Tepat Waktu, Sebuah Pelajaran dari Ibu

Kalau ada penghargaan terhadap sosok yang paling tepat waktu, saya dengan seyakin-yakinnya akan menominasikan Ibu.

Ya, Ibu adalah sosok panutan saya dalam menghargai sang waktu. Sejak kecil, Ibu sudah mengenalkan saya dan adik saya Ajeng untuk belajar mengelola waktu. Dan disiplin menjalankannya.

Sejak kecil Ibu sudah terbiasa hidup teratur. Ibu memikul tanggung jawab untuk mengurus adik-adiknya. Pagi sebelum berangkat sekolah, Ibu dengan telaten menyuapi adiknya. Pulang sekolah hingga malam, berbagi tugas mengurusi eyang yang sedang sakit. Malamnya kembali menjaga adiknya dan menyempatkan sedikit waktunya untuk belajar.

Ternyata itu semua tidak Ibu jalankan dengan spontan. Semua jadwal itu sudah diaturnya, dicatat, dan dipatri dalam ingatan. Bagi Ibu, tepat waktu adalah suatu keharusan. Jika tidak, waktunya akan habis terbuang percuma untuk mengurusi hal-hal yang seharusnya sudah selesai dilakukan. Sehingga kegiatan berikutnya pun akan molor.

Waktu masih kerja, Ibu selalu berangkat ke kantor pukul 5 pagi. Kadang bareng Bapak, tetapi lebih sering naik kereta sendiri. Perjalanan Ibu ke kantor cukup jauh. Rumah kami di Pondok Kelapa, ujung Jakarta Timur. Kantor Ibu di sekitar Daerah Kota.

Kondisi kereta saat itu tidak senyaman sekarang. Belum ada AC. Harus puas dengan kipas angin kecil yang muter aja udah syukur. Kaca jendela yang dibuka. Berhimpitan di dalam susah gerak macam ikan asin dijemur. Juga, masih banyak yang naik di atap kereta karena tidak kebagian naik di dalam. Kartu keretanya juga belum pakai elektronik bos! Haha. Masih pakai kartu peron yang dibolongin. Meski waktu itu sudah ada kartu berlangganan.

Saya ingat betul, meski masih kecil saya seringkali khawatir kalau Ibu naik kereta yang berhimpitan seperti itu. Karena tidak berani ngomong langsung, sampai terbawa mimpi. Saya mimpi jadi ninja untuk menyelamatkan Ibu dari penjambret di kereta. Penjambret itu mengambil tas Ibu, Pertarungan sengit terjadi di atas kereta. Sang Ninja pun berhasil melumpuhkan penjambret. Tas saya kasih ke Ibu. Happy ending. Haha. Biasa, efek lagi ikutan karate dan sering nonton film kungfu. Baru beberapa tahun lalu saya ceritakan. Ibu terkekeh.

Saya pernah menanyakan kenapa Ibu berangkat sepagi itu. Ibu bilang, Ibu enggak mau terlambat. Jika agak siangan sedikit kereta sudah berjubel. Lebih enak berangkat pagi. Lebih nyaman dan masih bisa mengerjakan banyak kerjaan di kantor. Masih bisa menyiapkan sarapan, dan makan bareng di rumah. Dahulu waktu saya dan Ajeng masih sekolah, kita punya kebiasaan sarapan pagi, setelah Subuh. Pastinya karena terpengaruh Disiplin tingkat tinggi ala Ibu.

Nah, kebiasaan menghargai waktu itu Ibu bawa sampai sekarang. Jika ingin pergi ke luar kota Ibu sudah packing dari sebulan sebelumnya. Semua tiket pesawat, booking penginapan sudah beres sejak awal. Kalau saya ada janji akan mencetak tiket, pastilah janji itu dikejar-kejarnya sampai tiket ada di tangannya. Berasa dikejar-kejar debt collector ye kannn.

Dulu pas baru lulus kuliah, saya pernah janji sama Ibu untuk nganter ke pasar jam 9. Alamak, saya ketiduran. Terbangun jam 9 lebih. Ponsel genggam sudah berbunyi sejak jam 8. Tercatat sudah banyak kali panggilan tak terjawab dari Ibu. Terakhir saya baca SMS, “Mas, Ibu jalan duluan ya naik ojek. Keburu siang.”

Saya bergegas bangun, langsung turun ke bawah. Ibu sudah meluncur ke pasar. Ibu sengaja enggak ngetok kamar saya untuk ngebangunin. Saya menyesal sekali. Ketika pulang, Ibu enggak marah sama sekali. Itu dilakukannya karena menepati waktu. Banyak hal bisa terjadi di luar perkiraan kalau kita enggak tepat waktu. Pasar rame lah. Yang dicari habis lah. Di jalan udah macet. Begitu penjelasan Ibu. Sangat masuk akal.

