Mak Gedubrak

toilet duduk

Dul Sani sangat tersanjung kalau disebut sebagai orang yang paling kekinian. Hidungnya kembang kempis, senyumnya merekah, menyambut puja puji yang berdatangan. Pada awal tahun 2000-an dialah orang pertama yang punya akun friendster sekelurahannya, kala itu. Dia juga satu-satunya orang yang kuliah di luar kota Macetos dengan beasiswa karena prestasinya. Bukan cuma itu, satu kelurahan tempat dia tinggal juga mengenalnya sebagai satu-satunya pemilik motor matic, ketika lagi booming-booming-nya. Nah, dari semua hal kekinian di masanya itu dia selalu menutupi satu hal: tidak bisa buang air besar di kloset duduk. Padahal, saat itu orang baru bisa dibilang keren kalau bisa BAB di kloset duduk. Orang-orang di Kelurahannya semuanya BAB sambil jongkok di kloset duduk.

Sebenarnya wajar saja kalau belum banyak orang yang BAB sambil duduk di kloset duduk. Pasalnya, saat itu di Indahnesios kloset duduk masih menjadi sesuatu yang asing. Maklum dunia juga masih mengalami zaman peralihan dari kloset jongkok ke kloset duduk. Karena kloset duduk ditemukan sebagai inovasi BAB yang lebih nyaman dan aman. Selama ini, penggunaan kloset jongkok di Indahnesios meningkatkan jumlah korban kepleset di kloset. Juga, banyak orang yang mengalami ambeyen, jika berlama lama jongkok di kloset jongkok. Jelas ini akan berpotensi memperparah kondisi kesehatannya.

Tapi bukan Dul Sani namanya kalau tidak pandai berkelit menutupi kelemahannya. Dia selalu berhasil meyakinkan orang-orang di kelurahannya, bahwa dialah satu-satunya orang yang bisa menggunakan kloset duduk. Dia pun pernah sibuk keliling kota untuk jadi narasumber berbagai seminar dan workshop tentang “meninggalkan kebiasan jongkok di kloset duduk”. Namanya jadi semakin melambung setelah diwawancarai media dan muncul di televisi dan koran-koran nasional.

“Ya, ini adalah sesuatu yang harus dibiasakan. Jangan jadi bangsa yang norak gitu deh ya. Bangsa lain sudah bisa BAB di bulan. Kok ya kita masih jongkok di kloset duduk. Please deh!,” tuturnya dengan berapi-api dan meyakinkan kepada wartawan yang saat itu meliputnya.

Setelah wara wiri terpampang nyata di berbagai media nasional dan lokal, Dul Sani pernah diundang ke Balaikota Provinsi Macetos untuk mempraktikkan cara BAB sambil duduk di closet duduk. Ehm, dia pun tidak kehabisan akal. Dia menyuruh peserta yang hadir untuk mempraktikkannya. Dul Sani memandu dengan detail. Seluruh teori tentang cara duduk di kloset dikeluarkannya dengan gaya yang sangat komunikatif. Semuanya terkesima, tidak satupun ada yang memintanya untuk mempraktikkan langsung, termasuk Gubernur.

“Masalah jongkok di kloset duduk ini adalah masalah mental yang harus kita pecahkan bersama. Di Negara yang sudah lama merdeka ini, apalagi Macetos sebagai Ibukota Indahnesios, masa iya masyarakatnya masih terbelakang. Ayolah kita bahu membahu mengubah kebiasaan antah berantah ini.”

Itulah salah satu kutipan pidato Dul Sani di Balaikota. Pidato ini berhasil memukau hadirin dan hadirot. Bahkan ia pun dinobatkan menjadi Duta Kloset Duduk Provinsi Macetos. Dia pun dilirik oleh berbagai perusahaan kloset duduk untuk menjadi bintang iklannya. Dul Sani jual mahal.

Dia mendapat kesempatan studi banding ke Kota Tetanggos.

Pada suatu ketika, setelah ia menyantap segala makanan aneka rupa di Balaikota Tetanggos perutnya bergejolak. Ia pun sesegera mungkin berlari menuju toilet. Ah dia benci setengah mati. Ternyata ia harus berhadapan dengan kloset duduk. Ia melepas sepatu trendinya. Perlahan ia injak bibir kloset. Hap kedua kakinya bertengger di kloset duduk itu. Hap.. Hap.. Hap… Wajahnya mulai berkeringat, mengingat berat badannya yang menggapai angka 87, sama sekali enggak menyenangkan bagi si kloset.

Setelah hampir selesai menurunkan segala kotorannya, ia mencari tuas untuk menggelontorkan, dia memutar badannya. Hap, dia agak tergelincir. Ternyata kloset duduk yang digunakannya belum tertanam di lantai. Hanya beberapa baut terpatri di sana. Memang, kloset itu hanya bisa digunakan duduk saja. Kalau jongkok tentunya akan memikul berat badan si pengguna kloset.

Mak Gedubrak.. Kloset yang digunakannya patah. Baut-baut tidak mampu menopang setengah berat badan Dul Sani.

Bunyi di dalam toilet itu menyeruak ke luar. Orang-orang berhamburan ke depan Toilet.

“Ada apa Pak Dul?” Salah seorang memberanikan diri bertanya.

Dengan santai Dul Sani menjawab, “tidak ada apa-apa. Saya hanya melakukan uji coba kelayakan kloset di sini. Sepertinya pemasangannya tidak sesuai prosedur ini ya.”

Segera dia tekan tuas pendorong pembuang kotorannya. Byurrr…. Kotorannya pergi bersama segala kebohongan-kebohongannya.

Dul Sani keluar dari Toilet dengan mengumbar senyum termanisnya. Menyapa para fans-fansnya.

5 Comments Add yours

  1. dianyuliasri berkata:

    Wuaaahhh…
    Sbg cerpen pertama, ini sungguh owsem menukik tajam mas Minoros. Aku kagum padamuh!

    Suka

    1. syakurian berkata:

      Ayo ayo kasih masukannnn minnnnn!

      Suka

  2. jurnaljarmo berkata:

    Menghibur. Bikin ketawa kelakuan Dul Sani.

    Suka

    1. syakurian berkata:

      Terima kasih sudah mampir bro. Salam kenal!

      Suka

      1. jurnaljarmo berkata:

        Salam, dan salaman.

        Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s