Pejalan Kaki Selalu Kalah di Jakarta

“Saya baru saja menyeberang di depan Plaza Senayan. Menyeramkan. Saya hampir mati ditabrak mobil.”

Begitu kata rekan kerja saya dari Korea ketika menyeberang di Jakarta kira-kira sembilan tahun lalu. Padahal dia sudah menyeberang di Zebra Cross. Tempat yang seharusnya aman bagi pejalan kaki.

Sampai sekarang pun, pejalan kaki masih belum bisa nyaman melangkah di jalan Jakarta. Banyak permasalahan kronis yang semakin meminggirkan pejalan kaki. Malah saya melihat pejalan kaki diposisikan sebagai warga kelas dua. Warga yang tidak diutamakan pemenuhan haknya.

Untuk berjalan nyaman di trotoar saja, pejalan kaki harus “bertarung” dengan lapak pedagang kaki lima, motor dan mobil yang parkir seenaknya, bahkan juga motor yang sengaja melintas di trotoar. Anehnya, ketika diingatkan, pejalan kaki malah menerima caci maki dari orang-orang yang melanggar tersebut. Akhirnya, pejalan kaki harus berjalan di badan jalan, langsung berhadapan dengan mobil dan motor. Ini berbahaya!

Sudah banyak aksi yang dilakukan oleh pejalan kaki, misalnya yang dilakukan oleh Koalisi Pejalan Kaki, komunitas yang peduli akan hak dan keselamatan pejalan kaki di jalan raya, didirikan pada tahun 2011 (https://savepedestrian.wordpress.com). Beberapa aksinya yaitu membentangkan spanduk di trotoar, hingga tiduran di trotoar. Aksi tersebut bertujuan untuk menghadang para pemotor yang menerobos trotoar, sebagai tuntutan terhadap hak pejalan kaki.

Tentunya hal tersebut tidak akan dilakukan jika trotoar di Jakarta digunakan sebagaimana mestinya: untuk pejalan kaki . Saya heran kenapa Pemerintah tidak mampu mendesain trotoar yang ramah bagi pejalan kaki. Mengapa tiang listrik atau pohon besar bisa ada di tengah trotoar? Malah sepanjang trotoar di dekat rumah saya, mengapa bisa ada ban mobil untuk meletakkan tanaman ada di tengah trotoar? Yang sekarang terjadi, mengapa terjadi pembongkaran trotoar yang tak kunjung selesai? Trotoar juga dibuat seolah sudah ramah disabilitas, kenyataannya sebaliknya.

Pejalan kaki juga masih kesulitan untuk menyeberang di zebra cross. Banyak mobil dan motor yang tidak mau mengalah. Meski sudah ada lampu lalu lintas, tetap saja pelanggaran adalah hal yang lumrah. Bahkan seperti yang teman saya dari Korea tadi alami, hampir ditabrak oleh kendaraan. Saya pun pernah mengalami hal yang sama. Sampai kapan ini terus terjadi?

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta seharusnya tidak tinggal diam menyikapi hal ini. Anehnya, beberapa kebijakannya malah semakin menyudutkan pejalan kaki. Akhir tahun lalu Wagub Sandiaga Uno menuding pejalan kaki sebagai penyebab semrawutnya tanah abang.

Pak Wagub sepertinya kurang sering berjalan di trotoar Jakarta. Saya yang beberapa bulan lalu rutin berangkat ngajar ke STAN lewat Stasiun Tanah Abang emosi bukan main dengan pernyataan ngawur ini. Mengkambinghitamkan pejalan kaki, yang selama ini tertindas.

Semrawutnya Tanah Abang bukan karena pejalan kaki, tapi karena membludaknya PKL di trotoar dan juga banyak angkot yang ngetem. Saya melihat sendiri, penertiban PKL oleh Satpol PP juga cuma formalitas saja. Petugas menyuruh PKL untuk mundur dari tengah trotoar. Baru petugas melangkah maju. PKL sudah memajukan kembali dagangannya hampir menghabisi seluruh ruang trotoar. Dagelan!

Perspektif yang keliru ini akhirnya melahirkan kebijakan yang semrawut pula. Pemprov malah menyulap ruas jalan raya menjadi tempat untuk PKL berjualan. Meski trotoar di lokasi tersebut (katanya) disterilisasi hanya untuk pejalan kaki. Kata Gubernur sih untuk memenuhi rasa keadilan untuk pejalan kaki dan PKL. Apa iya adil?

Jika para pengambil kebijakannya tidak pernah merasakan menjadi pejalan kaki di kota kejam bernama Jakarta, selamanya kebijakannya akan sulit berpihak pada pejalan kaki. Artinya, pejalan kaki akan selalu kalah di Jakarta.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s