Di Jogja, Meresapi Perjuangan Perempuan Lewat Museum dan Perpustakaan

Siang itu sepertinya mentari sedang semangat-semangatnya menyinari Jogja. Panasnya menyengat menembus kulit. Namun begitu niat saya untuk mengunjungi Museum Pergerakan Perempuan Indonesia sama sekali tidak surut. Saya langsung memesan gojek meluncur menuju sana. Hanya Rp 7000 saja dari sekitar Malioboro ke museum.

Museum ini secara resmi bernama Monumen Kesatuan Pergerakan Wanita Indonesia. Saya lebih akrab menyebutnya Museum Pergerakan Perempuan Indonesia. Terletak di dalam kawasan Gedung Mandala Bhakti Wanitatama,  Jl Laksda Adisucipto No. 88 Yogyakarta. Selain museum, di dalam kawasan gedung tersebut juga terdiri dari balai pertemuan, wisma dan tempat pendidikan.

Begitu sampai gedungnya, saya pun segera melangkahkan kaki ke museum. Lokasinya berada di belakang balai pertemuan yang waktu itu lagi ada acara resepsi perkawinan. Hampir saja saya salah fokus masuk untuk numpang makan siang. Haha.

Sampai di museum, saya langsung disambut oleh petugas yang ramah. Ia menawarkan saya, mau dipandu atau tidak. Saya pun mengiyakan untuk dipandu untuk meresapi sejarahnya. Biaya masuknya sangat ramah pula di kantong, Rp 2000 saja. Namun herannya, sudah murah banget gitu masih banyak yang enggan datang ke museum.

20180707111018_IMG_0439

Okelah kita ambil hikmahnya. Karena museum saat itu sedang sepi pengunjung, saya jadi khusyuk mendengarkan cerita sejarah pergerakan perempuan dari petugas museum. Awalnya, saya mengira gedung ini adalah tempat diselenggarakannya Kongres Perempuan Indonesia pertama di Yogyakarta, 22-26 Desember tahun 1928.

“Oh bukan mas. Kongres Perempuan Pertama diadakan di Pendapa Dalem Jayadipuran. Saat ini gedungnya masih ada, di Jalan Brigjen Katamso,” tutur petugas museum.

Museum Pergerakan Perempuan Indonesia didirikan pada 22 Desember 1953 sebagai medium apresiasi, pengingat dan penguat perjuangan perempuan Indonesia. Saat itu, para pejuang perempuan Indonesia mengupayakan bersatunya gerakan perempuan. Untuk itu diselenggarakanlah Kongres Perempuan Pertama.

Sembari mendengarkan, batin saya bergejolak. Saya salut dengan perjuangan para perempuan Indonesia. Keren ya, semangat persatuan sudah mengaliri nadi perjuangan pendahulu kita. Dengan keterbatasan fasilitas saat itu, bisa melahirkan pemikiran-pemikiran progresif pendobrak zaman.

Kongres yang dihadiri oleh mayoritas perempuan berusia 20-an tahun dari 30 perkumpulan perempuan itu mengkritisi persoalan-persoalan yang bahkan hingga kini membelenggu perempuan, yakni perkawinan anak-anak, poligami, pendidikan bagi perempuan, taklik (perjanjian) dalam pernikahan Islam, sampai tunjangan untuk janda dan anak yatim.

Perkawinan anak misalnya. 90 tahun sudah berlalu, namun sampai saat ini masih menjadi masalah pelik di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Bahkan beberapa tahun belakangan ini kian marak. Berganti rezim pemerintahan, Negara belum mampu menyelesaikan masalah ini. Seakan kita enggak pernah belajar dari sejarah. Menanggapi hal ini, aktivis perempuan dan anak terus mendesak pemerintah untuk serius menangani perkawinan anak ini dengan berbagai cara.

20180707112249_IMG_0447

Padahal saat itu, Sdri. Moegaroemah perwakilan dari Poetri Indonesia mengkritik keras praktik perkawinan anak-anak. Ia menyerukan kepada perempuan Indonesia untuk melawan praktik kebiasaan buruk tersebut.

“Hal perkawinan anak-anak ini soal yang terpenting untuk kita orang Indonesia, karena perkawinan anak-anak ini masih banyak sekali di Indonesia ini,” tutur Moegaroemah saat itu.

Secara garis besar, Kongres tersebut menghasilkan kebulatan tekad untuk memperjuangkan Indonesia merdeka dan membentuk badan federasi organisasi perempuan dengan nama PPI (Perikatan Perempuan Indonesia).

Museum dan Perpustakaan yang Mencerahkan

Museum yang diserahkan pengelolaannya kepada Yayasan Hari Ibu ini lahir pada tahun 1953 untuk memperingati seperempat abad Kongres Perempuan Pertama. Awalnya, pembangunan gedung monumen ini  diprakarsai oleh Ibu Sri Mangunsarkoro pada Kongres Perempuan Indonesia tahun 1952 di Bandung. Peletakan batu pertama dilakukan oleh Ibu Sukonto selaku Ketua Kongres I pada tanggal 22 Desember 1953.

Penggagas monumen, Ibu Sri Mangunsarkoro mengusulkan bahwa monumen tersebut dibangun tidak berwujud tugu peringatan. Namun berbentuk gedung. Tujuannya agar bisa figunakan sebagai aktivitas sehari hari, yang dapat meningkatkan peran perempuan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Menurut petugas museum, koleksi pertama museum ini adalah “pennant” – sejenis bendera kecil logo/panji-panji organisasi – organisasi peserta Kongres Perempuan Pertama. “Pennant” ini tergantung di langit-langit di dalam Museum.

