Titik Pandang: Merenung, Memanusiakan

euforia yang membuncah, kala mata memandangi pada titik yang sama. konstruksi laki-laki dan tubuh tanpa busana. badan atletis yang diidam-idamkan. putih kulit, muda usia, tampan rupawan. dan segala bentukan-bentukan ideal. simbol simbol bergerak, berserak terdepan. dalam kotak tontonan, tubuh-tubuh tersudut, dibingkai sesuai selera pasar. sialnya kita turut merayakannya.

lini masa media sosial riuh berserak. dari televisi dan tatap mata langsung, berpindah medium menjadi segenggaman tangan. dan jarimu yang jadi tuhannya. segala ucap spontan yang menjalari jemari tak bisa terbendung. beragam reaksi terlontar karena adanya aksi. tapi analisa aksi-reaksi bagiku terlalu sederhana dalam menanggapi persoalan. jalan pintas, mengkhianati proses berpikir, anugerah sang pencipta untuk kita manusia.

segala ekspresi yang beragam bentuknya dari suatu aksi tentunya harus dihormati. sebagai bagian dari kebebasan berekspresi. yang menjadi batasan adalah penghormatan terhadap hak asasi manusia tanpa kecuali. itu wajib. setiap manusia harus dihormati secara utuh, bukan hanya sebatas penilaian atas tubuh. tidak bisa dihakimi atas dasar warna kulit, bentuk fisik, jenis kelamin, suku, agama, etnis, golongan. kita adalah manusia. manusia seutuhnya, dengan keunikannya masing-masing. bukan sepotong tubuh siap saji.

hadir hadiri pergulatan di dalam nurani, terdalam, sejak di dalam pikiran. lawan lawanlah kepongahan budaya yang rendahkan martabat manusia. sesungguhnya manusia tidak diciptakan dengan dikotomi peran. manusia manusialah yang mengkonstruksinya. laki-laki begini, perempuan begitu. kenapa tidak boleh perempuan begini laki-laki begitu? kenapa hanya laki-laki dan perempuan saja?

apa kita tidak bisa menanggalkan semua itu, lalu kita berinteraksi, saling mengasihi sebagai sejatinya kita: manusia. tidak saling menyakiti. segala opresi ini menimpa kita semua. membelenggu kemanusiaan kita semua. tanpa perlu menakar seberapa perih opresi itu. sesedikitpun opresi terhadap manusia harus dilawan. tanpa tebang pilih! tanpa perlu ditakar-takar. tanpa perlu kita alami sendiri. tanpa perlu dialami oleh siapapun.

gus dur menyolekku dalam pengembaraan pikir. ia mengingatkan, penghargaan terhadap nilai-nilai kemanusiaan harus dibawa dalam laku sehari-hari tanpa ada kata kecuali. perlindungan terhadap sesama manusia haruslah menjadi garda terdepan hati kita. apapun agamanya, keyakinan, bangsa, etnis, rasnya, wajib untuk dipenuhi hak-haknya. pandangan gus dur terhadap kesetaraan gender menyalakan cahaya dalam jiwaku. baginya, kesetaraan berangkat dari ruh hak asasi manusia yang sama. tidak ada satu manusiapun di dunia ini yang boleh diperlakukan tidak adil.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s