Susi Susanti dan Diskriminasi Rasial

046568100_1471341295-Susi_Susanti
Sumber foto: Bintang.com

Siapa tak kenal Susi Susanti. Sang pahlawan olahraga Indonesia yang mengharumkan nama bangsa melalui bulu tangkis. Ia meraih medali emas pertama kalinya untuk Indonesia di Olimpiade Barcelona 1992.

Perempuan kelahiran Tasikmalaya bernama asli Wang Lian-xiang ini menangis saat menyanyikan lagu Indonesia Raya diiringi pengibaran bendera merah putih. Sontak tangisan bersejarah tersebut menjalar sampai tanah air. Setelah itu, kekasihnya Alan Budi Kusuma, laki-laki kelahiran Surabaya bernama asli Goei Ren Fang ini juga mempersembahkan medali emas untuk Indonesia dari tunggal putra.

Hampir seluruh masyarakat Indonesia apapun agamanya, sukunya, rasnya, tua muda dan segala pembeda lainnya, dari Sabang sampai Merauke menangis haru menyambut “pasangan emas” kebanggaan Indonesia ini.

Namun kisah bersejarah itu pupus. Lima tahun setelah membanggakan Indonesia di pentas dunia, status kewarganegaraan Susi diragukan oleh Negaranya sendiri. Negara yang sangat dicintainya. Susi bersama Alan dipersulit saat mengurus surat pernikahannya hanya karena berbeda ras dengan mayoritas.

Ketika mengenang peristiwa tersebut ia bertutur, “Saya jelas kecewa saat itu. Sampai-sampai saya berucap apakah saat memenangi emas Olimpiade, ada tanda Surat Bukti Kewarganegaraan Indonesia (SBKRI) di belakang baju saya. Tidak kan? Hanya ada tulisan Indonesia.”

Padahal sebelumnya, paska menjuarai Olimpiade, Susi dan Alan banyak mendapatkan tawaran pindah kewarganegaraan dengan segudang janji fasilitas dan tunjangan yang menggiurkan. Dengan tegas mereka menolaknya. Hadangan apapun tak kan pernah bisa mengubah rasa cintanya terhadap Indonesia.

SBKRI merupakan wujud kekerasan negara kepada Tionghoa. Etnis Tionghoa yang lahir, tumbuh dan berjasa untuk Negara ini masih harus menelan pil pahit, dipertanyakan sebagai warga negara Indonesia. Belum lagi, stereotip, stigma dan diskriminasi, serta kekerasan yang kerap dialami oleh warga Tionghoa karena sentimen rasial.

Diskriminasi struktural oleh Orba ini sungguh tidak bisa diterima. Negara yang seharusnya melindungi setiap warganya tanpa kecuali, malah menjerumuskan warganya dalam potensi konflik Suku Agama, Ras dan Antar Golongan (SARA) berkepanjangan.

Gusdur menjadi Presiden Republik Indonesia pertama yang berupaya memutus mata rantai diskriminasi rasial tersebut. Ia memperjuangkan hak-hak warga negara, termasuk minoritas. Gusdur sampai pernah mengakui darah Tionghoa mengalir dalam tubuhnya. Presiden Indonesia ke-5 Megawati Soekarno Putri melanjutkan langkah Gus Dur dengan menetapkan Hari Raya Imlek sebagai hari libur nasional.

Sejarah tersebut menjadi catatan penting bagi kita generasi milenials, agar tidak terjerumus dengan segala provokasi atas dasar sentimen SARA. Kita lah yang punya andil untuk memutus mata rantai kebencian yang tak berdasar tersebut.

 

*Telah dipublikasi di http://www.eindscloth.blogspot.com 7 April 2017

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s