Kekerasan, Tak Kan Pernah Bisa Selesaikan Apapun

sumber foto: theconversation.com

“Kekerasan, kekuasaan, otoriter… Itu semua bukan jalan keluar dari orang tua untuk anak. Anak butuh diajak ngobrol.”

Kalimat itu muncul langsung dari Bapak, ketika kami sedang berdiskusi tentang pola asuh orang tua-anak.

Kami pun nostalgia tentang masa ketika Bapak dan Ibu menggunakan otoritasnya sebagai orang tua ke anak-anaknya dengan jalan represif, menjurus kekerasan.

Dahulu waktu  saya masih kecil, Bapak adalah tipikal orang tua yang galak, cenderung otoriter dan represif. Ia seringkali menggunakan ancaman kekerasan agar saya menuruti perintahnya.

Sepulang Bapak kerja adalah waktu yang rawan “gesper melayang”. Pertanyaan apapun yang dijawab tidak sesuai dengannya, bisa siap kena marah yang berujung pada keluarnya si gesper dari tempat semestinya.

“Sudah ngerjain PR belum?” “Sudah mandi belum?” Dua pertanyaan yang lumayan mengundang amarah Bapak jika dijawab dengan kata “belum”. Apalagi kalau Bapak lebih dahulu sampai rumah, sedangkan saya masih ngelayap main di luar rumah. Kalau Bapak lagi spaneng, hal kayak gini bisa berbuntut panjang.

Awalnya saya menuruti seluruh perintah Bapak dan Ibu karena takut. Tapi lambat laun, rasa takut itu luntur. Seiring tumbuhnya pikiran untuk membedakan mana yang salah dan mana yang benar. Fase ini adalah waktu saya sering membantah. Saya bahkan berani berhadap-hadapan dengan Bapak dengan kepalan tangan. Karena saya merasa tidak seharusnya diperlakukan seperti itu. Saya hanya perlu diajak ngobrol.

Namun yang ada, Bapak-Ibu menganggap saya anak yang tidak nurut orang tua, anak yang sering membantah, dianggap durhaka. Sebelumnya, saya melakukan protes besar dengan membuang raport sekolah saya ke selokan. Saya duduk di kelas  5 SD. Waktu itu, buku raport dibagikan untuk memperlihatkan nilai bayangan ke orang tua. Nilai saya mayoritas merah.

Saya yakin, saya pasti kena semprot. Tapi saya mau protes bahwa saya enggak suka cara belajar di sekolah yang saat itu tidak adil dan membosankan. Guru di sekolah melakukan tindak kekerasan dengan melempar penghapus kayu ke siswa yang dianggap tidak memperhatikan. Juga mencubit perut siswa jika salah memakai seragam. Memukul dengan penggaris ke tangan siswa jika kukunya panjang. Tindakan ini terus ditolerir.

Setelah insiden raport masuk got, saya dan Bapak-Ibu dipanggil guru. Bapak-Ibu marah besar. Sudah bisa saya prediksi sebenarnya. Itulah puncaknya saya dianggap “anak nakal”. Entah bisikan-bisikan dari mana, saya lantas dibawa ke Psikiater. Saya disuruh menggambar. Saya menggambar pistol. “Untuk apa itu?” tanya Psikiater. “Untuk nembak Bapak saya,” kata saya lugas.

Sejak dari Psikiater, perlahan sifat keras dan kasar dari Bapak-Ibu pun berkurang drastis. Kamar Bapak-Ibu sampai sekarang adalah bak “Gedung Perwakilan Rakyat” bagi kami semua. Tentunya gedung perwakilan rakyat yang sesuai fungsinya: mendengar aspirasi rakyatnya.

Bapak-Ibu begitu sangat memperhatikan sekecil apapun suara dari saya dan Ajeng, adik saya. Tembok kamar ini menjadi saksi cerita-cerita penting keluarga ini. Mulai dari curhatan saya tentang pacar yang sekarang jadi istri saya. Curhatan Ajeng tentang gebetannya yang dulu backstreet dari Bapak dan sekarang jadi suaminya. Dan banyak lagi curhatan Bapak-Ibu lainnya. Hingga keputusan-keputusan penting soal apa kita harus bagaimana menyikapi masalah keluarga yang dihadapi, serta kepemilikan asset keluarga lainnya.

Sampai ketika saya diizinkan untuk kuliah di luar kota, pesan Bapak hanya dua: “Lo boleh kuliah di luar Jakarta, tapi camkan pesan Bapak, selama di sana jangan hamilin anak orang dan jangan pernah nyobain Narkoba sedikit pun.” Sampai saya lulus kuliah, saya pegang dua pesan Bapak dengan tanggung jawab penuh. Saya tidak ingin mengecewakan orang tua yang sudah memberikan kepercayaan.

Hingga sekarang semua masalah kami selesaikan dengan dengan jalan musyawarah. Di sinilah berbeda pendapat menjadi jalan yang biasa kami lalui. Ujungnya, ada di titik bagaimana mencari jalan keluar.

Kemarin, Bapak dihadapkan pada keputusan sulit, tidak ingin melanjutkan jadi Ketua RW karena    kami menginginkan Bapak untuk istirahat menikmati masa tuanya, namun banyak dukungan dan harapan warga untuk Bapak kembali menjadi Ketua RW. Karena warga percaya pada kepemimpinan Bapak yang selalu memperhatikan suara-suara warganya, Kami pun berembug untuk memutuskannya dengan hati jernih dan mempertimbangkan kepentingan masyarakat luas.

Jujur saja, saya bersyukur sekali hidup dengan dinamika keluarga seperti ini. Perubahan menuju ke arah demokratis adalah proses perjuangan yang harus diraih, meski terjal. Keluarga ini telah mendidik saya bahwa tidak ada anggota keluarga yang maha benar. Kemudian, semua masalah bisa dipecahkan dengan jalan dialog. Kebiasaan di keluarga ini yang saya praktikkan juga pada keluarga kecil saya, pun di pekerjaan juga di kehidupan sosial sehari-hari.

Percayalah kawan, kekerasan tidak akan pernah menyelesaikan apapun. Yuk di momen 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan ini marilah introspeksi diri. Kuatkan tekad untuk melawan segala bentuk kekerasan terhadap siapapun sejak dalam pikiran. Ya, sejak dalam pikiran.

Mari bergerak bersama untuk mendukung pengesahan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual!



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s