Hingga hari ini, Ibu adalah alarm bagi kami sekeluarga. Kan udah ada alarm hape dan juga jam weker? Saya lebih percaya Ibu dibanding semua jenis alarm yang ada di dunia. Sampai suatu waktu telepon rumah saya rusak. Ibu kesulitan membangunkan saya dan Sisy. Kami berdua tidurnya pelor dan terganggu gugat oleh bebunyian apapun, kecuali suara Ibu. Haha. Alarm di hape gak berguna pula. Ibu akhirnya nyamperin ke rumah kami, yang letaknya berdekatan dengan rumah Ibu. Dipanggilnya namaku di depan jendela kamar dekat pagar. Setelah terbangun Ibu bilang. Tadinya mau Ibu lempar batu tapi takut pecah. Candanya, sambil cekikikan.

Sebuah Pelajaran

Tepat waktu, ini dua kata yang saya pelajari banget banget dari Ibu. Dua kata ini sangat lekat dengan kesehariannya. Tidak pernah menyia-nyiakan waktu. Hidup sangat teratur. Saya malah melihat Ibu bukan seperti robot yang hanya menepati waktu. Tapi sosok pembawa nilai-nilai, yang tidak hanya berteori tapi menjalankannya. Ibu enggak pernah ceramah soal ini ke saya. Tapi apa yang dijalankannya, sangat amat menginspirasi, untuk kemudian saya jalankan.

Waktu saya SD sampai SMA, saya selalu menjadi murid yang hadir lebih dahulu di kelas. Malah waktu SMA, saya menjadi murid pertama yang hadir di sekolah selama tiga tahun. Sampai sekolah jam 6 lebih sedikit. Seringkali gerbang sekolah masih digembok. Sampai sekolah, masih ada waktu untuk melanjutkan tidur dan bikin puisi. Anaknya puitis kali rupanya. Haha.

Nah kebiasaan ini saya lanjutkan ketika kuliah di Semarang. Saat les bahasa inggris, saya selalu hadir 30 menit sebelum kelas dimulai. Begitupun ketika perkuliahan, saya selalu hadir jauh sebelum dosen masuk kelas. Nongkrong dulu di kantin kampus. Begitu juga ketika janjian dengan kawan ataupun dosen, saya tidak mau terlambat. Seringkali malah mereka yang datang terlambat.

Ketika memasuki masa bekerja, budaya jam karet lumayan membuat saya gerah. Perlahan saya mulai terpengaruh. Beberapa kali saya merasa bahwa terlambat itu bisa ditolerir, karena yang lain juga terlambat.

Ternyata itu anggapan keliru. Kudunya dibalik. Mereka terlambat ya terserah mereka. Yang penting kita tepat waktu. Jangan sampai kita menyulitkan orang-orang yang janjian dengan kita. Itu prinsip yang saya pegang.

Kebiasaan menghargai waktu ini saya rasakan banyak manfaatnya bagi diri saya. Kala itu saya sedang mengikuti proses seleksi untuk menjadi copywriter di Harian Kompas. Saya mendapatkan jadwal wawancara jam 11. Saya pikir kalau saya sampai sana sekitar jam segitu jalanan akan sangat macet. Dari rumah jauh pula. Jadilah saya ngendon di Kantor Kompas sebelum jam 8 pagi. Karyawan masih baru berdatangan. Saya datang ke ruangan HRD untuk tanda tangan daftar hadir.

“Wah pagi sekali ya mas. Silakan tanda tangan. Nanti, Mas duluan wawancaranya ya. Yang pertama.”

“Lho kok bisa mbak. Kan saya jam 11 nanti. Yang lain nanti gimana?”

“Enggak apa-apa. Kan Mas yang datang duluan.”

Wah senangnya bukan kepalang.

Saya pun jadi wawancara duluan, sejam setengah kurang lebih. Dan saya sangat menikmati proses wawancara. Pikiran saya juga masih segar. Tidak deg degan nunggu giliran wawancara. Itulah bonus dari datang sebelum waktunya. Haha.

Nah berikutnya juga saya praktikkan waktu ngajar di STAN. Kelas yang pertama, Saya dapat kelas pagi sekali, jam 07.30. Saya selalu hadir di kelas jam 7 pagi. Hanya sekali saya sampai mendekati jam 07.30. Dan itu sudah ngos ngosan berlari biar tidak terlambat. Mengingat kelasnya ada di lantai 3. Tapi kok enggak kurus-kurus ya. Hmmm.

Kelas kedua dimulai pukul 11. Saya sudah nongkrong di bangku tunggu depan kelas dari jam setengah sebelas. Kalau ketika mahasiswa dulu saya berusaha berada di kelas sebelum dosen datang. Sekarang, saya selalu membiasakan datang di kelas sebelum mahasiswa datang. Karena banyak hal yang bisa dilakukan di kelas sebelum mahasiswa datang. Setengah jam itu adalah waktu yang berharga bagi saya untuk mempersiapkan bahan dan metode diskusi. Juga, memastikan perlengkapan di kelas mendukung apa yang mau disampaikan di kelas.

Bagi saya, menghargai waktu itu akan selalu berguna di sepanjang hidup. Terima kasih Ibu. Muah!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s