Melancong Tersandung Imigrasi

IMG_20180114_141446_HDR

Setiap langkah perjalanan pastilah mengandung kenangan.

Dari banyak perjalanan yang penuh kenangan itu salah satunya adalah waktu saya, sisy, dan beberapa kawannya melancong ke Melaka Januari lalu.

Waktu itu kami memilih untuk terbang dari jakarta ke singapura. Lalu lanjut perjalanan darat ke melaka. Dari melaka, kami balik lagi ke singapura naik bus. Semacam setrikaan pula kita ya kan. Mondar mandir.

Itulah kalau ongkos cekak tapi semangat melancong membara. Haha. Kami pilih yang tiket pesawatnya murmer. Penginapan di melaka pun aman di kantong, karena nginap di rumah tantenya kawan. Di Singapura yang hanya 1 hari itu kami nginap di hotel backpacker.

Nah naik bus dari Singapura menuju Melaka juga kudu diakalin. Kalau mau yang cepat, bisa aja cari yang langsung. Tapi kami waktu itu naik bus Causeway Link, yang menuju Terminal Larkin, dekat dengan Johor Bahru Sentral (JB Sentral). Harga tiketnya SGD 3,5. Naiknya dari Queen Street. Sebelumnya naik MRT ke Stasiun Bugis. Dari situ jalan ke Queen Street. Bus busnya berjejer di pinggir jalan.

IMG_20180113_174038

Nah serunya, waktu itu Sisy dan kawan-kawannya bawa koper. Jadilah kita geret geret koper menelusuri trotoar Singapura. Untungnya trotoarnya sedikit lebih nyaman dibanding Jakarta. Haha.

IMG_20180113_133103

Dari Queen Street sekitar 45 menit, bus berhenti di perbatasan imigrasi di Woodlands. Kami pun turun pemeriksaan paspor di imigrasi, untuk keluar dari Singapura. Setelah beres, kami pun bergegas naik bus lagi. Busnya berbeda dengan yang kami naiki tadi, tapi kudu Causway Link biar tetap enggak bayar lagi. Tinggal tunjukkan tiket yang kita beli tadi.

IMG_20180113_174351

Saya pikir pemeriksaan imigrasi udah kelar, ternyata bus berhenti lagi di JB Sentral, perbatasan imigrasi Malaysia. Kami pun turun lagi untuk pemeriksaan paspor masuk Malaysia. Setelah kelar, harusnya kami naik Causeway Link lagi menuju terminal bus Larkin. Tapi kami enggak nemuin busnya. Akhirnya kami naik bus kota. Terpaksalah keluar kocek lagi beberapa ringgit.

Nah di Larkin, kami beli tiket bus lagi menuju Melaka Sentral. Beruntung bus yang kita tumpangi nyaman, dengan harga sekitar 20an ringgit setara 75 ribuan rupiah. Dari Larkin ke Melaka Sentral kurang lebih 3-4 jam. Nah total perjalanan yang kami tempuh dari Singapura ke Melaka sekitar 7 jam, plus istirahat dan ngantri di imigrasi. Haha, mayan lah ya pegelnya.

IMG_20180113_200824

Keseruan selama kami di Melaka, akan saya ceritakan lain kali ya.

Setelah dua hari di Melaka, kami pun balik ke Singapura lagi naik bus. Kenapa Singapura? Karena pesawat kita balik ke Jakarta dari sana. Alasannya, ya karena lebih mure tadi itu.

Kali ini kami nyari bus yang langsung ke Singapura, tanpa transit dulu di Larkin. Ah sayangnya saya agak lupa harganya. Kami naik dari Rumah Sakit Mahkota (Mahkota Medical Center) di Jalan Merdeka, pagi hari.

Kurang lebih 3 jam kami berjumpa lagi dengan petugas imigrasi Malaysia di JB Sentral. Pemeriksaan tiada hambatan berarti alias lancar lancar saja. Lanjut deh masuk bus lagi.

Bus pun sampai ke pemberhentian selanjutnya. Perbatasan imigrasi Singapura, Woodlands. Kami pun turun kembali untuk menjalani pemeriksaan paspor.

Siang itu antrian cukup padat. Kami berempat berada di dua baris antrian yang berbeda. Saya dan Sisy berada di antrian yang sama. Sisy di depan saya. Sedangkan Rina dan Dina di antrian sebelah.

Setelah paspor Sisy dicek, petugas berganti shift. Saya lihat petugas kayaknya lagi senang kali nanya nanya, macam petugas sensus. Bah.

Sisy dan Rina sudah selesai. Dia memberi saya kode, menunggu saya dan Dina di depan. Saya lihat Dina duluan diperiksa paspornya. Dina punya masalah, sidik jarinya sulit di-scan. Selama proses, dia bilang ke saya kalau tungguin dia di depan, sepertinya dia akan dibawa ke kantor imigrasi.

Saya pun mengiyakan. Tiba giliran saya maju. Petugas dengan bahasa melayunya mewawancara saya dengan kurang bersahabat. Ia tanya saya ke sini sama siapa, tinggal di mana, dll.

Tiba-tiba dia bilang saya disuruh ke kantor untuk diwawancara lebih lanjut. Saya pun menanyakan kembali, apa ada masalah dengan paspor saya. Kenapa saya ditahan. Petugas diam seribu bahasa. Saya geram bukan kepalang. Oke, saya ikuti cara mainnya. Saya mengikuti untuk ke kantor, di gedung yang sama.

Di sana saya ketemu Dina. Banyak orang pula di sana yang tidak tahu kenapa mereka di sana. Di dinding ruangan tertempel kertas kami tidak boleh ngobrol dan main hape. Mana ruangannya dingin kali. Ngehek banget ini.

Setelah sejam lebih nunggu tanpa kejelasan, nama saya dipanggil. Saya masuk ruangan. Ada dua orang petugas di sana. Dia nanya dengan pertanyaan mirip mirip dengan petugas di bawah tadi. Dompet saya diperiksa pula. Tapi pertanyaan saya tak terjawab: kenapa saya ada di sini. Masalahnya di mana. Saya memang baru perpanjang paspor, dengan drama yang aduhai pula. Jadi, saya terus menanyakan apa ada masalah dengan paspor saya. Saya mencoba mengajak dialog, tapi enggak digubris. Petugas lebih dingin dari tembok.

Sampai akhirnya saya dan Dina dilepaskan setelah dua jam dalam ruangan dingin yang penuh ketidakjelasan.

Di tempat parkir, Sisy sudah menunggu saya dengan khawatir. Bus kami pun sudah meninggalkan. Akhirnya kami naik bus lain dan kudu bayar lagi.

Saya masih tak berhenti misuh misuh di jalanan. Hawa Singapura menyapa kembali. Masih satu hari kami di sana. Dengan kekesalan yang masih terus saya ingat sampai kapanpun.

One Comment Add yours

  1. dian berkata:

    Whoaaa…
    Ayo tulis lagi cerita perjalanannya maseee

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s