Wah Gak Bener Nih!

Trotoar GBK
Sumber Foto: viva.co.id

Jujur aja saya masih penasaran dengan Program Beautifikasi ala Pemprov Jakaratos. Kalian pasti sudah tahu kan program itu? Iya, yang lagi viral itu. Pelebaran trotoar untuk area rumput di sekitar Gelora Bang Kadir (GBK). Tempat berlangsungnya pembukaan olahraga unik seantero Asia, Asian Gemes.

Awalnya saya tahu itu pas sesi wawancara Pak Wakil Gubernur di Bale Kota. Kebetulan saya sudah seminggu ini dapat tugas ngepos di Bale Kota untuk nyari info langsung dari Pemprov soal persiapan Asian Gemes. Iya dong, sebagai kuli tinta di era digital ini, berita harus terbit dengan cepat dan akurat. Makanya saya bela-belain ngendon di Bale Kota biar dapat info langsung dari orang nomor satu atau dua di Jakaratos ini.

“Program Beautifikasi ini eeee sebagai bentuk upaya kami untuk eeee menyuksesisasikan Asian Gemes. Jakaratos eeee sebagai gudangnya Atlet gemes, harus berbenah dong ya. Nah Cantikness kota kita dinilai juga nih. Makanya trotoar harus bersanding eeee dengan rumput-rumput eeee yang bergoyang. Agar syahdu. Paham kan ya? Mosok wartawan ini pada gak paham,” begitu kata Pak Wagub.

“Saya bukan enggak paham pak. Tapi enggak sampai hati memahami diksi bapak yang njlimet. Apa iya kalau udah jadi pejabat itu harus punya bahasa seenaknya sendiri gitu ya? Apa biar kelihatan pintar harus gitu ya?” tutur saya dalam hati saja. Pertanyaan saya, tapi Pak Wagub sudah ngacir. Kata ajudannya Pak Wagub bergegas menuju GBK, ada launching Program Beautifikasi.

Huh ya sudahlah ya. Mungkin belum berjodoh saya mendalami Beautifikasi. Nanti kalau terlalu ahli, saya ditarik jadi jubirnya Bale Kota deh. Terus terang, saat ini saya belum kebayang punya pekerjaan lain selain jadi jurnalis.

Gontai saya langkahkan kaki yang mulai berat menuju kantin Bale Kota. Jakaratos siang itu begitu kejam. Panasnya menyengat ganas tanpa kompromi. Keringat mengucur deras membasah. Kantin Bale Kota kala itu sepi. Jurnalis dan para abdi Bale Kota memenuhi GBK untuk peresmian program unggulan Jakaratos itu.

Saya pun memesan gado-gado. Memilih untuk duduk di ujung kantin. Wah, mata saya menangkap sosok makhluk tambun di kejauhan. Berjalan mendekati stand Pizza di kantin. Sosok itu gampang dikenali. Ya iyalah. Kalian bayangin aja, di tengah Jakaratos yang panasnya aduhai, doi pakai kemeja seragam warna emas kecoklatan ala PNS Jakaratos dipadu jas hitam, dasi kupu-kupu warna pink, celana cut bray, dan sepatu boot. Pedenya tingkat akherat ini orang.

“Hei Dul… Dul Sani!”

“Hei hei Mat Ireng… Whats up bro? Wah wah enggak nyangka ketemu di tempat workinisasi saya ya Mat. Sedang apa dikau di sini Mat? Magangisasi ya?”

Bukannya ngejawab, saya malah mikir sejenak. Apa iya kultur bahasa “nisasi” ala Wagub ini sudah menjalar sampai ke karyawannya.

Dul Sani membawa satu slice pizza dan segelas soft drink, duduk di hadapan saya.

“Hei kok bengong gitu sih Mat? Pasti shocking ya lihat saya yang begitu mirip artisasi ini?”

“Enggak Dul. Bingung aja. Pertama, kok gue lupa kalo lo kerja di sini. Kedua, lo masih enggak ilang nyentriknya ya. Ketiga, lo kok enggak ikut ke GBK. Keempat, balik ke nomor satu, gue lupa lo kerja di sini sebagai hum..”

“Humas? Ya, lebih tepatnya orang yang dipercaya Pak Wagub sih. Hmmm, lebih dikenal dengan nama pejabat eselonisasi gitu deh. Pasti dikau baru magang ya Mat? Kenapa enggak hubungi saya sih Mat?”

Dul Sani masih enggak berubah dari yang saya kenal dulu. Dul Sani adalah teman masa kecil saya di Jakaratos. Sebelum ayah dan ibu pindah pulau tugas kerja. Dari dulu Dul Sani hampir sering menjawab pertanyaan lawan bicaranya dengan pertanyaan. Dia juga orang yang kelewat pede dengan penampilannya yang sering tabrak warna menurut dia matching. Dul Sani juga orang yang kelewatan komunikatif, semua orang diajaknya bicara. Makanya saya percaya kalo dia bilang dekat dengan Wagub.

“Wah keren banget Dul. Bangga gue sama lo Dul! Kawan main kelereng gue udah sukses jadi abdi Bale Kota ya sekarang. Bisa makan siang bareng Wagub lagi. Gue lagi tugas di sini Dul, biasalah wartawan. Asli gue lupa banget kalo lo kerja di Bale Kota Dul!”

