Manis-Manis Semu Ala Es Krim Aice

Es Krim Aice, di balik manisnya mengandung derita para buruh yang diperlakukan tidak adil. Saat yang tepat untuk mengatakan, “selamat tinggal Aice!”

Aice

Begitu mendengar atau membaca “Es Krim Aice”, saya langsung terbayang es krim kekinian, murah, menyegarkan, dengan banyak varian rasa; semangka, melon, mangga, pisang, cokelat. Bahkan rasa yang agak unik seperti talas dan jagung pun ada. Harganya murmer (murah meriah), dari Rp 2.000 hingga Rp 10.000 saja dong. Bentuknya pun unik, ada yang menyerupai buah-buahan.

Es krim Aice bukan hanya disukai anak-anak. Orang dewasa pun sering tertangkap mata sedang memegang es krim yang eye catching ini. Tak terkecuali, saya. Aice (sempat) menjadi primadona di keluarga kami. Jika sedang kumpul-kumpul keluarga, es krim Aice menjadi saksi keceriaan dan keseruan kami.

Sudah hampir tiga tahun Aice memanjakan lidah kita-kita di Indonesia. Awalnya saya kira, Aice adalah karya anak bangsa. Belakangan ini baru saya ketahui ternyata bukan. Aice merupakan brand es krim asal Singapura, yang memiliki pabrik di Cikarang, Jawa Barat. Sebelumnya, es krim ini bermerek Baronet. Pada tahun 2015 berubah nama menjadi Aice.

Dalam sekejap, es krim yang diproduksi oleh PT Alpen Food Industry (PT AFI) ini sudah meraih Excellent Brand Award 2017 pada kategori merek es krim terbaik. Setahun yang lalu, Aice menjadi satu-satunya merk es krim yang dipilih sebagai 10 makanan paling viral 2016 melalui artikel yang diterbitkan di IDN Times.

Bagi yang kalau makan atau minum selalu nyariin logo halalnya MUI tidak perlu khawatir. Aice sudah dicap halal dengan nilai A oleh MUI. Aice juga sudah lulus uji dari BPOM dengan sertifikasi ISO 9001:2008. Bahkan, logo Aice bersanding dengan logo Asian Games 2018. Ya, Aice merupakan sponsor ajang olahraga empat tahunan se-Asia di Jakarta dan Palembang tahun depan.

Manis Awalnya, Berakhir Pahit

Sederetan kisah manis manis manja es krim yang sempat menjelajahi mulut saya ini mendadak sirna. Berbagai berita yang beredar menyebutkan, pada awal November sebanyak 644 orang buruh PT Alpen Food Industry melakukan mogok kerja selama belasan hari ke depan. Logikanya sederhana. Jika ada buruh yang mogok kerja atau protes, pasti ada yang enggak beres dengan perusahaan itu.

Saya pun penasaran membaca lebih jauh lagi. Ternyata, alasan para buruh tersebut mogok kerja yakni eksploitasi kerja yang dilakukan oleh perusahaan. Perusahaan memperlakukan pekerjanya seperti robot; mesin-mesin produksi yang terus bekerja tanpa henti.

Buruh-buruh di sana diperlakukan tidak adil sejak awal proses menjadi pekerja. Mereka yang ingin bekerja di sana harus membayar sekitar dua sampai tiga juta. Aduh! Mau kerja kok malah dipalakin. Aroma tak sedap pada awal rekrutmen ini mengawali penindasan hak-hak mereka berikutnya.

Dalam proses rekrutmen, PT AFI menggunakan Perusahaan Jasa Outsourcing, PT Mandiri Putra Bangsa. Seperti dikutip dari kumparan.com, perusahaan outsourcing tersebut kerap melakukan penahanan ijazah hingga mempekerjakan buruh tanpa Surat Perjanjian Kerja (SPK). Parahnya, 50 persen pekerja tidak diikutsertakan dalam BPJS Ketenagakerjaan dan BPJS Kesehatan.