Koleksi lainnya, berupa diorama perjuangan perempuan dari masa ke masa, potret-potret peristiwa penting kala itu, pakaian pejuang wanita dan organisasi anggota PPI, mesin jahit, mesin ketik yang digunakan pada saat itu, dll. Misalnya mesin ketik Remington Portable Model 5 yang pernah dipakai oleh Ibu Sri Mangunsarkoro saat beliau menjabat sebagai Ketua Peringatan Seperempat Abad Kesatuan Pergerakan Perempuan Indonesia Pertama. Perempuan pejuang yang bernama asli Sri Wulandari itu juga merupakan pendiri Partai Wanita Rakjat.

Selain itu, diorama perjuangan perempuan juga tak luput dari perhatian saya. Ada diorama saat R.A. Kartini sedang memberikan pelatihan membaca dan menulis untuk perempuan. Bagi saya, Kartini adalah sosok pembaharu yang berjuang dengan pemikiran-pemikiran cemerlangnya melalui pendidikan. Lewat surat-surat untuk kawan-kawannya, Kartini mengkritisi keadaan saat itu yang begitu membatasi gerak perempuan untuk memajukan bangsanya.

Ada pula diorama tentang suasana Kongres Perempuan Pertama di Dalem Joyodipuran. Sebenarnya waktu itu, saya ingin sekali melihat langsung ke lokasi. Namun, tidak memungkinkan karena waktu yang mepet. Ya sudahlah, kalau ke Jogja lain kali saya harus ke sana. Wajib! Karena saya merasa mendapatkan energi baru setiap perjalanan napak tilas sejarah. Menguatkan diri saya untuk mengeksplorasi sejarah negeri ini lebih dalam lagi.

20180707105801_IMG_0428

Masih ada diorama peran perempuan dalam perang kemerdekaan. Saat itu perempuan sangat berperan sebagai laskar perempuan pejuang, tenaga dapur umum dan petugas Palang Merah Indonesia (PMI). Beberapa fakta peran penting perempuan bagi bangsa yang saya temukan di museum ini kian mempertebal iman saya bahwa perempuan adalah makhluk istimewa yang diciptakan Tuhan untuk mengubah dunia menjadi lebih baik. Maka, tidak ada alasan lagi bagi semua manusia untuk tidak mendukung perjuangan perempuan; salah satunya untuk mewujudkan kesetaraan dan keadilan gender.

Oh iya, kalau kalian menjejakkan kaki ke Museum ini jangan lupa singgahi juga perpustakaannya ya. Lokasinya persis di sebelah kiri pintu masuk museum. Jika dilihat sekilas, perpustakaan yang mengisi sebagian dari museum ini terlihat kecil dan sederhana. Namun, di dalamnya menyimpan arsip dan dokumen besar perjuangan perempuan Indonesia. Tempatnya cukup nyaman untuk berlama-lama baca buku. Pustakawannya yang saat itu merangkap sebagai petugas museum karena kawannya sedang cuti hamil ini sangat terbuka untuk diskusi.

Namun, untuk keamanan koleksi buku ke depannya perlu dikelola dengan program pengelolaan perpustakaan. Karena saat ini pencatatannya masih didata secara manual. Kendalanya, petugas perpustakaan kesulitan ketika mencari buku “Kongres Perempuan Pertama : Tinjauan Ulang” karya Susan Blackburn. Buku tersebut direkomendasikannya untuk saya baca. Namun saat itu tidak ditemukan. Padahal, keamanan koleksi buku adalah hal yang utama bagi perpustakaan.

Hal lain, saat saya ke sana waktu itu di meja besar tempat saya baca buku berserak banyak buku-buku. Nah ini cukup berbahaya bagi kelangsungan buku-buku koleksi. Karena siapapun yang berniat buruk bisa saja mengambil koleksi-koleksi buku perpustakaan itu. Kembali lagi, jika tidak tercatat dengan baik bisa saja Perpustakaan akan kehilangan banyak buku. Lambat laun, ini akan berpengaruh pada literasi sejarah bangsa ini.

Oh iya, di perpustakaan ini kita juga bisa menduplikasi (fotocopy) seluruh atau sebagian buku yang kita kehendaki. Harga per lembarnya Rp 300. Saya pun langsung menduplikasi lembar perkawinan anak-anak pada buku dokumen hasil Kongres Perempuan Pertama tahun 1928.

Sebelum masuk ke museum dan perpustakaan ini jangan lupa mengisi daftar tamu juga ya. Saya kira ini formalitas saja. Ternyata tidak. Pasca saya pulang dari sini, petugas perpustakaan dan museum menghubungi saya via whatsapp. Ia menyampaikan terima kasih kepada saya karena sudah berkunjung ke museum dan perpustakaan Pergerakan Perempuan Indonesia. Karena di sana saya berdiskusi soal pengelolaan perpustakaan dan museum, ia memberi informasi bahwa di perpustakaannya ada koleksi buku-buku tersebut. Saya pun langsung menindaklanjutinya.

Yuk ah jika sedang melancong atau berada di Jogja, segera meluncur ke museum Pergerakan Perempuan Indonesia ini. Dijamin mencerahkan pikiran!

***

Museum Pergerakan Perempuan Indonesia 

Lokasi: Jalan Laksda Adisucipto 86-88 | Jam Operasional: Senin – Kamis, pukul 08.00 – 13.00 WIB, Jumat – Sabtu, pukul 08.00 – 12.00 WIB, Minggu dan Hari Besar Tutup.

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s