Kekerasan Seksual di Sekitar Gelaran Piala Dunia 2018, Lawan!

Kekerasan Seksual Kenya
Sumber ilustrasi: http://www.the-star.co.ke

Bagi para penggemar sepak bola termasuk saya, Piala Dunia menjadi momen besar yang haram hukumnya jika dilewatkan begitu saja. Setiap gelarannya, Piala Dunia selalu melahirkan cerita-cerita menarik seputar sepak terjang negara-negara pesertanya di lapangan hijau. Banyak tim-tim kuda hitam yang menyulitkan tim-tim unggulan. Sebaliknya, Tim-Tim unggulan malah bermain jeblok.

Di luar lapangan hijau, banyak pula cerita yang perlu dicermati secara serius. Salah satunya, maraknya kekerasan seksual saat gelaran Piala Dunia di negara beruang merah ini. Sebagai Negara tuan rumah kejuaran sepak bola terbesar di dunia, sudah seharusnya Rusia memberikan jaminan tempat yang bebas dari kekerasan seksual kepada para tamu-tamunya, bukan malah sebaliknya.

Pertama, kasus pelecehan seksual yang menimpa JGT, reporter perempuan asal Kolombia yang bekerja untuk Deutsche Welle (DW) Espanol, Stasiun Televisi Jerman berbahasa Spanyol. Saat itu JGT sedang bertugas melakukan reportase langsung di kerumunan suporter, pada pertandingan pertama antara timnas Rusia dan Arab Saudi di Kota Saransk. Ketika JGT sedang melaporkan suasana para pendukung Rusia, seorang laki-laki melakukan pelecehan seksual terhadap dirinya dengan mencium pipi dan meremas payudaranya.

Pelaku mengatakan, peristiwa ini tejadi karena dia sedang bertaruh dengan temannya, apakah berani mencium jurnalis tersebut saat siaran langsung atau tidak. Awalnya, pelaku hendak merangkul bahu korban dengan kedua tangan, namun meleset sehingga memegang bagian lain (inews.id, 2018). Pelaku pun meminta maaf kepada korban dengan berbagai alasan di atas.

Tindakan tersebut jelas menuai kecaman dari korban dan DW. DW bahkan mengunggah cuplikan pelecehan itu di akun media sosial Twitter sehingga wajah pelaku terlihat jelas, hingga kasus ini mendapat perhatian masyarakat luas. Dilansir The Sun, Rabu, 20 Juni 2018 (Viva.co.id, 2018), JGT kemudian mengunggah rekaman ketika dirinya dilecehkan di akun media sosialnya dalam upaya untuk menangkap pelaku.

Burger King Rusia

Kedua, Iklan restoran cepat saji Burger King Rusia yang dinilai melecehkan perempuan Rusia. Iklan tersebut dipajang saat perhelatan Piala Dunia 2018. Berdasarkan laporan Deadspin (20/6) seperti dilansir dari detik.com, teks iklan dalam bahasa Rusia itu memiliki arti, “Burger King, dalam rangka tanggung jawab sosial, telah memutuskan untuk memberi sebuah hadiah pada gadis yang dihamili oleh bintang sebak bola dunia. Masing-masing akan mendapat 3 juta rubel (Rp 699 juta) dan pasokan Whoppers seumur hidup. Bagi gadis-gadis ini, sangat mungkin mendapat gen sepakbola terbaik dan akan bisa menyukseskan tim nasional Rusia pada beberapa generasi yang akan datang. Maju! Kami percaya padamu!”

Iklan ini sontak mendapatkan kemarahan publik di negara tuan rumah. Warganet dari berbagai belahan dunia pun mengecam iklan dengan konten yang merendahkan perempuan Rusia tersebut. Mereka memaksa Burger King Rusia untuk menghapus iklan tersebut. Tak selang beberapa lama, Pihak Burger King pun meminta maaf kepada publik.

Melawan Kekerasan Sejak Dalam Pikiran

Contoh kasus di atas adalah dua dari banyak kasus kekerasan seksual yang terjadi di dunia. Geram, kesal, marah campur aduk dalam merespon hal yang memang bikin amarah menggapai titik terpanasnya ini.

Mari kita tengok kasus pertama. Mengapa kasus pelecehan seksual itu bisa sampai terjadi? Pelaku menjadikan tindak pelecehan tersebut sebagai bahan taruhan dengan temannya. Dalam hal ini, perempuan reporter sebagai objeknya.

Superioritas-maskulinitas yang mendidih dalam pikiran pelaku yang membuatnya berani untuk melakukan pelecehan seksual tersebut. Jika kita bedah wacana di otaknya, mesti ada yang keliru dengan cara berpikirnya dalam memandang perempuan. Dalam cara pandang yang bias gender tersebut, perempuan selalu dijadikan objek seksual, pemilik tubuh kelas dua – itupun ngontrak kepada laki-laki. Laki-lakilah pemilik relasi kuasa yang lebih tinggi dari perempuan. Bahkan Tuhanpun seenaknya diklaim berkelamin laki-laki. Apa iya? Ngelihat Tuhan aja belum pernah ya kan.

