Diskriminasi Hantui Perempuan Pengendara Ojek Online

gender
Sumber foto: http://www.ruangjuang.wordpress.com

Sekitar dua hari yang lalu saya berangkat dari rumah ke kantor naik ojol (Ojek Online) yang dikendarai perempuan. Selama perjalanan ber-ojol ria, ini kali kedua saya diboncengi pengendara ojol perempuan.

Tanpa rasa canggung sedikitpun saya pun langsung membonceng. Obrolan pun mengalir. Pengendara ojol perempuan ini membahasakan dirinya sebagai Mpok. Sebut saja Mpok Minah. Bisa nama sebenarnya, bisa juga tidak.

Langsung terlintas dalam pikiran saya untuk menanyakannya tentang perilaku penumpang yang suka membatalkan pesanan ketika dapat pengendara perempuan.

“Mpok, sering dibatalin enggak sama penumpang terutama yang laki-laki?”

“Kalo saya alhamdulillah enggak pernah sih Mas. Tapi temen temen saya, driver cewek juga banyak yang cerita kalo pada dibatalin.”

Mpok Minah bilang kalau alasan pembatalannya macam-macam, salah satunya tidak percaya kalau diboncengi perempuan. “Iya, biasanya masalah nyetir lah yang suka jadi alasan. Kalo perempuan, katanya lelet bawanya. Nanti bisa terlambat lah, itu lah,” tuturnya. Ada juga yang bilang kalau dibonceng perempuan kurang nyaman.

“Padahal kan kita kenapa bisa turun ngojek gini ya karena nyari rejeki. Kalo diginiin (didiskriminasi), pengaruh banget ke pemasukan. Padahal banyak juga yang single parent.”

Itu belum selesai. Diskriminasi juga menghantui pengendara perempuan ojol difabel. Seringkali para penumpang enggan naik hanya karena melihat keterbatasan fisik pengendaranya.

“Wah apalagi kalo temen difabel, baru dateng, terus tau kalo punya keterbatasan langsung dibatalin. Akhirnya sehari hanya narik cuma di bawah 5 tarikan sehari. Karena banyak ditolakin,” tutur Mpok Minah.

Mpok Minah tidak tinggal diam. Dia pun melaporkan kondisi diskriminatif ini ke manajemen ojol tempatnya bernaung. Hal ini masih menjadi bahan pembicaraan.

Lebih lanjut, Mpok Minah jelasin ke saya kalau selain mengalami diskriminasi dari penumpang, para pengendara ojol perempuan kerap didiskriminasi kawannya: pengendara ojol laki-laki.

“Di basecamp, driver cewek makanya males gabung sama tongkrongannya cowok, karena pasti gak enak (nyaman). Belum belum udah ditanyain, situ janda ya? Janda apa enggak ya bukan urusan dia!”

Bahkan karena terlampau sering hal seperti ini jadi bahan candaan yang dianggap wajar antar pengendara ojol.

Saya pun geram berkali kali. Edan ya, udah sesama profesi aja masih diteror pertanyaan status yang notabene urusan pribadi. Emang enggak ada yang lebih penting untuk jadi bahan obrolan ya wahai laki laki?

Hal yang kemudian jadi renungan saya yaitu kondisi masyarakat kita masih jauh mempraktikkan perilaku adil gender dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan Perempuan seringkali ditempatkan sebagai objek yang lemah. Bukan subjek yang berdaya.

Yuk lah ubah pola pikir kita yang mendiskriminasi perempuan begini. Sadari, simpel aja dulu deh ya, kalau bukan karena perjuangan perempuan saat melahirkan, kita kita para laki-laki ini enggak bakal ada di dunia. Masih mau mikir kan? Yuk ah!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s