Mengalahkan Setan Penghambat Menulis

Menulis-vebma
Sumber foto: http://www.vebma.com

Melalui tulisan ini saya ingin membuat pengakuan dosa. Mungkin lebih tepatnya mengakui kelalaian diri sendiri: kalau saya gagal konsisten dalam menulis di blog. Hampir sebulan lebih ini jemari ini tidak membuahkan tulisan untuk blog. Padahal janji sudah terlanjur dilontarkan pada diri sendiri melalui #SatuHariSatuTulisan pada 23 April lalu. Sebenarnya banyak sekali ide yang menyeruak untuk dituliskan pada saat momen puasa dan lebaran. Tapi apalah daya rasa malas yang lebih dominan. Alhasil momen tersebut meluncur dengan indahnya tanpa dituliskan. Calon catatan sejarahpun hilang dengan sia sia.

Hu hah! Saya harus mengarungkan rasa malas tersebut. Kemudian membuangnya ke laut. Byur! Oke, hari ini saya mencoba melemaskan kembali jari-jari. Mari kita menulis lagi.

Beberapa waktu lalu saya mencoba menggugah diri dengan mencamkan #SatuHariSatuTulisan. Maksudnya sederhana saja, membiasakan untuk menuliskan segala sesuatunya; apapun bentuknya. Hingga di kemudian hari kita bisa membacanya. Semacam menyiapkan gudang cerita untuk masa depan. Tapi gimana ini bisa terjadi kalau tidak konsisten menulis ya. Hmmm.

Masalahnya, ketika mau menulis banyak pembisik pembisik halus yang membuat keinginan menulis bisa patah. Saya menyebutnya pembisik tersebut sebagai setan. Baiklah, saya akan mencoba untuk mengeluarkan setan-setan dalam diri, yang menghambat kegiatan tulis-menulis saya di blog.

Malas

Ini permasalahan yang sangat klasik bagi kita-kita penghuni Negara Indonesia tercinta ini. Saya tidak mengatakan semua orang Indonesia pemalas. Tapi sepertinya “malas” menjadi nama tengah kita. Kita? Eh, maksudnya saya ding. Kalau sudah hal-hal buruk gini saya biasanya nyari kawan. Haha!

Makanya di keseharian kita ada istilah “Mager” – Malas Gerak – yang berarti lagi malas untuk melakukan sesuatu. Kalau sudah “Mager” merasuki, biasanya tubuh seolah terpatri oleh Kasur dan benda-benda empuk lainnya. Jadi gelesotan tanpa tujuan seharian.

Nah, menulis juga begitu. Biasanya kalau saya sih, sudah membuka laptop, menuliskan outline tulisan. Lalu buntu. Lalu tutup blog. Main PES – Pro Evolution Soccer (game bola yang paling sering saya mainin di laptop). Alhasil, gagal nulis maning son.

Kebiasaan malas ini harus dibuang dari daftar peliharaan. Jika tidak, bisa terjebak dengan kegiatan yang tidak produktif. Bermalas-malasan untuk istirahat sih wajib. Tapi, kalau sampai mengganggu hal-hal produktif kita, sepertinya kudu dilawan.

Saya biasanya melawannya dengan membuka laptop kapanpun lalu mulai menuliskan apa saja. Enggak perlu mikir bagaimana hasilnya nanti. Tanda bacanya acak-acakan. Tabrak terus. Yang penting selesai dulu sampai garis finish. Iya, meskipun sering kalah juga oleh rasa malas. Tapi, bukankah di film-film action jagoan juga sering kalah kan? Yang terpenting adalah menikmati proses kekalahan untuk kemudian bangkit menulis lagi.

Sibuk

Ini juga alasan yang sering ada di ujung lidah saya. Siap dikeluarkan, ketika ada pertanyaan dari diri sendiri.

“Kok jarang nulis lagi sih?”

“Sibuk nih. Kerjaan banyak.”