Sampai di sini, permasalahan tidak akan selesai dengan hanya menerima permintaan maaf dari pelaku. Seperti yang seringkali dikatakan Gus Dur tentang lawan politiknya, “maaf saya terima, tapi saya tidak akan melupakannya”. Apalagi dalam kasus kekerasan seksual. Kata “maaf” hanya sebatas klise saja. Pemanis bibir. Pelaku bisa dengan gampang bilang maaf lalu menghilang, tapi korban akan selalu berada dalam kondisi tertekan secara fisik, psikis; mengalami trauma panjang. Ini jelas tidak akan pernah bisa sembuh dengan kata “maaf”.

Kita perlu menyadari bersama, sekali lagi dan berkali-kali, ada yang salah di pikiran masyarakat kita. Pikiran yang salah ini terus dilanggengkan dan diketok-tularkan dalam lingkungan sehari-hari hingga dilanggengkan dalam sistem nilai yang patriarkis. Pikiran patriarkis tumbuh subur dalam masyarakat yang timpang gender. Pikiran individu dan lingkungannya ini satu sama lain saling menguatkan cengkeramannya. Ini yang menginfeksi pikiran kita jauh lebih dalam, hingga sulit sekali meniupkan nafas kesetaraan dan keadilan gender dalam keseharian.

Iklan Burger King yang merendahkan perempuan juga, jika kita dudukkan pada wacana feminis; bahwa dalam masyarakat patriarkis, perempuan selalu diposisikan sebagai sub-dominan di bawah laki-laki. Konstruksi sosial ini yang kemudian terwujud dalam berbagai tindak diskriminatif terhadap perempuan, seperti misalnya perendahan posisi perempuan dalam masyarakat, labeling bias gender, hingga kekerasan seksual terhadap perempuan.

Dalam Buku Fiqh Seksualitas yang diterbitkan oleh Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia – PKBI (2011), dalam wacana gender dikenal istilah gender based violence (kekerasan berbasis gender). Keputusan Majelis Umum PBB tahun 1933 mendefinisikan istilah tersebut sebagai: “semua tindakan yang menyebabkan kerugian atau penderitaan fisik, seksual, atau psikologis pada perempuan, termasuk ancaman untuk melakukan tindakan semacam itu, pemaksaan, atau mengurangi kebebasan dengan sewenang-wenang. yang terjadi di depan umum maupun di dalam kehidupan (lingkup) pribadi.”

Berdasarkan definisi di atas, berbagai tindakan kekerasan di sekitar gelaran Piala Dunia tersebut masuk dalam kategori kekerasan berbasis gender. Seperti dikutip dari Russia Beyond edisi Indonesia (21/2), dalam budaya patriarki Rusia misalnya, perempuan mengalami berbagai ketidakadilan dan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM). Masalahnya, kata “feminisme” dan kaum feminis di Rusia dipersepsikan secara negatif oleh masyarakat. Oleh karenanya, masyarakat di sana kebanyakan menolak mendiskusikan isu ketidakadilan gender.

Banyak orang Rusia yang masih berpikir bahwa kebahagiaan seorang perempuan bergantung pada pernikahan dan memiliki anak, dan tentu perempuan berkewajiban mengurus mereka. Kungkungan domestik dan tindak diskriminatif yang membelenggu perempuan ini merupakan manifestasi dari ketimpangan sistem nilai yang dibangun dari pola asuh, pendidikan di rumah, sekolah dan kampus. Di Rusia, terdapat stereotipe kuat bagaimana anak laki-laki dan perempuan harus bersikap dan berperilaku. Perempuan belajar memasak, sedangkan laki-laki belajar membuat kerajinan kayu, dll (Russia Beyond edisi Indonesia, 2018).

Sejak kecil anak sudah ditanamkan nilai bahwa anak laki-laki dilarang menangis. Karena menangis itu hanya boleh dilakukan oleh perempuan. Jika anak laki-laki menangis, itu dianggap memalukan. Laki-laki dilekatkan dengan karakter maskulin; sebagai pemimpin, inisiatif, pembuat keputusan. Sedangkan perempuan diharuskan berkarakter feminin; bersikap sopan santun, lemah lembut dan pasif.

Ada yang merasa dejavu? Ada yang bergumam, kok ini mirip mirip sama kehidupan di Negara kita ya? Nah iya, kalau begitu lawan kita sudah jelas: PATRIARKI! Ayo kita lawan kekerasan seksual dengan mematikan mode otomatis patriarki di dalam pikiran kita untuk selamanya.

Sudah saatnya kita bergandeng tangan memperjuangkan rekonstruksi budaya untuk mewujudkan konstruksi gender yang adil dan memanusiakan manusia tanpa kecuali. Mari!

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s