Jogja, Ruang Temu

Sang waktu membawa saya kembali ke Jogja. Setelah terakhir menjejakkan kaki kira-kira setahun yang lalu. Kali ini tugas kantor, untuk penulisan buku 60 tahun PKBI. Diskusi dilakukan pada 9-10 Juli dengan Tim Penulis: Direktur dan Sekretaris Pengurus PKBI DIY.

Saya mendarat di Jogja sejak Jumat, 6 Juli. Busyet malam itu Jogja macet banget. Sepertinya puncak liburan sekolah dan kuliahan. Saya meluncur dari bandara Adisutjipto jam 7 malam naik gocar. Baru sampai penginapan di sekitar Sosrowijayan, Malioboro jam 9. Alhasil, bergelisah ria dua jam di jalanan Jogja rasa Jakarta Jek!

Tidak disangka, Jogja menjadi ruang temu dadakan nan singkat dengan saudara dan kawan-kawan. Malam Sabtu, bersua dengan kawan perghibahan @daniamoehas_, mantan bos IIWC yang lagi lanjut kuliah di Mahidol University, Thailand. Dia lagi ada acara workshop menulis skenario bersama Ernest Prakasa. Entah kenapa, ngobrol sama Dania ini enggak pernah bisa berhenti ghibah. Mulut berasa lancar bergosip. Mulai dari ngegosipin negara, politik, gerakan anak muda. Sampai ngegosipin diri sendiri. Haha! Makanya dia cocok bergelar Raghinas. Ratu Ghibah Nasional.

Ternyata oh ternyata, saudara sepupu dari Malang Mbak Tina, Mas Ari, dan anak pertamanya Putri juga sedang ada di Jogja. Informasi itu saya dapatkan dari intelijen kuliner Jogja, Kakak sepupu saya Mbak Tiwik. Katanya, mereka di Jogja dalam rangka mencari kos-kosan untuk Putri, yang mulai akhir Juli ini resmi jadi anak rantau. Dia masuk SMK Musik di Kasihan, Bantul, jurusan biola. Keren! Selamat ya Put, kejar terus cita-citamu. Kelak jadi pemusik handal.

Sabtu siang, setelah saya melaksanakan ritual kunjungan ke Museum Pergerakan Perempuan Indonesia, mereka pun menyusul ke penginapan saya di kawasan Sosrowijayan. Tak jauh dari Malioboro yang puadet banget itu. Malamnya Mbak Tina dan Putri sudah pulang ke Malang. Mas Ari pagi dini harinya pulang ke Jakarta, lanjut ke Medan.

Makanya ruang temu yang terbatas ini kita manfaatkan maksimal untuk melepas kangen. Kami berjalan sambil bergosip berkeliling Malioboro. Makan siang di Malioboro Mall. Lanjut berburu buku di Taman Pintar. Lebih tepatnya saya dan Mbak Tina yang berburu, sementara Putri asyik dengan telepon pintarnya, dan Mas Ari was wus was wus menikmati rokok. Mbak Tina berhasil dapat dua buku super tuebel Amurwa Bhumi karya Langit Kresna Hariadi. Sedang saya dapat dua buku pidato Soekarno.

Malam harinya Mbak Tiwik menyusul. Ruang kangen kita lanjutkan dengan makan salah satu mie legendaris di Jogja, Yammie Pathuk. Kakak sepupu saya berikutnya, Mbak Ely menyusul kemudian ke penginapan. Kami bergerak menuju Stasiun Yogyakarta mengantar Mbak Tina dan Putri. Dini harinya giliran Mas Ari yang terbang ke Jakarta.

Minggu sore, Mbak tiwik mengajak saya ke Pasar Kangen di Taman Budaya. Semacam festival jajanan, seni kerajinan dan budaya Jogja yang diadakan setiap setahun sekali, sehabis Lebaran. Di sana saya merasa menyusuri setiap keping kenangan masa kecil dulu melalui kuliner. Ada permen dan cemilan yang menjadi teman dulu kala. Pun ada barang-barang tempo dulu.

Ada juga kuliner-kuliner ndeso nan ngangeni khas jawa seperti cenil, gethuk, dkk, mie lethek, sambal tumpang, sate kere, dll. Sate kere (miskin)? Iya, itu lho sate dari tempe gembus (ampas tahu) dan gajih sapi. Disebut kere, karena dulu sate daging termasuk makanan mewah yang cuma bisa dimakan sama kalangan menengah ke atas. Istilah kere merujuk kepada kalangan bawah, yang untuk membeli sate daging tidak mampu. Sehingga alternatifnya menggunakan tempe gembus dan gajih sapi. Padahal gajih sapi itu kan banyak lemaknya ya. Malah tambah masalah baru: obesitas. Yekaaan.

