Berbagi Cerita, Berbagi Berkat

Photography-Ethics-8
https://cdn.photographylife.com

Pagi ini saya bertekad pada hati kecil untuk menelurkan tulisan di blog setiap harinya. Tentang apa saja. Minimal satu tulisan per hari. Tekad ini bukan kali pertama, memang.

Hambatan untuk menulis pasti banyak. Tapi saya mencoba untuk terus memacu, agar hambatan-hambatan itu tidak menjadi alasan untuk tidak menulis. Karena apapun bentuknya, di dunia yang digital ini kita pasti akan menulis. Selemah-lemahnya iman ya nulis status di Facebook atau caption di Instagram lah ya. Haha.

Lalu berpikir lagi. Lha kalau status-status itu berserakan begitu, gimana kita bisa melihat kembali apa yang sudah kita tulis ya. Aha! Kan saya punya blog. Jadi, blog ini bisa menjadi laboratorium sekaligus museum kata, setidaknya untuk saya pribadi. Tinggal memompa konsistensi menulisnya saja. Yuk Huhah!

Nah, tulisan hari ini tentang kemacetan Jakarta ternyata direspon oleh Mbak Beti – Kakak Sepupu saya, mantan penghuni Jakarta yang kini menetap di Malang – melalui komentarnya di Facebook. Sebagai warganet yang berbudi luhur, kita pun saling berbalas komentar.

berbagi cerita

Saya pun spontan lanjut mengomentari tulisan Mbak Beti di kompasiana, yang ditautkannya di laman facebooknya. Saya berkomentar, Keren! Sebagai bahan perenungan yang apik. Bahwa kita dikasih nikmat sehat pun nikmat sakit oleh Tuhan dengan berbagai cara yang berbeda-beda. Di situlah kita diuji seberapa jauh bisa berbagi berkat. Maturnuwun sudah berbagi tulisan yang menguatkan ini, Bude Maria Clara Bastiani”.

Kami pun akhirnya saling balas komentar menguatkan. Bukan hanya di Facebook saja. Obrolan dilanjutkan di Whatsapp. Mbak Beti menanyakan kabar Bapak terakhir.

Ya, sejak Sabtu lalu, Bapak dirawat di rumah sakit, karena merasa tubuhnya sangat lemas. Sebelumnya, Bapak sempat sempoyongan kala wudhu di Masjid waktu ashar. Di rumah, fesesnya hitam seperti bercampur darah berwarna merah gelap.

Kami pun malamnya lekas membawa Bapak ke klinik dekat rumah. Dokter menyarankan untuk segera dibawa ke IGD rumah sakit untuk diperiksa lebih lanjut. Ibu berjaga di rumah sakit, pada hari keempat ditemani Pakde dari Jogja. Saya, Sisy, Ajeng dan Hafiz bergantian piket sepulang kerja.

Hari Senin Bapak berpindah rumah sakit untuk mendapatkan layanan endoscopy. Diagnosa awal terjadi pendarahan di saluran cerna. Sampai tulisan ini terbit dokter masih belum menemukan sumber pendarahan. Ketika awal masuk, kondisi Bapak belum stabil. Hb-nya masih di bawah 10, bahkan mencapai angka 6. Pagi tadi berangsur naik sampai 9.

Rekam medis lainnya pun masih belum menggembirakan. Masih ada beberapa angka merah. Artinya, Bapak masih perlu menunggu observasi dari dokter lebih lanjut.

Hari pertama dan kedua sejak masuk di rumah sakit pada Sabtu lalu, kamar Bapak hampir selalu dipenuhi oleh tetangga yang ingin membesuk. Sampai kami dengan sangat terpaksa harus memberitahukan ke para pembesuk, sama sekali tidak menolak dijenguk, tapi juga Bapak butuh istirahat untuk pemulihannya. Ketika saya pulang ke rumah pun, tetangga masih banyak yang menanyakan kondisi Bapak.

Telepon pintar kami – keluarga –  pun terus berbondong-bondong datang pesan whatsapp dari keluarga, tetangga, dan teman-teman. Semuanya menghibur dan menguatkan kami.

Ketika awal di rumah sakit bapak butuh darah untuk transfusi, teman-teman saya yang mempunyai golongan darah O langsung menawarkan diri untuk mendonorkan darahnya. Pada hari sabtunya, Frey, Fey dan Mbak Heny datang ke rumah sakit malam hingga dini hari. Frey menawarkan diri untuk donor. Meski saya tahu sekali, hari itu mereka sedang disibukkan dengan berbagai kegiatan diskusi.

Tulisan Mbak Beti membawa saya pada perenungan agak mendalam akan berkat yang diberikan oleh Tuhan kepada manusia, si makhluk ciptaannya ini. Saya percaya bahwa Tuhan memberikan berkat kepada manusia dengan berbagai tanda-tanda yang seringkali kita tidak sadari. Atau bahkan luput dari tangkapan indra kita.

Seperti yang saya tulis di atas, nikmat yang diberikan Tuhan kepada kita bisa dalam berbagai bentuk. Sakit ataupun sehat. Senang ataupun sulit. Bahagia ataupun sedih. Dari berbagai nikmat yang kita terima, kita diuji seberapa jauh kita bisa menjalaninya. Seberapa jauh kita bisa saling membagikan berkat bagi orang lain dan bahkan seluruh isi bumi tanpa kecuali.

Sejak kami kecil, Bapak dan Ibu selalu mengajarkan kami untuk berbagi dengan sesama dengan apapun yang kita punya. Itu dilakukan agar kita tidak hidup berlebihan. Karena semua yang kita alami; harta dan tahta yang kita duduki semuanya adalah titipan Tuhan. Kelak nanti akan kembali pada waktunya.

Bapak adalah orang yang supel dan sangat giat bermasyarakat sejak muda. Dari situ Bapak dipercaya menjadi Ketua RW di lingkungan tempat tinggal kami. Dalam bermasyarakat, Bapak sangat gemar membantu orang yang kesusahan. Ia tak pernah membiarkan orang di sekitarnya kesulitan. Pun dengan keluarga dan saudaranya.

Saya percaya bahwa berkat yang kita bagi untuk orang lain, akan berputar sehingga akan muncul lingkaran berkat – lingkaran kebaikan. Kebaikan-kebaikan yang kita tanam juga niscaya akan tumbuh menjadi kebaikan-kebaikan bagi semesta.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s