Gaji pokok buruh di Pabrik Aice, Cikarang Barat, Kabupaten Bekasi sebesar Rp 3,5 juta. Kurang Rp 30 ribu dari Upah Minimum Kabupaten (UMK) Bekasi tahun 2017. Di balik janji manis gaji setara UMK, faktanya buruh di sana dikontrak seperti pekerja harian selama enam bulan sampai setahun.

Jadi, Rp 3,5 juta per bulan itu utopia. Semanis rambut nenek a.k.a gulali yang ingin dikulum eh sudah jatuh ke tanah lalu terinjak pula. Ambyar.

Gaji mepet UMK itu akan dipotong jika buruh tidak hadir, apapun alasannya termasuk sakit. Jika tidak mau dipotong, buruh harus menebusnya dengan mengambil jatah lembur sebagai ganti jam kerja. Ini mengangkangi UU No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan yang dengan tegas menyatakan bahwa jika pekerja berhalangan karena sakit, upah haruslah tetap dibayarkan.

Coba deh dipikir. Manusia macam apa yang kuat bekerja di pabrik 7-12 jam per hari, 25 hari setiap bulannya. Hari minggu, waktunya piknik pun sulit mereka dapat. Karena perusahaan bisa sewaktu-waktu meminta buruh untuk bekerja. Belum lagi jika shift malam di dalam pabrik dengan mesin-mesin pendingin. Hatipun bisa beku dibuatnya, Pak Bos!

PT AFI juga tidak memenuhi hak kesehatan seksual dan reproduksi para pekerja perempuan mereka terkait cuti haid dan cuti melahirkan. Ini bertentangan dengan Pasal 81 ayat (1) UU No 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan (UUK) yang menyebutkan, “pekerja/buruh perempuan yang dalam masa haid merasakan sakit dan memberitahukan kepada pengusaha, tidak wajib bekerja pada hari pertama dan kedua pada waktu haid.” Terkait dengan cuti hamil dan melahirkan, UUK juga memberikan secara normatif hak cuti hamil 1,5 bulan dan hak cuti melahirkan 1,5 bulan. Berdasarkan UUK, perusahaan sudah seharusnya memenuhi hak buruh dengan membayarkan gajinya secara penuh.

Berbagai kejadian pahit itu akhirnya membulatkan tekad Buruh PT AFI untuk membentuk serikat buruh; Serikat Gerakan Buruh Bumi Indonesia (SGBBI) pada Agustus 2017. Beberapa perubahan terjadi. Jam kerja berkurang, dari 49 jam per minggu menjadi 42 jam. Hari minggu libur. Tunjangan makan, transportasi dan shift diberikan. Tetapi perusahaan bersikeras tidak memberikan cuti hamil. Ketika menagih hak cutinya, karyawan malah disuruh resign.

Pada mogok kerja November lalu, Buruh PT AFI menuntut hak mereka untuk diangkat menjadi pekerja tetap dan mendapat perlindungan hak-hak dasar pekerja. Ini merupakan bentuk tekanan kepada Perusahaan untuk mematuhi regulasi, serta menjamin keselamatan dan kesehatan kerja. Jangan hanya obral janji-janji manis.

Sontak, ingatan manis saya tentang es krim ini berganti rasa. Kini bak dicekokin minum brotowali di kandang ayam. Pahitnya enggak hilang hilang. Bercampur bau tai ayam. Ilustrasi buah-buah lucu di bungkus kemasannya di mata saya terlihat seperti monster yang siap menerkam.

Atas kejadian ini, saya mendukung upaya buruh untuk mendapatkan kembali hak-haknya. Juga menolak Es Krim Aice untuk menjadi sponsor Asian Games 2018!

Mulai tulisan ini dipublikasi sampai kapanpun, saya tidak akan pernah lagi membeli es krim Aice. Selamat tinggal Aice!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s