Berbeda itu Sexy

Punk

“Don’t judge the book from its cover,” Pepatah lama yang selalu saya pegang sampai sekarang. Peristiwa penangkapan dan penggundulan teman-teman Punk di aceh menjadi pelajaran besar bagi kita semua, terutama saya. Jangan pernah menilai seseorang hanya dari luarnya, mari mengenal lebih dalam.  Menghakimi orang lain yang berbeda dengan kita hanya karena berbeda tampilan dan pandangan itu hanya akan mencederai semangat keberagaman di tempat di mana kita berpijak saat ini.

Siang itu cukup terik. Matahari dengan mesra meluapkan panasnya, seperti hendak curhat. Panas pun menjalar sampai ke ruang kerja saya, meski penyejuk udara sudah berusaha sekuat tenaga membantu. Namun, hal itu tidak menyurutkan semangat saya dan lima orang rekan kerja saya yang sibuk dengan laptop di hadapannya, dan berbicara ketika tiba gilirannya. Ya, hari itu kami sedang rapat redaksi untuk beberapa majalah internal klien.

“Do you realize, (realize) / That you have the most (the most) / Beautiful face (beautiful face) / Do you realize, (realize) / We’re floating in space,” sepenggal lagu dari The Flaming Lips yang diaransemen oleh The Postal Service, dan menjadi ringtone hp saya memecah suasana siang itu. Frey, sahabat saya telpon untuk ketemuan di kantornya, kebetulan ada janji juga untuk latihan akustikan dan membeli cajon. Oke saya konfirmasi untuk hadir.

Setelah melewati insiden ketinggalan charger laptop, yang juga nyawa kedua saya akhirnya sampai juga saya di kantor PKBI, Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia di kawasan Hang Jebat, Jakarta Selatan. Awalnya saya pun kurang paham apa sih PKBI itu. Banyak teman-teman saya juga tak tahu apa itu PKBI. Saya mengenal PKBI lebih dalam karena sering diajak Frey main dan ngopi di sana.

Dari main dan ngopi inilah saya jadi tahu bahwa PKBI itu ternyata salah satu LSM tertua di Indonesia yang memelopori gerakan Keluarga Berencana di Indonesia. Nah, mengenai gerakan Keluarga Berencana mungkin banyak teman-teman yang lebih mengenal BKKBN (Badan Koordinasi Keluarga Berencana Indonesia), salah satu organisasi pemerintahan di Indonesia yang katanya sih konsen ke urusan ini. Saya sih lebih tertarik membaca webnya PKBI yang sarat informasi dibanding BKKBN, tapi justru itu membuat saya ingin mengenal lebih jauh BKKBN nantinya. Tak kenal maka tak sayang sih katanya.

Kembali ke PKBI, LSM yang didirikan sejak  23 Desember 1957  ini dilatarbelakangi oleh keprihatinan para pendiri PKBI, yang  terdiri dari sekelompok tokoh masyarakat dan ahli kesehatan, terhadap berbagai masalah kependudukan dan tingginya angka kematian ibu di Indonesia. PKBI inilah yang kemudian melahirkan BKKBN itu tadi.

PKBI sadar, dalam menghadapi berbagai permasalahan kependudukan dan kesehatan reproduksi dewasa ini, PKBI melakukan pengembangan programnya didasarkan pada pendekatan yang berbasis hak sensitif gender dan kualitas pelayanan serta keberpihakan kepada kelompok miskin dan marjinal melalui semboyan “berjuang untuk pemenuhan hak-hak seksual dan kesehatan reproduksi.”

Tapi memang perjuangan PKBI cukup berat, karena masyarakat, sejauh saya melakukan observasi melalui wawancara ringan, belum banyak yang mengetahui PKBI. Namun, perjuangan PKBI untuk menyuarakan hak-hak kaum yang termarjinalisasi secara ekonomi, sosial dan politik harus kita dukung. Karena di sisi lain, saya cenderung apatis terhadap program-program yang dijalankan pemerintah.

Perbedaan Bukan Jurang Pemisah

Terbukti pemerintah kurang mampu mengelola keberagaman menjadi sebuah keunikan dan kekuatan tersendiri, malah sering terjadi konflik akibat dari perbedaan-perbedaan mendasar seperti Suku, Ras dan Agama, yang sering dikambing hitamkan sebagai pemicu keretakan hubungan sosial masyarakat.

