Menjadi Tuhan Sesaat

“Penulis adalah Tuhan bagi ceritanya.”

~Khrisna Pabichara

menulis

Membaca judulnya (saja) mungkin akan menyulut emosi jiwa. Ya enggak sih? Eh, mungkin bagi sebagian orang sih ya. Maklum lah, penistaan agama lagi marak banget jadi bahan dagangan politik kekinian. Sedikit Sedikit penistaan. Sedikit sedikit penistaan. Penistaan kok cuma sedikit? Haha!

Berhubung saya lagi tidak tertarik membahas yang begitu-begituan di hari minggu yang adem ini. Maka izinkan saya menuliskan tentang latihan “menulis fiksi: membuka dan menutup cerita” yang saya ikuti, pada akhir pekan di awal April lalu.

Acara yang diadakan oleh Katahati Production ini menghadirkan Sang Pangerang Kunang-Kunang Agus Noor dan Daeng Khrisna Pabichara. Juga hadir, Bamby Cahyadi sebagai moderator. Mas Agus berbagi tentang bagaimana cara membuka cerita. Sedangkan Daeng Khrisna menuturkan strategi menutup cerita.

“Tirulah kreativitas Tuhan. Dia suguhkan dua jalan bagi manusia: kebaikan dan kejahatan, terang benderang atau gelap gulita, lurus atau bengkok. Kita bebas menentukan alur hidup dan plot nasib masing-masing tokoh yang kita ciptakan,” tulis Daeng dalam materi pengaya berjudul “Menulis itu Meniru Kreativitas Tuhan”.

Artinya, dalam menulis bebaskanlah diri kita untuk menciptakan dan mengeksplorasi jalan hidup cerita dan tokoh di dalamnya. Bagi Daeng, menulis itu adalah gerbang kemerdekaannya. Di ruang lapang itulah ia bereksperimen dengan karakter dan kehendak tokoh yang ia ciptakan. Di fase itu jugalah, penulis menjelma menjadi Tuhan dalam ceritanya.

Daeng punya caranya sendiri dalam menghidupkan tokoh ciptaannya, yakni menghadirkan cerita tepat di depannya. Ajak tokoh-tokohnya berbicara. Dalam mengembangkan cerita ia selalu memegang erat petuah Umberto Eco, “kalau saya bercerita, saya akan menempatkan adegan yang saya tulis di depan saya. Hal itu membuat saya lebih akrab dengan apa yang terjadi dan membantu saya masuk ke dalam tokoh-tokohnya.” Jadi, pengaranglah yang harus merangsek masuk ke dalam tokoh-tokohnya.

Makanya Daeng menganalogikan Penulis sebagai Tuhan bagi karyanya. Karena ialah yang berperan penuh dalam setiap cerita-cerita yang dilahirkannya. Makanya kebebasan adalah hal yang utama. Membandingkan kreativitas Tuhan dalam proses penciptaan secara sesungguhnya memang berat lah ya. Apalah kita: hanya manusia. Tapi setidaknya filosofi kebebasan dan kemerdekaan dalam proses itu harus ditiru, untuk membuat karya yang jujur. Mengalir. Tanpa paksaan.

Saat itu Daeng yang kebagian peran membagikan ilmu menutup cerita, menuturkan bahwa mengakhiri cerita lebih sulit dari memulainya. Dibutuhkan konsentrasi, stamina, dan motivasi. Saya pun spontan merespon dengan senyum-senyum simpul agak kecut. Daeng rupanya melihat, lalu mempersilakan saya untuk berbagi.

Ya, saya punya masalah dalam hal konsistensi menulis fiksi. Beberapa cerita sudah saya tuliskan. Tapi berhenti di tengah jalan, apalagi ketika ingin menutup cerita. Saya suka menengok ke belakang lagi, kemudian ceritanya terbengkalai. Sering saya merasa kok ceritanya jadi melenceng dari harapan. Kayaknya lebih bagus begini, begitu. Akhirnya saya bumbui di sana sini. Setelah saya baca ulang jadi enggak cocok. Jadi gagal total. Haha.

Daeng memberi masukan, saat menulis mengalir saja, jangan pernah kembali ke kalimat awal. Sampai pada akhir cerita. Setelah cerita ditutup, tinggalkanlah dan endapkan. Lalu, sunting ulang, baru dibagikan ke kawan-kawan atau kerabat terdekat. Kalau bisa, jangan tergesa-gesa membagikannya ke media sosial. Nanti malah bisa menyurutkan semangat menulis. Apalagi kalau jari-jari tangan warganet lagi ada di masa produktif produktifnya menyemburkan makian. Kiamat kita!

Filosofi “berbagi” juga kudu disematkan dalam lubuk hati yang paling dalam. Karena esensi dari menulis itu adalah berbagi cerita kepada pembaca. Juga jangan melupakan unsur kepaduan, kedalaman, dan sekali lagi kebebasan.

Oh iya, Daeng juga berpesan untuk selalu membuka wawasan dengan terus membaca karya orang lain, dalam hal ini karya fiksi. Jadilah orang yang rakus membaca karya-karya penulis lainnya. Proses membaca ini menjadikan kita penulis yang kaya teknik dan rasa. Karena membaca dan menulis itu adalah sebuah siklus yang tidak dapat dipisahkan.

Maka, bagaimanapun cobalah menulis. Kapan lagi kita sekali-kali jadi Tuhan bagi tulisan-tulisan kita, ya kan. Itupun kalau percaya Tuhan itu ada. He he he.

 

 

2 Comments Add yours

  1. dian berkata:

    Minooorrr… super sekali kau nak. Yooo… ditunggu tulisanmu dibukukan. Mainkan min?

    Disukai oleh 1 orang

  2. syakurian berkata:

    Minooorrrrr…. mainkaaaannn sudahh minnn!

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s