Yuk Menulis Tanpa Batas

Berdiskusi dengan remaja adalah hal seru yang tak mungkin saya lewatkan begitu saja. Di sana tersimpan harta karun pengetahuan. Salah satunya soal berbagi tulis menulis.

Minggu lalu, Semesta memberi saya kesempatan menikmati proses menulis bersama kawan-kawan Remaja Youth Center PKBI dari Semarang, Rembang, Sragen, Grobogan dan Kebumen. Kegiatan super menyenangkan ini dihelat di kantor PKBI Jawa Tengah, di Semarang; kota yang tak asing bagi saya.

Angka digital penanda waktu di ponsel pintar saya menunjuk pukul 10 siang. Peserta mulai berdatangan masuk ke ruang 205. Sambil menunggu formasi lengkap, saya bercengkerama dengan empunya rumah, duet komandan acara ini: Bebek dan Eli. Biasalah sebelum berproses, saya kepoin dulu latar belakang peserta yang akan hadir. Ini penting untuk memilah metode apa yang akan digunakan untuk diskusi nantinya.

Nah, setelah dibuka dan melewati sesi perkenalan, tiba saatnya acara yang ditunggu-tunggu jreng jreng jreng… Sebentar. Emang beneran ditunggu-tunggu? Pede banget lo Yan! Hahahaha.

Pentingnya Perspektif

Karena pesertanya perwakilan Youth Center PKBI, Sesi pertama saya buka dengan mengajak peserta diskusi soal perspektif Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi (HKSR).

Mengapa dimulai dengan perspektif? Emangnya penting?

Penting pakai banget! Terinspirasi dari pesan Pram, sebagai penulis kita harus adil sejak dalam pikiran. Sebab pikiran ini yang akan menentukan arah tulisan kita. Termasuk keberpihakan kita terhadap suatu hal yang akan kita bahas dalam tulisan.

IMG_20180803_170104_HDR.jpg

Kok berpihak? Iya, karena sebagai penulis kita tidak akan pernah bisa bebas nilai. Lah kan kalau dalam penulisan jurnalistik bukannya harus bebas nilai? Idealnya begitu. Namun pada praktiknya, nilai yang kita anut turut mempengaruhi tulisan kita. Untuk itu yang diperlukan adalah memahami, mempraktikkan dan memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan dalam keseharian. Agar menjadi ruh dalam setiap tulisan kita.

Pada sesi awal saya mengajak peserta berdiskusi soal hal yang mendasar dalam HKSR remaja, yaitu informasi soal pubertas: saat menstruasi dan mimpi basah. Seluruh peserta tidak satupun yang mengatakan mendapatkan informasi itu dari ayahnya. Para peserta juga tak satupun yang menceritakan peristiwa reproduksi bersejarah dalam hidupnya itu kepada ayahnya. Sebaliknya, peserta menceritakannya pada ibunya.

Dari sini, kita bisa mengkritisi ada kekosongan peran ayah dalam peristiwa reproduksi anaknya. Saya mengajak peserta menganalisis, dari mana kekosongan peran ayah terjadi; mengapa hal tersebut bisa terjadi. Mengapa perempuan identik dengan peran-peran domestik; salah satunya mengurus anak.

Kita pun kudu membicarakan konstruksi budaya dominan: patriarki. Kultur ini menjangkiti nalar kita sampai hari ini. Hingga laki-laki bisa seenak jidat lepas tangan soal kesehatan seksual dan reproduksi, perkembangan keluarga; termasuk anak. Cilakanya, pelanggengan ini akan semakin menyudutkan perempuan.

Misalnya, ketika terjadi kekerasan seksual terhadap perempuan. Masih banyak orang yang menyalahkan perempuan. Pakaiannya lah, tindak tanduknya lah, mabuk lah, dll. Padahal, kekerasan seksual terjadi karena ada pelakunya. Tapi mengapa korban yang disalahkan?

Untuk memancing diskusi terkait ini saya membagi peserta dalam dua kelompok. Peserta menganalisa lima kasus kekerasan seksual, dengan menjawab pertanyaan mendasar: siapa yang salah dari kasus tersebut.

Diskusi berjalan seru. Para peserta dari dua kelompok beradu argumen. Meskipun masih ada yang menyalahkan korban, tetapi langsung disahut dengan argumen peserta lainnya yang membela korban kekerasan seksual.

Bagi saya diskusi ini sangat menarik. Perbedaan pendapat di kelas kecil ini menggambarkan situasi masyarakat kita saat ini. Masyarakat masih menghakimi korban kekerasan seksual. Tanda bahwa perjuangan untuk mewujudkan ruang hidup yang aman dan aman bagi seluruh warga negara tanpa kecuali masih berjalan terjal ke depan.

Menulis Tanpa Batasan

Setelah melewati setengah hari membedah dan menganalisa perspektif menulis, tiba saatnya berlatih menulis. Saya berbagi materi untuk mengantarkan diskusi dan praktik. Intinya, bahwa kegiatan tulis menulis harus dilakukan tanpa batasan. Ketika awal menulis usahakan jangan pedulikan kesalahan penulisan dan hal hal yang menyulitkan penulisan kita. Terus saja menulis apa saja. Jangan khawatir dengan tanda baca, dampak tulisan, teori menulis, dll.

IMG_20180803_174637_536

Setelah itu baru deh kita masuk proses penyuntingan. Di sini kita membenahi tanda baca, alur tulisan, dampak, dan seterusnya. Tapi untuk awal, kita tidak perlu repot untuk menyunting. Menulis saja tanpa jeda. Hal ini dilakukan untuk melawan kekhawatiran dalam diri kita: tulisan saya bagus enggak ya, aduh nanti alay lagi, aduh terlalu personal ini. Lupakan itu semua.

Peserta pun mulai praktik menulis, sebagai bagian dari perkenalan. Peserta menulis pengalaman masa lalu, masa kini, dan masa depannya. Cara ini ternyata lumayan efektif. Selama 15 menit peserta bisa menelurkan karya tulis. Semuanya menarik!

Latihan kedua, peserta saya minta untuk memaksimalkan indra untuk menulis pengalamannya saat makan siang bersama pada kegiatan ini. Wuow hasilnya di luar dugaan. Secara tidak sadar, para peserta mulai terlihat gaya penulisannya. Ada yang cenderung senang menggunakan gaya naratif-deskriptif. Ada pula yang sastrawi. Juga ada yang eksploratif.

Peserta mengaku bahwa sebelumnya sering menulis diary (cerita harian) di blog pribadi, menulis puisi, menulis status di medsos, ehhhh, hahaha. Bahkan ada pula yang rajin menulis berbagai tema termasuk sosial dan politik di Seword.com. Ciamik lah. Sesi ditutup dengan praktik foto dan menulis caption di Instagram.

Dari kegiatan ini, kamipun sepakat untuk membuat grup WAG untuk berbagi tulisan. Semoga WAG ini penuh warna warni dengan tulisan yaaa. Juga, semoga kegiatan tulis menulis tidak terhenti pada pelatihan ini saja :D…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s