Semarang: Sebuah Analogi Koleksi Pakaian Kesayangan dalam Almari Lawas

Ryanforwordpress

Kota apa yang menyimpan banyak kenangan bagimu?

Ingatanku lekat resap pada satu kota: Semarang. Ya, kota ini bak sebuah almari lawas berisi koleksi-koleksi pakaian kesayangan masa lalu yang enggan kali kukeluarkan. Apalagi sampai kubuat garage sale. Tak mungkinnya aku setega itu. Padahal kini jika kupakai, muatpun tidak.

Lima belas tahun lalu, Semarang adalah tempatku menenun masa depan. Ia adalah bagai koleksi topi-topiku yang paling kusayang. Menjaga warasnya isi kepalaku. Menyerap serap ilmu-ilmu yang sebelumnya hanya kubaca dari buku. Komunikasi, aku begitu gandrung dengan jurusan ini. Meski dulu, aku tak tahunya pun akan jadi apa kelak dengan menggenggam ilmu itu. Haha. Sok tahunya aku. Oh iya, aku dikenalkan Semarang dengan Karl Marx dan kawan kawannya.

Lantas dengan begitu jangan kau pikir aku rajin kuliah. Berjalannya waktu, aku sadar bahwa pelajaran itu tak hanya didapat di ruang kelas. Bagiku, Semarang adalah ruang komunikasi. Ia adalah serupa kaos warna warni. Ia memberikanku kesempatan bersua dengan beragam kawan-kawan unik nan gila. Pada mereka aku berguru banyak hal. Dari cara bagaimana bisa bertahan hidup dari himpitan tanggal tua, bolos kuliah yang berfaedah, membuat film buruh, berbagi nasi bungkus sembari keliling Semarang bersepeda, sampai bermusik hingga waktu lulus pun molor.

Semarang adalah seumpama celana jeans sobek sobek. Ia adalah ruang ekspresi. Aku menemukan sisi lain diriku di kota ini. Kota yang menjadi saksi pula bahwa aturan jangan sampai membatasi ekspresi. Aku diajak menyelusuri geliat lorong lorong bawah tanah musik metal. Diajak bertarung ide untuk menciptakan kreasi musik kritik sosial. Diberikan kesempatan juga pada posisi harus berhadap-hadapan dengan pihak Rektorat ketika membuat acara musik dengan konsep yang melampaui batas, panggung di atas atap kampus. Akhirnya acara diadakan tanpa izin. Hingga pihak Rektorat berang dan menggunakan kekuasaannya untuk merepresi.

Semarang juga adalah seperti kaos kaki polkadot warna merah. Bagiku ia adalah wadah keusilan masa remajaku. Pernah suatu kali aku dan sahabatku pernah punya ide gila. Mengambil marka jalan di kantor kantor pemerintahan dan kampus. Itu itu lho marka P coret, belok kanan, belok kiri. Penting banget ya. Yang menarik, kami pernah mengambil marka itu di gedung tempat kami akan diwisuda. Waktu itu sedang tidak begitu sepi dan lagi ada satpamnya. Sebelum ngambil, aku sempat ngobrol dengan satpamnya. Aku pernah pula ngambil tempat sampah besi di ATM, untuk ditaruh di kosan. Pula, hampir saja mengambil plang bertuliskan “Parkir Khusus Ketua DPRD”. Enggak jadi karena ada cctvnya. Ahahaha.

Sebagai teman berjalan, Semarang juga adalah serupa sepatu converse buluk. Ia menyimpan banyak jejak. Termasuk, bergadang bersama kawan-kawan kelas ngerjain tugas dosen. Ah ini pengalaman yang masih menjejak di ingatanku. Kami sering menginap di salah satu rumah kawan untuk ini. Sebagai mahasiswa, nginap menginap di rumah kawan untuk tugas kampus adalah makanan sehari-hari waktu itu. Karena ponsel pintar belum ada, jadi koordinasi kudu dilakukan dengan tatap muka. Alasannya klasik saja, kalau telepon mahal.

Pada suatu kali kami mengerjakan tugas hingga larut malam di kontrakan kawan. Biasa lah ya, namanya juga remaja pasti berisik bercandaan teriak teriak. Adalah seorang kawan yang teriak kegirangan kedatangan seorang kawan senior kami. Ternyata teriakannya mengganggu Pak RT, yang tidak lain adalah tetangga sebelah. Pak RT ngamuk, dicekiknya leher kaos kawan itu. Sambil meracau tak tentu arah Pak RT nyeramahin kami. Aku dan seorang kawan dipanggil ke rumahnya. Habislah kami diceramahin semalam suntuk. Ahahaha!

Ya begitulah kira kira Semarang yang ada di almari ingatanku. Gemas gemas ngangenin!

2 Comments Add yours

  1. Em Amir Nihat berkata:

    Saya tinggal nunggu Sepatu Vans Buluk ada ga ya. Heheh. Btw mantap kisahnya. Unik n inspiratif

    Disukai oleh 1 orang

  2. syakurian berkata:

    Hehehe. Vans Buluk ada dong, beberapa pasang. Setiap pasangnya punya kenangan masing masing. Terima kasih sudah mampir 🙏

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s