Hmm. Lagi-lagi alasan klasik lagi ya. Padahal, kalau dipikir-pikir ulang, namanya kita bekerja ya pasti ada kerjaan dong. Lha orang yang nganggur aja ada kerjaannya kok. Kok? Lha iya, nyari kerjaan. Haha! Krik krik.

Malah justru seharusnya karena kesibukan yang kita miliki ini, kita jadi punya banyak bahan untuk dijadikan tulisan. Hmmm. Iya juga sih. Tapi kalau bolak balik rapat gimana bisa nulis? Mungkin pas rapat kita bisa sembari menyiapkan outline tulisan kita. Karena saat rapat pasti ada banyak hal-hal berharga yang bisa dijadikan bahan tulisan. Masalahnya, mau atau tidak.

Pun kalau kerjaan kita lebih banyak mobile di luar kantor, dan banyak bertemu orang malah membuat kita jadi lebih kaya bahan untuk ditulis. Tinggal di sela-sela kesibukan kita yang super itu, kita bisa menyempatkan diri untuk berinteraksi dengan laptop, smartphone, kertas, atau buku tulis untuk membubuhkan karya kita. Lha wong, di sela-sela kesibukannya Pak Jokowi aja masih bisa nge-vlog atau nulis status di IG dan FB. Sepakat ya, kalau sibuk bukan lagi jadi alasan?

Takut Memulai

Bisikan bisikan halus lainnya yang menjadi penghambat menulis yaitu takut memulai. Ini sih bukan cuma saat menulis, kalau mau memulai hubungan percintaan juga sering takut memulai kan? Eh! Haha!

Tapi memang benar lho. Kita terkadang terlalu banyak berpikir. Terlalu sering berpikir banyak. Berpikir itu bagus. Tapi, terlalu banyak berpikir dan berpikir banyak itu secara tidak sadar memberi beban pada diri kita untuk selalu menulis untuk selalu menyenangkan orang lain. Beban ini kita pikul semakin berat pada akhirnya menjerat kita untuk mulai menulis. Padahal menyenangkan orang lain itu bonus dari hasil semua tulisan kita.

Pada saat berbagi tentang menulis blog dengan kawan-kawan muda di Surabaya beberapa waktu lalu, ada peserta diskusi yang khawatir untuk mulai menulis. Beragam alasannya. Ada yang takut dibilang alay, karena sedikit-sedikit cerita. Juga, takut membuka hal-hal yang sifatnya pribadi. Saya punya tips untuk mengatasi hal-hal yang mengganggu ini. Apa saja tips-nya. Silakan mampir ke sini.

Intinya adalah ketika akan menulis, kita perlu meminimalisir segala ketakutan-ketakutan itu. Namanya juga berkomunikasi lewat tulisan, biarkan saja mengalir. Nanti kan ada proses selanjutnya yaitu penyuntingan, atau bahasa betawinya sering disebut editing. Kalau kita terus terbelenggu dengan rasa takut itu, sampai kapanpun kita tidak pernah menulis satu tulisanpun. Semangat ini yang saya kobarkan hingga menelurkan cerpen pertama saya: Mak Gedubrak di akhir April lalu.

Padahal, kita sadari atau tidak, keseharian kita lekat dengan tulis menulis lho. Nulis status di medsos. Rajin kan? Haha! Itu juga bagian dari tulis menulis lho. Jadi, kalau membuat dan mengelola blog itu sebagai sebuah hambatan, kita bisa memulai memulainya melalui status facebook, twitter dan caption IG kita masing-masing. Caranya, kita mulai peduli dengan setiap status yang meluncur bebas dari jari jemari kita di sana. Setelah membuat status atau caption sediakan sedikit waktu untuk menyuntingnya. Perhatikan tanda baca dan efektivitas kalimatnya. Cermati kembali ada kesalahan penulisan atau tidak (typo). Meskipun pada medsos, kita tidak melulu harus menggunakan bahasa baku (sesuai dengan EYD), tapi sesekali boleh juga digunakan sebagai latihan.

Tunggu apa lagi, yuk ah dicoba! Sambil monolog ke diri saya sendiri. Hehe!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s