Hari-Hari Menyantap Kemacetan Jakarta

Sebagai penghuni Jakarta sejak lahir, saya merasa kondisi jalanan Jakarta kian parah. Macet kian menjadi santapan sehari-hari yang lumrah. Apa kita harus pasrah?

Bunyi klakson kendaraan bercampur dendang makian para pengendara kiranya menjadi hal yang biasa di Jakarta. Kini, macet terjadi hampir setiap hari tanpa mengenal waktu. Bukan hanya di jalan-jalan utama, jalan tikus pun mampet.

Berdasarkan data Polda Metro Jaya (2013-2014), seperti dilansir dari nationalgeographic.co.id, jam kemacetan Jakarta bertambah panjang dalam beberapa tahun belakangan.

Kalau pada tahun 2013, kemacetan Jakarta paling parah pukul 07.00-09.00 dan 16.00-20.00. Nah pada tahun 2014 kemacetan Jakarta meningkat; rata-rata terjadi pukul 07.00-11.00 dan 16.00-22.00. Bahkan di hari-hari tertentu, kemacetan bisa saja terjadi sepanjang waktu dan tidak dapat diprediksi.

Data Polda Metro Jaya tahun 2014 menunjukkan, ada sekitar 17 juta unit kendaraan bermotor di Jakarta. Pertumbuhannya tiap tahun mencapai 12-13 persen. Sementara pertumbuhan jalan hanya 0,01 persen per tahun.

Makanya, saya merasa jalanan Jakarta baru terasa menyenangkan kalau saat Lebaran dan liburan sekolah. Setiap tahun saya selalu menunggu-nunggu dua momen itu.

“Emang enggak bisa ya libur lebaran dipanjangin gitu? Atau Lebarannya 3 kali setahun kek gitu,” seloroh saya saat ngobrol-ngobrol di warung kopi yang disambut senyum kecut teman-teman.

“Atau gini, anak sekolah pada home schooling aja gimana? Biar orang tuanya atau yang nganter enggak perlu repot repot ngeluarin kendaraan,” ujar saya dengan tampang “aha” seolah baru dapat ide cemerlang.

Seperti dikutip Kompas.com, perusahaan transportasi berbasis aplikasi daring Uber pada tahun 2017 merilis riset kemacetan di Jakarta. Menurut data hasil survey konsumen Uber, setiap pengendara menghabiskan waktu 22 hari setahun di jalan.

Rata-rata pemilik mobil di Jakarta menghabiskan 68 menit terjebak macet dan 21 menit mencari tempat parkir dalam seharinya. Artinya, pengendara membuang waktu sebanyak 528 jam setahun hanya untuk bermacet-macetan.

Akibatnya, 74 persen warga di Jakarta pernah terlambat hadir ke momen-momen penting seperti acara pernikahan, kontrol kesehatan, wawancara kerja, rapat kantor. Jangankan momen penting, rutinitas sehari-hari seperti berangkat ke sekolah, kampus, atau ke tempat kerja aja kita sering terlambat dengan alasan klasik: kena macet. He he.

Jakarta, 20 April 2018

2 Comments Add yours

  1. Heny berkata:

    Usul bagaimana kalau virtual office, bir mengurangi kemacetan juga? Hahaha

    Suka

    1. syakurian berkata:

      Wuah, ide yang brilian! Wajib diwujudkan hahahaha.

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s