Bakat vs Kerja Keras

Old vintage typewriter
Sumber Foto : writing.com

“Bakat itu bohong. Tidak ada itu yang namanya bakat.”

Dua kalimat sakti sahabat saya Dian Purnomo – kami saling memanggil dengan sebutan yang sama, Minor – masih membekas dalam memori internal di kepala saya.

Minor pernah mengucapkan kalimat saktinya itu pada pertemuan kami di TIM beberapa tahun silam. Kami sedang membahas tentang tari. Saat itu saya dan istri, Sisy lagi membujuk Minor untuk nari bali di LKB (Lembaga Kesenian Bali) Saraswati. Sanggar tari tempat Sisy aktif latihan sejak 5 tahun lalu.

Diskusi kami mengarah pada bakat dan kemampuan seseorang. Saya awalnya berpendapat, bakat juga punya pengaruh besar terhadap kemampuan (skill) berkesenian seseorang. Apapun itu. Musik, misalnya. Orang yang sejak dilahirkan sudah diberikan gift dasar suara yang bagus dari Tuhan, ya pasti dia bisa nyanyi. Suaranya merdu.

“Omong kosong itu. Apapun itu namanya, pemberian Tuhan lah, apalah itu, tanpa diasah dan dilatih enggak akan jadi apa-apa.”

“Jadi?”

“Untuk menguasai sesuatu ya harus kerja keras.”

Teori saya agak oleng seketika. Meski saya tetap kekeuh. Bakat itu ada. Tuhan memberikan “bahan” kepada manusia untuk diasah. Tinggal kita, mau atau malas.

Bakat apapun bentuknya yang diberikan Tuhan, jika tidak dilatih terus pasti tidak akan berkembang. Belajar mati-matian untuk mencapai sesuatu yang kita inginkan adalah hal mutlak.

Saya terinspirasi bagaimana Sisy belajar tari Bali. Kecintaannya terhadap seni tari Bali dibuktikannya dengan kerja keras latihan tari, di manapun, kapanpun. Sabtu dan Minggu pagi, sekitar 2-3 jam dia latihan tari di sanggar. Itu saja? Oh tidak! Sisy selalu berlatih pada saat apapun. Kadang dia menyediakan waktu khusus untuk latihan di rumah. Lebih sering dia tiba-tiba mempraktikkan tarian pada saat di mobil. Saat makan. Menjelang tidur.

Aneh? Tidak! Itu hebat. Saya belajar banyak dari Sisy. Baru 5 tahun belajar tari, saya sudah melihat dia menjadikan tari sebagai nafasnya. Dahsyatnya, dia tidak sama sekali merasa terganggu, ketika saya usil memindahkan salah satu tangannya, atau mematikan musiknya sekejap. Sisy tetap menari. Tanpa musik, dengan posisi tangan yang ditarik-tarik sama suaminya yang maha iseng ini. Dia sudah sejiwa dengan tariannya. Ini tidak akan didapat tanpa kerja keras.

Menulis pun begitu. Orang yang dikasih bakat menulis secanggih-canggihnya akan tidak terbiasa menulis kalau tidak diasah terus. Kita akan cepat lupa. Lalu kemudian dilupakan dalam sejarah, karena tidak pernah menuliskan apapun.

Minor menekankan lagi hal ini pada sesi Pelatihan Menulis di kantor saya. Saya mengundangnya untuk berbagi pengalaman menulis.

Kerja keras adalah kuncinya. Membaca. Tidak akan ada di dunia ini penulis yang tidak membaca karya orang lain. Justru proses baca-tulis ini yang akan meningkatkan kemampuan kita untuk merasakan, menjiwai, memaknai karya.

“Waduh susah euy! Menulis itu kan butuh waktu khusus. Kadang saya enggak ada ide untuk menulis. Pekerjaan saya bukan penulis sih.”

Pikiran-pikiran itu kudu segera dienyahkan dari alam pikiran kita. Menjadi penulis profesional itu pilihan. Kita bisa kok tetap menulis tanpa harus bekerja sebagai penulis.

Saya jadi ingat lagi kata Minor. Menulis itu tidak butuh waktu khusus sebenarnya. Dengan segala kecanggihan saat ini, kita bisa nulis di ponsel pintar kita. Kemudian bisa deh diunggah ke Facebook, Instagram. Hayooo, kita sering juga kan bikin status di FB? Atau caption foto di IG? Lha itu apa namanya kalo bukan menulis? Hehe.

Kalau alasannya, karena sibuk bekerja? Ya, justru itu bisa menjadi bahan untuk menulis. Betul, betul betul?

Yuk ah jadikan menulis sebagai bagian dari keseharian kita. Tentunya dengan kerja keras belajar dan terus konsisten menulis. Ini mah sekalian pesan monolog untuk diri saya sendiri. Haha.

Selamat berhari minggu!

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s