Membaca Misbach: Pergerakan Sang Haji Merah

Mohammad Misbach adalah sosok Haji Revolusioner penentang kolonialisme-kapitalisme. Ia berada dalam garda depan faksi merah Sarekat Islam (SI). Baginya Islam bisa berjalan seiringan dengan komunisme. Karena itulah ia dikenal dengan sebutan Haji Merah. Upaya dan pemikiran sosok yang meneladani Nabi Muhammad dan mengagumi Karl Marx ini sangat progresif dalam mengalirkan Islam, komunisme, dan nasionalisme menjadi nafas gerakan di masanya.

Sejarawan dan Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Soewarsono menceritakan bahwa dalam buku yang ditulis oleh Profesor Harsa Bachtiar dari UI (KBR.id, 2013), Haji Misbach dikenal sebagai pemimpin pergerakan kebangsaan di Indonesia yang mempropagandakan ideologi komunis dengan kutipan-kutipan Al Quran. Namanya pernah diabadikan sebagai nama sebuah jalan di Solo, tapi setelah peristiwa 1965/1966 jalan itu dihapus.

Sejak awal bergerak, Misbach sudah menyadari pentingnya media sebagai alat penyampai gagasan tentang kemajuan dan pengayaan wawasan publik (Yus Pramudya Jati, 2016). Kemampuan jurnalistiknya terasah saat bergabung di Inlandesche Journalisten Bond, yang didirikan Mas Marco Kartodikromo pada 1914. Setelah itu, Misbach mendirikan surat kabar Medan Moeslimin (1915) dan Islam Bergerak (1917). Misbach menguraikan ide-idenya melalui berbagai tulisan-tulisannya di dua surat kabar progresif tersebut. Melalui kelihaiannya menulis dan kepandaiannya dalam bergaul ia pun lekas menarik perhatian orang banyak.

Seiring beranjaknya waktu, Misbach menjadi sosok yang kian lihai dalam mengombinasikan propaganda lisan dan tulisan. Ia mampu mengawinkan dua hal tersebut dan mewujudkannya dalam aksi dan praktik konsolidasi rakyat di berbagai tingkatan. Masyarakat mengenal Misbach sebagai sosok yang yang mau terjun langsung  untuk mengetahui kondisi umat islam, lantas berusaha mengatasi persoalan berbagai persoalan-persoalan yang dialami masyarakat.

Sebagai wadah menyalurkan gagasan politiknya Misbach tergabung dalam SI. Setelah terjadi perpecahan di tubuh SI, Misbach memilih untuk berada dalam barisan SI yang berhaluan komunis yang dipimpin oleh Semaun (SI Merah). SI Merah berdiri karena ketidakpuasan terhadap kebijakan SI yang ditetapkan oleh Tjokroaminoto yang menjauhkan dan menyingkirkan komunis dalam tubuh partai SI. Misbach mengkritik keras kebijakan tersebut dengan tulisannya, “Semprong Wasiat: Partjiediesipline SI. Tjokroaminoto Mendjadi Ratjoen Pergerakan Ra’jat Hindia”.

Pada Kongres PKI, 4 Maret 1923 di Bandung, Misbach hadir memberikan uraian tentang peranan Islam dan komunisme dalam melawan kaum kapitalis. Menurut Misbach, kaum muslim wajib memerangi kapitalisme, imperialisme dan kemunafikan yang oleh Misbach dirupakan sebagai polisi, pemerintah (Kolonial dan Kasunanan), serta kaum Islam Lamisan. Bagi Misbach, polisi adalah penindas, pemerintah adalah pengisap dan muslim lamisan adalah pengkhianat yang munafik (Tirto.id, 2017). Untuk itu Misbach sangat menjunjung cara-cara revolusioner dalam melawan ketidakadilan, karena manusia sama derajatnya, tanpa kelas. Hanya Tuhan yang layak dipadankan sebagai zat yang mahatinggi.

Membaca dan mempelajari Haji Misbach hari ini adalah upaya kita sebagai generasi kekinian agar tidak melupakan pemikiran, gagasan dan perjuangan pendahulu kita yang progresif. Pun, sebagai sebuah cara untuk tidak mensimplifikasi dan melabelkan komunisme, marxisme, PKI dalam sebuah narasi linear dibalut kepentingan politik penguasa. Apalagi melampiaskannya dalam berbagai bentuk ujaran kebencian dan tindakan kekerasan, atas dasar kita yang maha benar.

Seperti halnya melihat Misbach; yang sekian lama dicap sebagai “Haji Komunis” dan dihilangkan dalam sejarah hingga sulit untuk mencari literaturnya kini. Membaca Misbach dengan pikiran jernih membawa kita pada narasi bahwa ia merupakan sosok pejuang Indonesia yang menolak penindasan sejak dalam pikiran. Sosok yang sangat langka kini.

Mari melihat sejarah dari kacamata yang jernih!

 

*Telah diterbitkan di eindscloth.wordpress.com

Sumber:

KBR.id. 2013. Haji Misbach, Pemimpin Komunis Keagamaan yang Dihilangkan dari Sejarah. Diakses melalui: http://kbr.id/10-2013/haji_misbach__pemimpin_komunis_keagamaan_yang_dihilangkan_dari_sejarah/34220.html

Misbach, H.M. 2016. Haji Misbach Sang Propagandis. Kendi dan Octopus: Kab. Temanggung dan Yogyakarta.

Tirto.id. 2017. Pergerakan Sang Haji Merah. Diakses melalui: https://tirto.id/mohammad-misbach-sang-haji-merah-chBV.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s