Cita Cinta (3)

3

lamun menguap dihinggap belalang di dahan tubuh hujan. terpatri meraya tumbuh rasa sumringah. senyumanku menaklukkan amarah semarang. kala teriknya menembus ruang ruang kuasa bernama tubuh dan seonggok darah yang mengalirinya. tiba juga kata pisah menemui kebisingan ketidakpastian.

hati menemu titik eskalasi, merekah tepat kehadiranmu untuk yang terakhir. tawang menyimpan hawamu, kala sematkan semangkuk biru dalam lelaku. perpisahan ini adalah umbara bagiku juga untukmu. kita akan merayakan seribu hari kehilangan berkali-kali lipat. yang esa telah menggariskan melalui titip semesta. kelak alam raya masih menyimpannya. untuk tidak dibuka kembali di kemudian hari. karena kisah sudah berbeda buku. biarlah ia teronggok dalam perpustakaan kita. meski berdebu.

ah sudahlah pikirmu dan pikirku jua. jiwa muda kita kelak kan ada masanya. begitu pula pertukaran rasa ini. disambati hati manis pahitnya. kenang tiada lain untuk berkisah sahaja. bahwa jejalan menuju keheningan pada masanya kan menutup serangkaian rasa yang pernah singgah. walau di sudut kemarau. dan gerimis tak jua menjemput.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s