Maka Tertawalah

Foto: Duniaku.net

Muslim dan Coki adalah dua komika yang memilih jalan terjal di panggung tawa: dark comedy. Genre ini menggelisahkan nilai nilai yang dianggap kebanyakan orang “benar”, bahkan paling “benar”. Termasuk agama.

Enggak ada yang salah dengan ini. Bahkan dengan genre ini malah komedi digunakan sebagai pisau untuk menguliti “kebenaran” dengan tafsir tunggal tersebut, yang seringkali ditafsirkan semena-mena.

Nah, yang orang-orang permasalahkan kan katanya Coki-Muslim ini salah tempat dalam berkomedi. Kata mereka, di Indonesia enggak bisa disamakan dengan Amerika dan negara yang jauh lebih terbuka, yang lebih menerima dark comedy sebagai banyolan kritis bermakna. Makanya hal lumrah jika George Carlin, Louis CK, dan banyak lagi komedian legendaris dunia yang menggunakan komedi untuk mengkritik agama. Rowan Atkinson “Mr Bean” yang kita kenal kocak dan konyol aja ngebawain bahan agama dengan santainya.

Lalu jadi salah tempat gitu kalau Coki-Muslim bawain dark comedy di Indonesia? Enggak. Enggak sama sekali. Justru yang salah adalah orang-orang yang menelan mentah agama, lalu meninggikan fanatisme. Kemudian siap menerkam orang yang berbeda sudut pandang. Apalagi mengancam keamanan komedian dan keluarganya.

Pertanyaannya kemudian, kalau merasa beriman, beragama, religius tingkat tinggi, mengapa mesti marah kalau cuma agama, simbol-simbolnya termasuk Tuhan, dikritik atau bahkan dimaki-maki orang? Apa gunanya marah? Wong Tuhan itu sudah maha, buat apa dibela-bela? Itu Tuhan apa Capres idola ? Ehhhhhh.

Gusdur pernah berpesan, kita butuh Islam Ramah, Bukan Islam Marah. Ini kalimat sederhana dengan makna yang sangat dalam. Renungan bagi kita semua untuk menegakkan toleransi beragama dan berkeyakinan. Biar jadi umat yang menerima komedi sebagai sebuah kelucuan surgawi. Kelucuan yang membuat kita bahagia jiwa raga.

Bagi saya, bangsa yang berjiwa besar adalah bangsa yang menghargai komedi, bangsa yang gemar tertawa dan mencipta tawa. Jadi, komedi dalam bentuk apapun itu harus didukung. Biar kita enggak mati dalam keadaan serius. Nanti kaku kayak kanebo kering.

Saya percaya, tidak ada satupun komedi yang bermaksud membenci, apalagi menista agama. Coba tengok dalam hati kita, jangan jangan dalam hati kita bersemayam kebencian. Bahkan sampai berkerak. Hiya. Tapi itu juga kalau punya hati. Hiyaaa.

Maka, tertawalah sebelum harus punya label halal untuk tertawa 😀

Hiya hiya hiya.

One Comment Add yours

  1. Dian Purnomo berkata:

    Paling lelah kakak, kalau ada orang baper nggak jelas. Mendingan suruh nonton ILC aja mereka lah. Mungkin segmennya emang di onoh.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s