ini bisa menyebabkan hilangnya nyawa orang lain, meskipun berniat mencuri.

Sepakat, bahwa tindakan pencurian memang tidak dibenarkan secara hukum. Tapi kita lihat deh, yang ingin dicuri itu adalah sepeda kecil, yang mungkin harganya tidak begitu memberatkan bagi orang yang akan kecurian. Seberapa mahal sih harga sepeda kecil untuk anak? Kalau kita berbaik sangka, bisa saja sepeda ini Si Maling ambil untuk anaknya. Bisa saja ini dia ambil untuk dijual dan digunakan untuk mencukupi kebutuhan sehari-harinya.

Dan, sepeda ini tidak jadi dia curi! Apakah adil bila dia dihakimi oleh massa! ini sungguh tindakan bar-bar menurutku.

Kita merasa diri kita terhormat dengan sederet gelar akademis sebelum dan setelah nama. Ditambah lagi dengan gelar religius yang juga disesakkan sebelum nama kita. Kita juga merasa tersohor dengan kemewahan yang melekat pada kita dari hasil pencapaian duniawi. Apakah lantas semua itu membuat kita lupa bagaimana memperlakukan “calon maling kecil” ini?

Faktanya, kita selalu mempermasalahkan maling-maling kecil, tetapi lupa atau masa bodoh dengan “maling-maling besar” di luar sana yang bebas korupsi dan memainkan angka-angka negara demi kemakmuran perut dan bokongnya sendiri.

Ya, Memang kita selalu ingat bagaimana cara maling kecil ini mencuri, dan lupa bagaimana Gayus Tambunan, dkk, dkk, dkk, dkk, dkk merugikan negara sampai Triliunan Rupiah.

Jakarta, 16/11/12

*Tulisan ini pernah dipublikasi di Kompasiana, 5 tahun lalu. Saat itu kasus korupsi Gayus lagi mencuat ke permukaan. 5 tahun berlalu. Masyarakat di kiri kanan kita masih sibuk menghakimi “maling-maling kecil” dengan tindakan keji. Di atas sana, maling-maling besar tumbuh makin subur, kian menjijikan. Seribu taktik disiapkan untuk menutupi kasusnya. Termasuk pura-pura sakit. Di sisi lain, ada wacana busuk untuk membubarkan Lembaga Anti Rasuah Indonesia, KPK. 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s