Bersua Kawan Main Masa Cilik

Jogja juga mempertemukan saya dengan Rio, kawan main masa cilik di rumah Pondok Kelapa. Rumahnya hanya berjarak 4-5 rumah dari rumah Bapak. Secara tidak terduga, salah satu unggahan photostory saya direspon Rio. Ternyata, abdi negara yang bertugas di salah satu Kementerian di Jakarta itu sedang melanjutkan kuliah S2 di UGM. Dia pun nyusulin saya ke penginapan.

Ruang temu kita lanjutkan ke salah satu bar dan resto dekat penginapan. Yuhu nonton bareng piala dunia Swedia vs Inggris pun menjadi pilihan kami. Biasa lah kalau reunian teman masa kecil gini pasti cerita-cerita soal kenangan masa-masa jadul. Terus lanjut ke kerjaan sekarang. Terus lanjut gosipin negara. Haha! Rio adalah salah satu abdi negara yang bersih dan lurus. Dia juga tipikal abdi negara yang “punya otak” dan kritis. Itu yang ngebuat pertemanan kita abadi.

“Gue pernah ngusir orang yang datang ke ruangan gue mau ngasih duit. Masalah tender. Gue marahin dia,” kata Rio yang terekam dalam memori saya. Hmmm, kira-kira sudah tiga tahunan lebih kita enggak diskusi. Tapi Rio tetap enggak berubah. Sisi idealisnya masih terjaga. Terlahir sebagai anak PNS saya paham, jadi PNS yang baik di negara dengan sistem yang korup memang berat banget.

Diskusi malam itu harus diakhiri dengan kemenangan Inggris atas Swedia. Rio yang malam itu menjagokan Inggris menyunggingkan senyuman puas atas kemenangan itu. Saya sih enggak ambil pusing. Siapapun yang menang nantinya akan kalah di final ketemu Perancis. Itupun kalo pada lolos di final. Pede itu wajib. Haha.

Obrolan dengan Rio pun berlanjut besok malamnya. Saya menanyakan ke Rio cafe yang bisa buat kerja. Awalnya Rio merekomendasikan Blanco. Tapi padetnya bukan main. Akhirnya kami memilih Le Mindoni. Masih di Jl Kranggan tak jauh dari Blanco. Sembari buka laptop sibuk dengan kerjaan masing-masing, kami masih menyempatkan berdiskusi tentang kondisi berkemanusiaan di tanah air yang kian hari kian menurun. Apalagi menjelang hajatan politik nasional tahun depan.

Kami berada pada titik gelisah yang sama. Setiap orang menjadi lebih mudah memaki, menyudutkan, menghakimi hanya karena perbedaan yang melekat pada diri masing-masing. Pemaksaan terhadap kebenaran tunggal ini disakralkan lewat simbol-simbol dan atribut. Salah satunya simbol dan atribut keagamaan. Padahal, semua agama dan kepercayaan apapun mengajarkan pesan-pesan damai: cinta dan kasih. Tidak ada satu agamapun yang mengajarkan kebencian kepada sesama manusia dan seluruh penghuni alam raya ini.

Nyatanya saya yang kebetulan beragama Islam karena orang tua saya, dan Rio yang Kristen berteman karib sampai hari ini karena kami tidak pernah merenggangkan setiap perbedaan itu. Bagi kami urusan beragama atau tidak itu adalah urusan privat.

Sejak kecil saya beruntung dilahirkan di keluarga yang sangat menghargai perbedaan. Dua kakak dari empat kakak Ibu berbeda agama. Ibu Islam, kakaknya; Pakde Toni Alm (Ayahnya Mas Ari) dan Pakde Gatot (Ayahnya Mbak Ely) beragama Katholik. Sejak kecil, Pakde dan Bude selalu rajin mengingatkan saya untuk solat tepat waktu. Pun ketika di Jogja kemarin. Ketika masuk waktu Maghrib, Mas Ari mengingatkan saya untuk Solat. Kami sangat menikmati perbedaan ini. Justru perbedaan inilah berkah dari Tuhan yang diberikan untuk manusia.

Ah saya jadi merasa sangat beruntung bisa menjejakkan kaki di Jogja minggu kemarin. Banyak pembelajaran menarik yang bisa dipetik. Saya percaya, Tuhan sudah memilihkan ruang temu dengan kawan dan saudara-saudara ini sebagai medium untuk merenung dan merefleksikan jalan hidup yang sudah dijalani. Sebenarnya saya janjian untuk bertemu dengan tiga kawan yang lagi dan ada di Jogja. Namun karena satu dan lain hal, waktu jualah yang membatasi. Semoga lain kali bisa bertemu di manapun.

One Comment Add yours

  1. Tina berkata:

    Jujur apa adanya…good job ryan. 👍👍

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s