Sekolah Liar, Bentuk Perlawanan Ki Hadjar

Taman Siswa
Sumber Foto: http://bangkudepan.com

Pendidikan seyogyanya tidak berhenti dibicarakan ketika tanggal 2 Mei berlalu. Ia harus terus didengung-dengungkan sebagai senjata melawan penindasan. Jika menilik sejarah, Ki Hadjar Dewantara telah melakukannya dengan mendirikan Taman Siswa di Yogyakarta pada 3 Juli, 96 tahun silam.

Taman Siswa merupakan upaya Ki Hadjar untuk mengkritisi akses pendidikan di Hindia Belanda yang diskriminatif; hanya anak-anak priyayi yang diizinkan untuk sekolah. Melalui Taman Siswa, Ki Hadjar mencita-citakan pendidikan untuk semua kalangan tanpa terkecuali. Namun, upaya Ki Hadjar tentunya tidak berjalan mulus. Saat itu, Taman Siswa dan semua sekolah swasta manapun yang tidak diakui oleh lembaga pemerintah dianggap sebagai sekolah liar.

Bahkan pada tahun 1923, pemerintah mengeluarkan peraturan berupa ordonansi pengawasan sekolah swasta. Aturan ini ternyata dianggap belum memenuhi harapan pemerintah Hindia Belanda dalam menuntaskan permasalahan sekolah liar.

Sepuluh tahun berselang, pemerintah Hindia Belanda mengeluarkan aturan baru yaitu Ordonansi Sekolah Liar. Peraturan ini mensyaratkan lembaga pendidikan haruslah mendapat izin dari pemerintah. Parahnya, pemerintah dapat dengan serta merta mencabut izin tersebut apabila dianggap melanggar berbagai ketentuan yang ditetapkan.

Selain itu, aturan ini juga mengatur urusan terkait pengajar, yakni para pengajar diharuskan membuat laporan kepada pemerintah setempat. Bahayanya, jika dilanggar maka akan kena hukuman penjara selama delapan hari atau denda 25 gulden. Apabila yang bersangkutan masih tetap melakukan kegiatan mengajar, dapat dikenakan hukuman satu bulan penjara dan denda 100 gulden.

Kondisi ini membuat Ki Hadjar gerah. Ia lalu protes dengan mengirimkan telegram kepada Gubernur Jenderal De Jonge untuk membatalkan ordonansi tersebut. Taman Siswa dengan tegas mengancam akan melakukan pembangkangan apabila peraturan tersebut tidak dicabut.

Namun kemudian pemerintah Hindia Belanda tidak menanggapinya. Ordonansi sekolah liar tetap diberlakukan. Taman Siswa tidak sekalipun gentar untuk membangkang; bahkan terus berkembang pesat ke luar Jawa Tengah.

Seiring perkembangannya, sekolah liar kian diminati; salah satunya karena berhasil menanamkan rasa bangga akan budaya asli dalam diri setiap siswanya. Laporan tahunan pemerintah Hindia Belanda tahun 1936 mengenai pendidikan mencatat  sebanyak 1.663 sekolah liar yang menerima 114 ribu murid. Setahun kemudian, meningkat menjadi 1.961 sekolah dengan jumlah murid 129.565.

 

Sumber: https://historia.id/modern/articles/ki-hajar-dan-sekolah-liar-v5zoP

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s