Jangan Cuma Lihat Orang dari Penampilannya Doang

“Buku itu kudu dibaca. Jangan cuma dihakimi lewat cover-nya aja. Orang pun sama. Apresiasi karyanya. Lihat dia sebagai subjek dari karyanya.”

Noe dan Londokampung
Sumber foto: Youtube @noerow dan @Bulekampung

Beberapa hari ini, saya lagi senang mengamat-amati video di Youtube. Dua di antaranya, Noe Row dan Londokampung.

Noe Row sudah memproduksi 192 video, memiliki 328,894 subscribers. Londokampung membuat 130 video, mempunyai 788,405 subscribers. Angka angka ini bukan nomor togel. Juga bukan mau membandingkan keduanya lewat angka. Angka-angka ini diraih mereka karena karya-karya video youtube yang unik dan menghibur.

Dari konten yang diproduksi, Noe lebih menyasar anak-anak dan remaja. Londokampung lebih luas, dari anak-anak sampai dewasa. Meski berdasarkan kekepoan saya di kanan kiri, Youtube banyak ditonton anak-anak. Ya enggak sih?

Saya tertarik pada karakter dua Youtuber ini. Noe anak medan yang merantau kuliah penyiaran di Jakarta. Khas sekali logat dan banyolan khas melayu. Londokampung sering dipanggil Cak Dave, bule berkewarganegaraan Australia yang lama tinggal di Surabaya. Cak Dave fasih sekali bahasa jawa suroboyonan. Dia sejak kecil tinggal di Surabaya, bersama bapak, ibu dan anaknya.

Noe mengingatkan saya pada usia-usia remaja saya dulu: petakilan, hobi ngerekam video dan mengeksplorasi editing. Bedanya saya dulu pakai handycam ala ala, hahaha. Kalau youtube sudah familiar tahun 2003an, mungkin saya sudah jadi Youtuber.

Meski saya lebih senang menulis dibandingkan tampil di video. Pasti akan kaku kayak kanebo kering kalo di depan kamera. Makanya lebih gembira ria jadi blogger ketimbang vlogger. Kalaupun video lebih suka di belakang kameranya. Maksudnya makan bakso di belakang kamera. Haha!

Kalau Cak Dave ini memang tipikal bule yang doyan tampil. Banyak sih emang Bule yang bikin video di sini. Semua dengan keunikannya masing-masing. Yang saya salut dari Cak Dave, dia ini fasih banget nget nget bahasa jawa suroboyonan. Edun deh. Logatnya bener-bener plek orang jawa timuran. Saya kalah fasih.

Noe, Selalu Dikira Laki-Laki

Yang juga menarik perhatian saya adalah dua Youtuber ini memiliki keunikan dari tampilan dan pembawaannya. Noe yang kesehariannya nyaman tampil dengan rambut pendek, berpakaian casual; kemeja, sweater, celana panjang atau celana pendek seringkali dikira warganet sebagai laki-laki.

Di beberapa videonya, Noe berperan sebagai Dilan yang ngegombalin Milea. Nah, tambah deh dedek-dedek gemay – sebutan Noe untuk para penonton yang usianya di bawahnya – dan penonton channelnya ini menganggap Noe sebagai laki-laki. Hanya karena kenyamanan berpenampilan yang dia pilih. Noe juga kadang berperan sebagai Milea, dengan wig panjangnya. Tapi tetap saja, warganet yang budiman selalu nyeletuk dengan rem blongnya, “lo laki-laki ya?”

Saya ngelihat ini mah malah sudah menjurus ke “teror”. Hampir di semua komen di videonya ada pertanyaan enggak penting, “Kak Noe laki-laki apa perempuan sih?” “Kok kalo perempuan ada jakunnya.” “Suaranya kayak laki-laki.” “Kok kayak laki-laki banget sih. Kalo perempuan enggak gitu.” Jujur, saya sih kesel banget. Ini udah tahun 2018 woi, kenapa otaklo masih dibelenggu konstruksi yang norak gitu.

Nah, cocok ini dijawab sama salam pembuka yang beberapa video terakhir selalu menjadi ciri khas Noe: “Tunggu dulu… Kelen sehat kan? Sehat lah, jangan sakit sakit….” Ini tuh dalem banget sebenarnya menurut saya. Noe ngajak kalian warganet untuk sehat. Bukan cuma sehat jasmani, tapi juga sehat pikiran.

Cak Dave, Bule Enggak Selalu Keminggris

Kalau melihat bule mendekat ke arah kita dan tiba-tiba mengajak kita ngobrol, yang ada di pikiran kita pasti kan: “nih bule pasti akan ngajakin kita ngobrol pakai bahasa inggris nih?” Eits enggak selalu. Cak Dave pasti akan ngajakin kamu ngobrol pakai bahasa jawa. Kalaupun dia pakai bahasa inggris, itu buat keperluan ngerjain orang di channel Youtube-nya.