Banyak contoh kasus-kasus berdarah atas nama Suku, Ras, dan Agama. Korban pun tidak bisa dihitung dengan jari lagi. Kini kitalah yang harus merenung, apakah masih perlu pemaksaan  penyeragaman pendapat, keyakinan, dan doktrin ideologi agar kita semua satu arah. Saya seringkali merenung dalam akan ini, dan jawaban saya tegas untuk ini : tidak perlu lagi! Karena sadari, bahwa sebuah perbedaan bukan menjadi indah kalau kita bersatu dan menjadi sama, tapi biarkanlah berbeda dan saling melengkapi.

Peristiwa yang belum lama menggetarkan hati saya, dan belum lepas dari ingatan saya yaitu penangkapan teman-teman Punk di Aceh, diakhiri dengan penggundulan. Setelah itu mereka dimasukkan ke dalam kolam dengan telanjang dada, dan diceramahi dari atas oleh polisi syariah. Begitulah foto yang saya lihat dari hasil browsing saya. Saya membaca ini sebagai sebuah upaya represif ideologi dominan, dilakukan oleh aparat keamanan dan pemerintah daerah dalam mempertahankan ideologinya.

Saya mencoba membedah peristiwa ini melalui kacamata Gramsci mengenai hegemoni. Menurut Gramsci, Pemerintah dalam melanggengkan kekuasaannya membutuhkan paling tidak dua perangkat kerja. Pertama, perangkat kerja yang mampu melakukan tindakan kekerasan dan bersifat memaksa. Perangkat ini dilakukan oleh pranata negara melalui lembaga-lembaga seperti hukum, militer, polisi dan penjara. Kedua, perangkat yang mampu membujuk masyarakat untuk taat melalui agama, pendidikan, kesenian dan keluarga. Biasanya dilakukan oleh pranata masyarakat sipil seperti LSM, organisasi sosial keagamaan, dll.

Upaya yang dilakukan oleh polisi syariah aceh masuk ke dalam kategori yang pertama. Karena polisi syariah bekerja secara represif dan memaksa, sebagai upaya menegakkan syariah islam di sana. Ditilik dari konsep hegemoni Gramsci, pemerintah daerah melalui polisi syariah mengamankan teman-teman punk, karena jika dibiarkan tetap membaur akan merusak sistem sosial yang telah dibangun oleh kekuasaan, dan upaya penegakkan syariah di sana akan tidak berjalan maksimal.

Tidak adil memang. Punk di masyarakat terlanjur distereotipkan sebagai pengganggu, pemalak, pemabuk, lengkap dengan atribut mohawk, celana ketat dan piercingnya yang dilihat sebagai suatu keanehan dan abnormal. Lalu yang normal seperti apa? Berseragam, rapih, berdasi, wangi, sepatu pantofel? Atau pakai baju koko, berpeci, bersorban? Lalu korupsi jalan terus, melegalkan diri dengan poligami, memperkosa dan merampas hak orang lain sah-sah saja?

Ya, Punk memang muncul lengap dengan citra negatifnya di masyarakat. Tapi apa bedanya dengan polisi? Banyak polisi juga yang mabuk, memalak, merusak, bahkan menipu! Saya menyebutnya itu oknum. Karena tidak semua anak Punk itu berperilaku negatif dan juga demikian dengan polisi. Dari kejadian ini perlulah kita merenung dan belajar lagi lebih jauh tentang budaya dan kehidupan sosial di sekitar kita. Karena menurut saya Syariah Islam itu bukan paksaan dan Islam bukan Arab. Di era modern, Islam sudah menyatu dalam kebudayaan Indonesia, dan menjadi Islam adalah menjadi toleran.

Aceh terlanjur dikenal sebagai “Serambi Mekah”. Serambi menurut Kamus Bahasa Indonesia berarti beranda atau teras. Mayoritas penduduk di Aceh menganut agama Islam. Di Aceh pula berdiri kerajaan Perlak I (Aceh Timur) pada 840 M, 2 Abad setelah wafatnya Rasulullah Muhammad. Lalu, salah seorang keturunannya, Sayyid Ali bin Muhammad Dibaj bin Ja’far Shadiq hijrah ke kerajaan Perlak. Ia kemudian menikah dengan adik kandung Raja Perlak Syahir Nuwi. Dari pernikahan ini lahirlah Abdul Aziz Syah sebagai Sultan (Raja Islam) Perlak I. Dari sinilah sejarah lahirnya keturunan arab di aceh hingga kini.

