Merenungkan Pilkada Kita

Pilkada
Sumber ilustrasi: Florespost.co

Pilkada oh pilkada…

Kau itu mempertontonkan rupa rupa ulah penghuni bumi bernama manusia. Di negeri yang katanya kaya sumber daya tapi krisis akal. Berpikir beda adalah hal yang diharamkan. Semua wajib seragam atas nama kepentingan-kepentingan mereka yang berseragam. Alhasil, keberagaman hanya manis didengarkan, ketika politisi dan penguasa beretorika di panggung massa. Seketika massa pun jatuh cinta. Bak pertemuan pertama Cinta dan Rangga; sebal, penasaran, lalu terpikat.

Pilkada oh pilkada… Kau memang mengukir banyak banyolan konyol.

Bagaimana rupa rupa warna Indonesia diperdentingkan oleh beliau beliau kaum kuasa hingga membuat hati berlabuh. Kemudian aneka warna itu, pada akhirnya dibenturkan satu sama lain. Hasut rayu mulai menjalari. Strategi primordial dihembuskan masuk tepat di otak yang sedang digadaikan di perusahaan perusahaan gadai otak berwujud kapitalisme. Ketika mereka memainkan agama sebagai amunisi, seketika mati surilah kritis akal. Padahal, manusia diberikan Tuhan otak untuk berpikir, bukan?

Pilkada adalah permainan kuasa “raja-raja” Daerah menyeruput sumber daya. Masuk ke jiwa, pahit bagi nurani, namun ialah pil kegembiraan bagi syahwat kuasa duniawi. Suara-suara calon pemimpin daerah saat kampanye begitu rasuk. Bertebar janji-janji manis berbalut alunan dangdut yang membius. Pilih pilih pilih. Coblos ininya, itunya, anunya. Hingga nalar melenggang bebas bersatu dengan tinja, dan hilang ketika disiram.

Dan kita-kita pada akhirnya ada di genggaman mereka. Iya, mereka yang sibuk bersolek membersihkan diri ketika Pilkada ada di depan hari. Sibuk memoles kata di instagramnya. Membuat klarifikasi sana sini. Ada yang pula sibuk ngumpulin massa, undang kiyai kiyai kondang, memilin kata-kata indah yang katanya doa itu kemudian dikirimkan ke langit, entah sampai entah katut oleh hujan kemudian terbenam kembali ke bumi menjadi banjir dan semacamnya. Ada yang sibuk jual citra sebagai putra daerah; enggak apa apa minim konsep yang penting ori. Ada pula yang jumawa seratus persen karena melawan kotak kosong, Yang akhirnya kalah pula.

Pilkada oh pilkada. Pada akhirnya siapapun pemenangnya iapun kelak akan menyatu dengan bumi ini, berangkat ke tempat entah di mana, mempertanggungjawabkan segala laku di depan penciptanya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s