“Hahaha. Ya begitulah. Semua buah kerjanisasi tanpa kenal lelah. Oh saya kira dikau itu maganglho. Banyak anak magangisasi di sini. Saya kebetulan ditugaskan langsung sama Pak Gub dan Wagub jadi mentornya teman-teman magang di sini. Harus pada banyak belajar sih mereka.”

Kalian perlu tahu nih, Dul Sani memang enggak pernah hilang congkaknya. Sepertinya dia dari kecil disuapin dari sendok mas sama orang tuanya. Jadi agak susah menjejak bumi. Tapi saya sih enggak pernah punya masalah pertemanan sama dia. Sesombong-sombongnya Dul Sani.

“Eh Dul, boleh gue tanya enggak? Tolong terjemahin ke gue dong Program Beautifikasi itu apa sih?” Saya langsung tembak Dul dengan pertanyaan yang mengganjal jiwa raga saya.

“Hmmm… Itu harus dijelaskan secara intelekisasi langsung dari ahlinya, Bro. Biar dikau langsung paham sekaligus mengerti dan tidak bolak balik nanya.”

“Jadi gimana nih?”

“Ya, gini aja. Minggu depan itu setelah acara pembukaan Asian Gemes, Pak Wagub mengajak saya untuk nontonisasi cabang olah raga sepakbola sarung. Negara kita lawan Jepun. Seru itu. Yuk, saya kasih dikau akses khusus interviewisasi dengan Pak Wagub. Gimana?”

“Ah Dul, lo memang juara!” Saya pun mengiyakan dengan tak hentinya melebarkan senyuman.”

***

Hari yang saya tunggu-tunggu pun tiba. Saya sudah menuliskan berderet pertanyaan di buku catatan. Smartphone sudah saya charge penuh untuk bisa terus komunikasi dengan Dul Sani. Recorder sudah siap ada di kantong kemeja. Identitas penanda jurnalis juga sudah melingkar di leher.

Ya, meski timnas negara tercinta yang akan bertanding sepakbola sarung, saya tetap memakai kemeja resmi untuk bertemu langsung dengan Pak Wagub. Biar menghilangkan gugup wawancara eksklusif ini, saya terus melatih bicara di depan cermin. Meskipun saya lumayan sering mewawancarai pejabat, tapi yang ini berbeda. Bahasanya yang keluar dari bibirnya harus dipahami dengan seksamaisasi. Eh maaf, maksudnya seksama. Tuh kan belum lama ngobrol sama Dul Sani saya sudah tertular. Kalian juga lho, hati-hati bacanya, nanti tertularisasi. Ah tuh kan!

Jakaratos agak bersahabat sore ini. Mungkin tahu kalau saya mau mewawancarai Pak Wagub. Saya pun berjalan menuju GBK. Sepanjang jalan, banyak pedagang yang menjual merchandise timnas sepakbola sarung kita. Mulai dari slayer, jersey kawe, sampai sarung bernomor 10 yang biasa dipakai striker muda kita yang bermain di Klub Sepakbola sarung Polandia, Egue Molando Vikini.

Wah GBK penuh bukan main. Saya tanya mbah google, laga ini dihadiri sekitar 80.000 penonton. Luar biasa.

Nah saya agak pusing juga nih. Sejak sejam yang lalu Dul susah dihubungi. Saya menduga pasti dia sedang sibuk sekali mendampingi Pak Wagub. Sampai kickoff pun saya masih sulit menghubunginya. Sedangkan tiket sudah habis terjual jauh hari sebelum laga pembuka ini. Saya akhirnya menunggu kabar Dul sambil nonton di layar lebar persis di depan GBK. Sampai turun minum, negara kita masih berhasil menahan imbang Jepun. Meski ada insiden robeknya sarung pemain belakang kita, karena kocar kacir menahan gempuran Jepun.

Sampai pertandingan selesai Dul Sani masih sulit dihubungi. Saya memutuskan untuk menunggunya di warung sate Taichi. Bukan kungfu bukan. Ini Sate yang lagi ngehits di Jakaratos.

“Mat sini mat.” Tiba-tiba lengan saya ditarik makhluk besar. Makhluk yang saya tunggu tunggu sejak tadi.

Tanpa membiarkan saya bicara satu huruf pun, dia langsung merepet.

“Mat, sorinisasi nih. Saya tadi sibuk sekali mendampingi Pak Wagub. Nih mumpung Pak Wagub lagi makan taichi juga di sebelah sana.”

Dul Sani menarik saya menerobos masuk kerumunan wartawan dan penjagaan ajudan Wagub. Saya pun ditahan oleh ajudan. Dul melanggeng masuk dan bicara empat mata dengan Wagub. Saya lihat, Dul juga menyempatkan Selfie dengan Pak Wagub.

“Wah akses yang Dul punya benar benar istimewa,” ujar saya dalam hati.

Saya pun langsung menghafalkan pertanyaan-pertanyaan yang ingin saya ajukan. Saking konsentrasinya, saya tak melihat Dul lagi di samping Pak Wagub. Dia menghilang seketika.

Saya memaksa untuk masuk bertemu dengan Pak Wagub. Saya mengaku teman dekat dengan Dul Sani, “orangnya” Pak Wagub.

Ajudan itu langsung menatap saya dengan garang.

“Lho, beneran saya itu kawannya yang tadi itu bicara dengan Pak Wagub.”

“Owalah, Mas itu temannya anak yang lagi magang itu tho?”

Hah!

DUL SANI! Wah Gak Bener Nih Dul!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s