Melestarikan Engklek di Tengah Terpaan Gadget

engklek-edit
Anak-anak sedang bermain engklek di RPTRA DKI Berseri (8/4/17), Pondok Kelapa, Jakarta Timur.

Engklek, sunda manda, teklek, ingkling, jlong jling, lempeng, dampu bulan permainan tradisional dengan banyak nama yang kian tergerus jaman. Setiap upaya menghadirkan kembali permainan ini ke ruang publik perlu diapresiasi.

Sudah lama sekali saya tidak melihat permainan tradisional engklek dimainkan oleh anak-anak di ruang publik. Modernisasi juga mengubah cara bermain anak. Semua hampir tergantikan dengan gadget.

Engklek yang dimainkan pada acara-acara peringatan atau seremonial itu sudah biasa. Tapi gimana kalau dimainkan secara natural di ruang publik, apalagi di Ibukota. Memang masih ada yang memainkannya?

Ternyata masih ada. Betapa gembiranya saya, ketika melihat beberapa anak bermain engklek di Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) DKI Berseri, Pondok Kelapa, Sabtu (8/4/17). Pada tahun 90-an, saya dan teman-teman memainkan engklek, kami menyebutnya ‘bete’, di jalanan gang sekitar rumah. Kami menggunakan kapur tulis untuk menggambar garis petak-petak. Kemudian alat lemparnya menggunakan pecahan atap rumah dari bahan gypsum.

Pada saat itu, semua bahan tidak ada yang kami beli. Semua didapatkan dengan percuma. Kapur tulis diambil dari ruang kelas di sekolah. Alat lemparnya kami ambil dari tetangga yang sedang membangun rumah. Karena bermain di tengah jalan gang, jika ada kendaraan yang melintas, mau tidak mau merelakan untuk berhenti sementara.

Lain dulu lain sekarang. Permainan engklek yang difasilitasi oleh RPTRA DKI Berseri ini menjadi lebih mudah dan ramah untuk dimainkan. Petak permainan sudah disediakan, dengan menempelkan lakban di lantai. Alat lemparnya menggunakan tutup botol, yang juga sudah disediakan oleh Pengelola RPTRA. Anak-anak tinggal bermain. Selain engklek, juga disediakan permainan lain seperti congklak, bola bekel, dan lain-lain.

Salah satu Pengelola RPTRA DKI Berseri, Meutia Dwindasari mengatakan, engklek dan permainan tradisional lainnya ini diperkenalkan kembali ke generasi sekarang untuk membendung derasnya terpaan gadget. Sadar atau tidak, penggunaan gadget pada anak yang tidak terkontrol akan berdampak negatif pada perkembangan anak.

“Di sini (RPTRA DKI Berseri – red) anak-anak tidak diperbolehkan membawa dan memainkan gadget. Kita sediakan permainan yang mendidik dan mengasah kreatifitasnya, termasuk mengenalkan anak dengan permainan tradisional – engklek, anak-anak menyebutnya dampu bulan,” tutur Meutia.

Hal ini merupakan sebuah upaya melestarikan permainan tradisional agar tak punah termakan zaman. Juga semakin menguatkan dan mengingatkan bahwa kita adalah makhluk sosial yang tak bisa hidup sendirian – sibuk dengan gadget-nya.

 

*Pernah dipublikasi di http://www.eindscloth.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s