Hari Tari Sedunia 2018: Yuk Mengenal Tari!

3a
Kembang Girang berpose sebelum manggung membawakan Satya Brastha di National Folklore Festival, UI awal tahun ini.

Linimasa akun facebook saya hari ini dihinggapi status respon atas persekusi yang dilakukan oleh sekelompok pemuda apalah apalah yang meneriakkan ganti apalah apalah di hari bebas kendaraan berasap di Jakarta. Saya pun geram, lalu bergegas meresponnya dengan sajak persekusialan!

Eits, kekesalan kita terhadap tindak persekusi itu hal yang sangat wajar. Sudah seharusnya tindak seperti itu tidak dilakukan oleh kita yang mengaku manusia ini. Nah tapi kekesalan kekesalan tadi itu jangan sampai membuat hari libur kita muram dan gelap ya. Apalagi sampai lupa kalau hari ini hari apa. Hari minggu! Yak betul. Selain hari minggu, hari ini juga adalah hari tari sedunia.

Tari. Mungkin adalah sebuah empat huruf membentuk kata yang mungkin tidak akan mengalir deras dalam pikiran dan rasa saya hari ini. Sisy adalah orang berjasa meniupkan nafas tari ke dalam tubuh saya, perlahan mengalirinya hingga rasuk dalam nadi nadi jiwa.

Ya, enam tahun lalu saya adalah orang awam soal tarian. Meskipun saya suka seni, namun sangat kesulitan untuk menikmati tarian. Itu semua perlahan bergeser menuju titik ubah ketika Sisy mulai latihan tari Bali di Lembaga Kesenian Bali (LKB) Saraswati; Lembaga Tari Bali di Jakarta yang tahun ini sudah berusia 5 dasawarsa. Lima puluh tahun!

Proses enam tahun Sisy ngelmu di Saraswati ternyata juga membuat saya berproses pula. Setiap dua minggu sekali saya mengantar Sisy ke tempat latihannya di TIM. Juga, saya tidak pernah absen hadir setahun dua kali pementasan ujian kenaikan tingkatnya. Dari sinilah saya menemukan bahwa belajar tari bukan hanya proses pertukaran ilmu antara guru dan murid saja. Tapi interaksi-interaksi erat individu individu di dalamnya yang akhirnya melahirkan keluarga baru: simpul-simpul pertemanan dan persahabatan.

Seiring berjalannya waktu, Sisy dan beberapa kawannya membentuk sebuah komunitas tari bernama Kembang Girang. Girang di sini berarti Gembira Riang. Saya pun beruntung bisa diberi kesempatan untuk menjadi bagian dari komunitas itu. Meski enggak bisa nari, hahaha. Ya, nge-crew bantu-bantu fota foto, tulas tulis sambil haha hihi begitulah. Oh iya, juga jadi asistennya Sisy untuk ngabisin makanan, haha!

Kembang Girang ini unik; terdiri dari beragam latar belakang. Membaur jadi satu tanpa pandang segala perbedaan. Tua, muda, kurus, gemuk semua menyatu padu riang gembira menyelaraskan wirasa, wiraga, dan wirama. Selain itu, pekerjaan mereka juga beragam. Dari mulai pegawai negeri sipil (pns), dokter bedah, bidan, guru pra sekolah, pegawai swasta, ibu rumah tangga, sampai anak sekolah dan kuliahan ada di sana. Kembang Girang seringkali manggung di berbagai acara nasional. Terakhir, mereka menyabet juara III National Folklore Festival di Universitas Indonesia.

Di mata saya, Kembang Girang ini hebat. Karena secara sadar maupun tidak, mereka telah mematahkan konstruksi orang kebanyakan, bahwa penari harus langsing, gemulai, dll dll. Saya melihat Kembang Girang malah menginspirasi orang-orang bahwa menari itu bisa dilakukan oleh semua orang tanpa kecuali. Woi, orang gembul, anak-anak, orang tua, semua juga bisa menari bagus! Terus konsisten latihan dengan riang bergembira adalah kuncinya.

Nah, ikut berproses selama enam tahun ini tentunya membuat saya jadi penikmat tarian yang lapar literasi. Saya jadi gemar mengeksplorasi sejarah dan makna tarian. Bagi saya, tarian lebih dari sekadar gerak tubuh nir-makna. Di mata saya, tarian menjadi sebuah cipta olah tubuh dan rasa menyenandungkan irama yang didalamnya mengalirkan makna. Jika kita menilik dari segi semiotika, tarian adalah salah satu bentuk komunikasi yang bernilai seni. Setiap serangkaian geraknya pasti ada artinya.

Hari Tari Sedunia

Makanya hari tari sedunia 2018 pada hari ini menjadi medium pengingat bagi saya untuk terus mengenal lebih dalam tari; membuka segala indra mengulik literasi tari sembari menikmatinya.

Bicara soal Hari Tari Sedunia, pastinya tak kenal maka lolos dari ingatan. Makanya, yuk kenalan! Dikutip dari nationalgeographic.co.id, Hari Tari Sedunia pertama kali diperkenalkan pada tahun 1982 oleh Lembaga Tari Internasional bernama Counseil Internasional de la Danse (CID). Tujuannya yaitu untuk mengajak seluruh warga dunia berpartisipasi menampilkan tarian-tarian dari negara mereka yang sangat beragam itu.

Pada tahun 2003, Presiden CID Professor Alkis Raftis saat itu mengemukakan kegundahannya akan pelestarian budaya menari yang sangat minim. Tidak ada lembaga atau organisasi yang didanai secara memadai, pendidikan seni tari sangat minim. Hal yang demikian ia nilai berpengaruh juga pada ketertarikan warga untuk menekuni bidang tari secara serius.

Untuk itu pada awal tahun 2007, promosi merayakan Hari Tari Sedunia semakin gencar dilakukan. Saat itu CID berfokus kepada anak-anak; dengan mengajak anak sekolah berpartisipasi dalam lomba menulis esai tentang tarian di negara mereka, melukis bertemakan tari, bahkan lomba menari yang dilakukan di jalanan. Hal ini dimaksudkan agar budaya berkesenian terutama tari merasuk kepada relung jiwa manusia manusia muda.

Nah, yuk jadikan Hari Tari Sedunia 2018 ini menjadi momentum kita untuk kepo soal tarian. Bibit kepo ini semoga bisa tumbuh menjalar merasa untuk mengenal lebih dalam tari. Tenang, kalau memang tidak ingin menari tidak apa-apa kok, selemah lemahnya iman kita gali literasi soal tari-tarian. Nusantara raya ini banyak tari-tarian lho. Semuanya kece!

 

2 Comments Add yours

  1. dian berkata:

    Kak… Terharu aku. Jiwa tarimu rupanya setinggi jiwa tariku, meski aku hanya mencerminkannya dalam hati. Takut dimarahin pak Kompyang.
    Semangat Miinnn…
    Terus menulis, terus menginspirasi!

    Disukai oleh 1 orang

    1. syakurian berkata:

      Minnnn…. Dirimu dicariin pak kompyang terus lho. Diajakin duet sama ndeknene. Yuk ndang nari minnnnn

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s