Di beberapa video prank-nya, Cak Dave berkeliling tempat-tempat keramaian di Surabaya untuk menanyakan orang-orang di sekitar dengan bahasa Inggris. Nah kebanyakan, orang-orang kebingungan menjawabnya. Ada yang campur-campur bahasa kayak gado-gado: Inggris seadanya – Indonesia – Jawa. Ada yang kebingungan cuma bisa garuk-garuk kepala. Di akhir percakapan, biasanya Cak Dave langsung ngeluarin kemahirannya berbahasa jawa. Langsung disambut dengan kaget dan ketawa ngakak oleh mereka yang jadi target keusilan Cak Dave.

Cak Dave biasa berbahasa Jawa dengan keluarganya. Istri Cak Dave, Mbak Santi itu orang Jawa. Mereka memiliki anak, namanya Jago. Hmmm, nama yang ngindonesia juga dan unik. Ayahnya Hume, sejak dahulu biasa dipanggil Hendro. Ibunya Heather, di Indonesia akrab dipanggil Heda atau Ida. Gimana ceritanya bisa punya nama Indonesia? Nah itu ada di episode “KENAPA KAMI PILIH INDONESIA? Ngobrol sama Keluarga Londokampung.”

Nah, penampilan Cak Dave yang buleis ini secara sekilas “mengelabui” orang-orang kita yang terbiasa berpikir linear. Kalo bule ya udah pasti berbahasa Inggris dong. Malah ada satu episode di mana dia pura-pura belajar bahasa Inggris di Kampung Inggris Pare, Kediri.

Semua orang bisa aja mengira, lah ini bule ngapain di sini. Mungkin juga dia guru kali ah. Ternyata Cak Dave jadi murid. Dan dia akting berbahasa ingris terbata bata. Malah sering berbahasa jawa. Asli kocak! Bahkan waktu dia lagi di Australia, dia ngerjain orang-orang di sana, dengan ngajak ngomong bahasa jawa. Ya iyalah pada enggak paham. Hahaha!

Ada suatu ketika, dia buat konten, ada orang luar menanyakan ke jalan ke dia dengan bahasa inggris. Dia pura-pura enggak paham dan nanggepin dengan bahasa Indonesia. Lalu, dia nanya ke orang Indonesia di sekitar. Orang itu enggak paham. Malah bilang, “lah kamu kan bule?” Dijawab sama Cak Dave, “ya iyo, aku wis lali. bijiku (nilai sekolah) mbiyen entuk 25.” Dan orang-orang di sekitar pun kebingungan. Haha.

Satu lagi yang bikin saya terkesima lihat karyanya Cak Dave. Sebagai bule, dia itu tidak mendewakan bahasa Inggris sebagai bahasa pergaulan di sini. Dia sangat menghargai bahasa Indonesia dan bahasa lokal (dalam hal ini bahasa jawa). Bahkan dalam videonya, dia kadang berbahasa Inggris dengan logat jawa (javanese english atau javanglish). Sementara itu, kita yang lahir di sini malah berlomba lomba keminggris. Kalau ada orang yang berbahasa Inggris dengan logat yang kejawa-jawaan atau kelokal-lokalan, langsung disambut dengan ketawa ngeledek.

Iya memang semua bahasa luar itu wajib dipelajari. Tapi enggak apa-apa juga kalau kita menggunakan logat khas kita untuk melafalkannya. Sah sah aja kok.

Nah. dari Noe dan Cak Dave saya belajar tentang bagaimana kita menghargai karya dengan tidak melekatkan simbol-simbol pribadi si pembuat karya di dalamnya. Apalagi sampai menghakimi karena itu. Tidak perlu kita mempertanyakan lagi soal, “lo laki apa perempuan?” “kok kalo perempuan, kayak laki sih,” “kalo laki kayak perempuan”, “keliatannya bule, tapi kok enggak bisa bahasa inggris sih”, “lho kok bule bisa bahasa jawa”, dll dsb.

Enggak perlu lagi hal-hal enggak penting itu cuy. Nikmati aja hasil karyanya. Apresiasi  karyanya yang keren-keren itu.

Jadi warganet itu sebenarnya simpel kok di era digital ini. Kritis itu wajib. Tapi lo enggak perlu capek-capek untuk mempertanyakan hal-hal yang masuk ranah pribadi. Dan yang lebih penting adalah apresiasi karyanya. Sampai hari ini, kita bisa nonton karyanya karena mereka masih semangat berkarya terus. Jangan sampai komenlo yang kasar dan enggak jelas juntrungannya itu mematikan semangat berkarya Youtuber-Youtuber keren ini.

Semangat terus Noe dan Cak Dave! Kalian luar biasyaaaaaa…… *pinjam gaya Ariel Noah 😀

One Comment Add yours

  1. dian berkata:

    Jikalau menemukan wifi yg memadai kan kulihat yucub mereka. Marai penasaran

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s