Ngurus ISBN Enggak Selalu Mulus!

 

 

perpustakaan nasional salemba
Sumber foto: http://www.dellafirayama.com

Heran. Entah kenapa dari dulu setiap urusan ngedaftarin ISBN buku ke Perpusnas selalu enggak berjalan mulus. Eh sebentar, tahu ISBN kan ya? Iya International Standard Book Number. Itu lho penomoran internasional yang bersifat unik terdiri dari deretan angka 13 digit, sebagai pemberi identifikasi terhadap satu judul buku yang diterbitkan oleh penerbit. Agar buku terbitan penerbit tercatat di Perpustakaan Nasional dan lebih mudah dikenali dalam proses sirkulasi.

Nah Saya hitung-hitung sudah tiga kali urusan per-ISBN-an ini selalu harus bolak balik. Mungkin jalan jodoh saya dengan Perpusnas perlu dijalani berliku.

Pertama, pas ngurusin buku tentang politik untuk Gempita Books 8 tahun silam. Saya kudu bolak balik ke rental komputer depan Perpusnas untuk ngeprint persyaratannya. Syet dah, ada aja yang kurang.

Kedua, waktu ngedaftarin ISBN buku PKBI. Kami sudah mengirimkan melalui email lebih dari seminggu. Belum ada jawaban. Sampai ketika staf perpus PKBI datang langsung, bilang bahwa harus dikirim melalui email lagi, karena mereka belum terima. dan ada dokumen yang kurang. Alhasil staf perpus kudu bolak balik ke sana. Sampai akhirnya berhasil setelah pingpong berkali-kali. Hmmm, harus kayak gini ya?

Terakhir adalah hari ini. Siang tadi saya ngurus langsung bersama Bung Muhe ke sana untuk mendaftarkan ISBN buku antologi puisi “Sesat Wal Afiat” kami. Semua dokumen sudah di-print kilat di rental komputer depan perpusnas, dengan perjuangan menembus panas Jakarta yang kian hari kian aduhai. Surat permohonan ISBN, halaman judul, kata pembuka, daftar isi; sudah lengkap semua. Ternyata masih ada lagi yang kurang: bukti legalitas penerbit (akta notaris). Petugas juga bilang bahwa saat ini pengajuan ISBN hanya bisa via online, meskipun kenal sama Via Vallen.

Pada saat saya ngurus ISBN untuk PKBI, sudah mencoba mendaftar via online; hasilnya selalu gagal. Makanya coba dikirimkan via email ke isbn@perpusnas.go.id sampai tiga kali. Sudah tercatat dalam inbox email resmi PKBI, bahwa email sudah dikirimkan. Tapi pihak perpusnas selalu bersikukuh belum sampai. Sampai akhirnya kami bawa berkasnya untuk mengurus langsung di tempat. Kurang lebih 2-3 minggu waktu kami habis buat ngurus beginian. Huft gak sih?

Untuk yang terakhir ini kami ditolak tanpa sekalipun petugas melihat berkas kami. Apes! Alhasil kami kudu balik lagi! Tapi yang repot ya kudu ngurus akta notaris. Karena sebagai penerbit indie kita ya belum punya begitu begituan dong ah.

Hmmm.. Kembali ditolak ketiga kalinya oleh perpusnas, hati saya sudah sekuat baja. Meski agak remuk, dikit. Saat ingin pulang, tangan saya sigap mengambil leaflet ISBN di meja resepsionis.

Dari leaflet tersebut setidaknya ada empat prosedur pengajuan ISBN: (1) Mengisi formulir surat pernyataan; (2) Menunjukkan bukti legalitas penerbit (akta notaris, surat keputusan, akta kesepakatan/kesepahaman (MoU) atau surat-surat resmi yang bisa dipertanggungjawabkan; (3) Membuat surat permohonan di atas kop surat resmi penerbit atau badan yang bertanggungjawab; (4) Melampirkan halaman judul, halaman balik halaman judul (copyrights), daftar isi, dan kata pengantar dari buku yang akan diterbitkan.

Oke. Dari kasus saya yang ketiga ini, no 3 dan 4 sudah dilengkapi. Hanya kurang no 1 dan 2. Permasalahannya adalah kenapa harus online? Sedangkan kami sudah membawa berkas ke sana semua. Dalam leaflet juga tercantum bahwa media pengajuan ISBN ada 3, yaitu (a) online; (b) layanan di tempat (onsite); (c) email.

Pertanyaan saya kemudian, Pertama itu kan harusnya bisa dilakukan pendaftaran ISBN di tempat sesuai dengan poin b. Kenapa harus selalu online, kalau emang masih suka error? Kedua, kalau memang ada yang kurang, memang tidak ada mekanisme untuk melengkapi ya? Jadi, waktu kami yang terbuang untuk mengurus ISBN ini bisa ada gunanya gitu lho. Petugas malah dengan santainya bilang bahwa semua harus lewat online. Lha, waktu saya ngurus untuk PKBI sudah dicoba cara online dan email, dan masalahnya ada di perpusnas. Jadi akhirnya kita ngurus onsite juga yang kudu bolak balik juga. Nah ini sekarang dipaksain online lagi? OMG!

Ya.. ya.. ya.. Penghargaan terhadap sebuah proses ini memang masih jadi permasalahan ya di negara kitah tercintah ini. Dan juga penggunaan teknologi yang maha maju tapi tidak dipikirkan alternatif solusi jika terjadi masalah, itu juga jadi PR besar yaa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s