Dari sini, saya mengajak sejenak terbang menyentuh konsep subkultur menurut Dick Hebdige. Mengutip dari Chris Barker dalam bukunya Cultural Studies : Teori dan Praktek, “kata kultur dalam subkultur mengacu pada keseluruhan cara hidup atau peta-peta makna yang memungkinkan anggota budaya tersebut dapat memahami dunia. Kata “sub” di awal berkonotasi dengan kekhasan dan perbedaan dari masyarakat dominan atau mainstream.” Memahami subkultur berarti pula memahami oposisi binernya, seperti apa dan bagaimana sistem ideologi mengikat di dalamnya, sehingga muncul upaya pembebasan suatu kelompok sosial tertentu dan penolakan terhadap tekanan dari kelompok sosial yang lainnya.

Punk dengan atribut mohawk, celana ketat, piercing, tato dan menyanyikan lagu-lagu sederhana anti polisi dan keteraturan dengan dua sampai tiga kord bukan tanpa dasar. Sama dengan agama dengan ideologinya, punk juga memiliki ideologi dan sejarahnya sendiri. Punk lahir di London, Inggris sebagai bentuk reaksi masyarakat, terutama kelompok anak muda pekerja kelas bawah dan pengangguran di pinggiran kota London, akibat kondisi keterpurukan ekonomi di Inggris pada tahun 1976-1977.

Kelompok anak muda ini merasa bahwa sistem pemerintahan monarki di Inggris saat itu yang menindas mereka. lalu, dari sinilah muncul resistensi terhadap monarki. Kemarahan dan kritik mereka terhadap sistem saat itu mereka lampiaskan melalui musik dengan lirik-lirik perlawanan dan protes sosial politik. Dan itu diwujudkan juga dengan gaya berpakaian yang tidak lazim.

Konser musik pun digelar untuk mengkampanyekan ide-ide perlawanan mereka. Kemunculan band Sex Pistols saat itu dengan dandanan yang tak lazim dari sudut pandang kemapanan seperti celana jeans robek, rambut di cat warna warni, tato dan gaya slengean menginspirasi anak muda saat itu. Sex Pistols membawa wabah ini ke Amerika Serikat, lalu menyebar ke seluruh dunia termasuk Indonesia.

Di Indonesia semangat punk menjalar lewat konsep perilaku DIY (Do It Yourself). Sebuah konsep mandiri, yang ingin bebas dari industri yang dibekap selubung modal, kapitalis. Band-band punk bermunculan menyuarakan idealismenya, Superman Is Dead (SID), Marjinal, dll. Mereka memproduksi sendiri album mereka, lalu mendistribusikannya sendiri.

Memang SID pernah juga bersama label Sony Music Indonesia, yang menandakan bahwa musik tak kan pernah lepas dari industri. Dan punk kini juga masuk ke dalam bagian dari “budaya yang dijual” melalui gaya hidup dan atribut anti kemapanan. Industri membuat punk punya celah pasarnya sendiri.

Lepas dari itu, yang perlu digarisbawahi adalah bagaimana punk menciptakan rasa solidaritas yang mendunia. Banyak yang juga masih menjalankan jalan hidup punk di luaran sana. Komunitas Taring Babi misalnya, hidup dengan semangat DIY masih mereka jalankan hingga kini. Mereka tak peduli dengan cibiran orang-orang di sekitar mereka. Membaur dengan dunia sosial, mencoba berguna bagi sekitar tetap menjadi dasar mereka. Jelas, mereka teriak dan melawan ketika teman punk mereka di aceh sana “diamankan”. Bukan hanya di Indonesia, Punk di Rusia, Jerman bahkan Amerika pun memprotes tindakan polisi syariah ini. Mereka semua menuntut terbebasnya segala bentuk diskriminasi atas nama satu hal, PERBEDAAN.

Salam Damai,

Jakarta, Januari 2012

 

*Pernah dipublikasi di notes facebook, 2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s