Tempat Duduk Prioritas dan Empati yang Hilang

Kursi Prioritas
Sumber Foto: http://www.secemerlangpagi.files.wordpress.com

Matahari masih bersiap-siap menjalankan tugasnya, ketika saya menginjak pedal gas kendaraan roda empat menuju kantor istri saya Sisy di kawasan Monas, Jakarta Pusat. Seperti biasa, dari sana saya melanjutkan naik Bus Trans Jakarta menuju arah Blok M.

Saat itu bus yang saya tumpangi adalah jenis bus tunggal, tempat duduknya menghadap ke depan seperti metro mini. Meski waktu belum beranjak dari pukul 6, bus sudah cukup terisi. Hanya ada beberapa tempat duduk reguler yang tersisa. Tapi yang saya heran mengapa Tempat Duduk Prioritas (TDP) terisi penuh. Herannya, tempat itu diduduki oleh penumpang reguler, laki-laki muda, bukan penumpang yang termasuk dalam kategori prioritas.

Oke, mari kita ingat bersama-sama siapa saja sih yang berhak menggunakan TDP itu? Ya betul, mereka adalah penyandang disabilitas, perempuan hamil, anak di bawah lima tahun, dan orang lanjut usia. Cukup jelas kan ya? Tapi kenapa masih saja ditempati oleh penumpang reguler? Semua penumpang transportasi umum (KRL dan Bus Trans Jakarta) saya rasa sudah cukup familiar dengan aturan TDP ini, kecuali pura-pura enggak tahu.

Mungkin kita sudah sering membaca bahkan mengalami langsung gimana sulitnya TDP ini dipraktikkan di masyarakat kita. Saya pernah hampir baku hantam di KRL gara-gara cuma meminta secara baik-baik seorang pemuda yang pura-pura tertidur untuk mempersilakan tempat duduknya kepada seorang ibu hamil. Padahal jelas, pemuda itu duduk di TDP. Sang pemuda gagahl berani itu enggak terima menyerahkan tempat duduknya dengan alasan masih jauh.

Saya pun menarik tangannya, dan mempersilakan ibu hamil untuk duduk. Dia bersungut-sungut kepada saya, dan saya hadapi dengan tatapan tajam ke matanya tanpa bersuara sedikit pun. Penumpang yang lainnya pun akhirnya ikut mengomeli dan menyoraki sang pemuda.

Itu hanya salah satu contoh dari banyak cerita menyebalkan tentang perampasan hak pengguna TDP di KRL dan Bus Trans Jakarta. Saya jadi berpikir, kok ya susah banget ya mempersilakan orang lain yang memang lebih berhak duduk di TDP. Ke mana perginya empati kita ya? Saya sih percaya bahwa manusia itu makhluk sosial. Artinya, kita tidak bisa hidup tanpa orang lain. Makanya, empati menjadi kunci agar kita kita manusia ini saling bergandengan hati.

Nah, pertanyaannya kemudian, bagaimana jika bus Trans Jakarta atau KRL dalam keadaan kosong, bolehkah kita menduduki TDP? Kalau saya sih tidak! Bagi saya, TDP itu hanya dapat ditempati oleh orang yang berhak menempatinya. Meskipun kosong kita – penumpang reguler – tidak berhak untuk mendudukinya. Beda cerita kalau kita sedang dalam kondisi sakit, yang mengharuskan kita untuk duduk. Kita bisa menggunakan TDP yang kosong itu, dengan catatan tetap memberikannya pada yang lebih berhak jika ada yang membutuhkan.

Pertanyaan lain, bagaimana juga jika ada penumpang prioritas yang membutuhkan duduk namun sulit untuk menjangkau TDP? Nah ini juga sering kejadian, ada orang yang marah-marah ketika diminta untuk memberikan tempat duduk yang reguler kepada penumpang prioritas, TDP sulit diakses karena bus/KRL dalam keadaan penuh.

Menurut saya, salah satunya terjadi karena kita belum sepenuhnya menempatkan empati sebagai bagian penting dari proses berinteraksi sesama manusia. Perlu disadari bahwa TDP itu merupakan standar minimum fasilitas di transportasi umum, agar penumpang prioritas mendapatkan tempat duduk. Sebenarnya kalau empati kita sudah terpasang pada tempatnya, tidak perlu ada aturan TDP pun kita sudah tergugah untuk memberikan tempat duduk kita kepada orang yang lebih berhak.

Jadi, enggak perlu marah bersungut sungut hanya karena kita ditegur orang lain untuk memberikan tempat duduk kita ke penumpang prioritas kan ya? Malah bahkan, sebelum disuruh kita sudah rela memberikannya dengan sukarela. Sayang kan buang buang energi hanya karena kegagalan kita dalam menumbuhkan empati dalam diri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s