Pendidikan Seharusnya Memanusiakan Manusia

on

whatsapp-image-2017-05-02-at-3-06-37-pm

Hari ini 2 Mei, rakyat Indonesia memperingati Hari Pendidikan Nasional berdasarkan Hari Ulang Tahun pejuang pendidikan Indonesia Ki Hadjar Dewantara.

Sejarah pendidikan di Indonesia tak bisa dilepaskan dari perjuangan pelopor pendidikan bagi rakyat Indonesia di zaman penjajahan pemerintah kolonial Belanda yang bernama asli Raden Mas Soewardi Soerjaningrat ini.

Ki Hadjar bukan hanya seorang akademisi kebanyakan, yang cukup puas bercokol di menara gading. Ia adalah perpaduan sosok akademisi dan aktivis yang dikenal berani menentang berbagai kebijakan pendidikan pemerintah Hindia Belanda yang diskriminatif terhadap kaum pribumi/bumiputera. Kala itu Pemerintah Belanda hanya memperbolehkan anak-anak kelahiran Belanda dan kaum priyayi untuk mengenyam pendidikan.

Kritik kerasnya menyebabkan ia diasingkan ke Belanda bersama dua rekannya Ernest Douwes Dekker dan Tjipto Mangoenkoesoemo. Trio pejuang ini kemudian dikenal sebagai “Tiga Serangkai”.

Setelah kembali ke tanah air, Ki Hadjar kemudian mendirikan sebuah lembaga pendidikan Nationaal Onderwijs Instituut Tamansiswa atau dikenal dengan Perguruan Nasional Tamansiswa, 3 Juli 1922 di Yogyakarta. Sekolah ini berdiri sebagai kritik Ki Hadjar terhadap hegemoni sekolah kolonial saat itu. Menurutnya, pendidikan yang diterapkan Pemerintah Hindia Belanda terlalu intelektualistik dan materialistik, sehingga tidak dapat menjawab kebutuhan bangsa saat itu. Sistem pendidikan seperti ini berpotensi melahirkan anak didik yang individualis, tidak bernalar kritis dan jauh dari nilai-nilai humanis.

Menurut Ki Hadjar, pendidikan dan pengajaran seyogyanya memerdekakan manusia secara lahiriah dan batiniah dan selalu relevan untuk segala zaman. Maka tak heran Ki Hadjar sangat menghargai sisi daya jiwa manusia, yakni cipta, karsa dan karya. Karena pada dasarnya pendidikan bertujuan untuk membantu peserta didik menjadi manusia yang merdeka. Manusia yang bebas dari berbagai belenggu penjajahan.

Ki Hadjar mengenalkan tiga prinsip /Patrap Triloka yang ia terapkan dalam Tamansiswa, yaitu ing ngarsa sung tuladha (yang di depan memberi petunjuk), ing madya mangun karsa (di tengah membangun prakarsa/semangat), tut wuri handayani (dari belakang mendukung). Patrap Triloka ini dikembangkan Ki Hadjar dari konsep pendidikan progresif yang diperkenalkan oleh Maria Montenssori di Italia dan Rabindranath Tagore di India.

Hari Pendidikan Nasional ini menjadi momentum untuk menghadirkan kembali pendidikan yang memanusiakan manusia. Ini juga merupakan otokritik bagi sistem pendidikan kita saat ini yang mayoritas masih sangat mementingkan hasil nilai kuantitatif akademik-kognitif belaka dibandingkan dengan menghargai dan memaknai proses pencapaiannya. Seluruh proses pendidikan hanya ditentukan oleh hasil ujian akhir, yang secara tidak sengaja menebarkan rasa takut pada anak. Belum lagi, waktu belajar yang panjang, tugas pekerjaan rumah dan kegiatan di luar jam sekolah yang sangat membebani peserta didik. Kalau sudah begini, kegiatan berbagi dan menyerap ilmu bukan menjadi kegiatan yang menyenangkan.

Selain itu, anak didik dirancang untuk menjadi robot pekerja yang nantinya bisa bersaing di pasar kerja. Sistem pendidikan telah terdistorsi sedemikian rupa untuk kepentingan kapital. Pendidikan tak ubahnya menjadi alat akumulasi keuangan.

Maka dengan sistem pendidikan semacam ini, bullying hingga saat ini masih terus marak di sekolah. Anak yang memiliki latar belakang suku, agama, ras, orientasi seksual yang berbeda kerap kali menjadi korbannya. JIka dibiarkan terus, akan memupuk kebencian yang berujung pada tindak intoleran yang membahayakan kesatuan bangsa.

Sementara itu, Guru juga menggunakan otoritasnya sebagai pendidik dengan cara-cara represif demi untuk menjaga wibawanya. Masih banyak pula yang memberlakukan hukuman fisik dengan alasan pendisiplinan. Oleh karenanya, kekerasan selalu hinggap dan membudaya di dunia pendidikan.

Padahal cara demikian itu jauh melenceng dari filosofi pendidikan yang diperkenalkan oleh Ki Hadjar Dewantara, pendidikan yang membangkitkan karakter bangsa – pendidikan yang humanis – pendidikan yang memerdekakan. Bagi Ki Hadjar Dewantara pendidikan tidak boleh dimaknai sebagai paksaan. Pendidikan harus menyeimbangkan ketentraman, kehidupan batin dan rasa cinta tanah air. Nilai-nilai kebangsaan yang menjadi muatan konsep pendidikan Ki Hadjar tertuang dalam Pancasila, yang menjadi pedoman hidup berbangsa.

Ujaran kebencian, kekerasan dan berbagai tindak intoleran yang saat ini mulai merasuki peserta didik bahkan pada anak usia dini harus menjadi perhatian kita bersama. Apakah generasi seperti ini yang ingin dihasilkan oleh sistem pendidikan kita?

Untuk merenungi dan mereproduksi perjuangan Ki Hadjar Dewantara yang memperjuangkan pendidikan sebagai sarana memerdekakan diri dari penjajahan, Eindscloth berziarah ke makam Ki dan Nyi Hadjar Dewantara, anak-anaknya beserta keluarga Taman Siswa di Taman Wijaya Brata, Yogyakarta (30/4).

Ziarah ini menjadi medium penguat bahwa ‘pendidikan adalah koentji’ untuk memanusiakan manusia, seperti konsep pendidikan yang dipelopori oleh Ki Hadjar Dewantara.

Selamat memaknai Hari Pendidikan Nasional. Mari belajar dan mengajar dengan riang gembira!

 

Pernah dipublikasi di http://www.eindscloth.wordpress.com– 2 Mei 2017

2 Comments Add yours

  1. dianyuliasri berkata:

    Mantap sekali kakak Min, kita bikin sekolah aja lah yuk.. sekolah bahagia yg bikin anak senang belajar.

    Suka

    1. syakurian berkata:

      Hayuk kita bikin sekolah yuk. Sepakat, inti dari belajar dan mengajar itu memang kudu bahagia. Karena proses belajar adalah kuncinya.

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s