Ngobrolin Menstruasi dan Mimpi Basah, Tabukah?

Menstruasi dan mimpi basah merupakan pintu gerbang pubertas yang dialami oleh kita menuju masa remaja. Untuk itu, pengetahuan mengenai kesehatan seksual dan reproduksi mutlak harus dipahami. Selemah-lemahnya iman, agar kita tahu harus berbuat apa ketika mengalaminya.

Setiap orang melalui fase awal pubertas dengan pergolakan rasa yang berbeda. Ada yang merasa bangga, malu, takut, canggung, sampai bingung. Ada pula yang mengalami campuran rasa tersebut. Dengan pikiran yang berkecamuk, lidah ini kelu untuk menceritakan ke orang lain. Apakah gerbang pubertas ini tabu untuk dibicarakan?

Tentunya tidak. Sama sekali tidak ada hal yang tabu dibicarakan dalam ranah diskusi apapun, termasuk kesehatan seksual dan reproduksi. Apalagi menyangkut  hajat hidup remaja Indonesia. Ini adalah hak dasar atas tubuh kita yang mutlak harus  dilindungi oleh negara. Jadi, Negara wajib memberikan ruang yang aman dan nyaman bagi remaja yang mengalami menstruasi dan mimpi basah.

Tapi kenyataannya, ruang yang aman dan nyaman tersebut belum terwujud nyata. Rasa campur aduk itu harus dirasakan oleh remaja sendirian. Mereka akhirnya memberanikan diri cerita ke orang terdekatnya. Dari hasil survey kecil-kecilan saya kepada peserta pelatihan media untuk advokasi di Semarang minggu lalu, remaja perempuan lebih nyaman cerita ke Ibu, asisten rumah tangga, nenek dan teman dekat.

Ini jawaban beragam dari mereka pada sesi diskusi:

“Karena di rumah saya adanya nenek, saya cerita ke nenek. Saya panik awalnya, karena darahnya agak banyak, tapi nenek saya menenangkan. Tidak apa-apa, itu namanya kamu lagi menstruasi, tenang aja, pakai saja pembalut. Begitu kata nenek.”

“Saya cerita ke ibu saya kalau saya menstruasi. Ibu saya hanya menjawab, oke.”

“Saya cerita ke mbak saya (asisten rumah tangga – red), dia memberi tahu kalau itu saya sedang haid. Enggak usah takut.”

“Begitu haid, saya langsung kabari teman dekat saya. Rasanya senang, akhirnya haid. Tapi setelah itu takut, kalau pas “bocor” di sekolah, diledeki sama kawan yang lain.”

Mereka pun bercerita bahwa sebenarnya mereka sudah mendapatkan informasi tentang pubertas dari pelajaran di sekolah, teman satu kelas, guru dan ibu. Meski demikian, informasi yang diberikan belum bisa dikatakan cukup mempersiapkan mereka ketika mengalami langsung.  Karena kebanyakan hanya diberikan di sekolah saja. Di luar sekolah, diskusi mengenai pubertas masih minim.  Masih banyak  informasi yang salah soal menstruasi.

Mitos ‘Injek Kaki’ Masih Langgeng

Seorang remaja perempuan dalam pelatihan mengatakan, dirinya merasa khawatir kalau ada teman sekelompok permainannya lebih dahulu mengalami menstruasi dibandingkan dia. Katanya, jika ingin cepat mengalami menstruasi, jempol kakinya diinjak oleh temannya yang sudah dahulu mengalami menstruasi.

“Percaya enggak percaya, enggak lama setelah itu eh langsung mens lho. Mungkin itu sudah siklusnya juga sih. Tapi kok ya pas ya,” tuturnya.

Hmmm, ternyata mitos lama itu masih juga ada di sekitar remaja kekinian ya. Mitos ini bisa langgeng karena dipercaya secara turun temurun. Padahal, secara logis tidak ada hubungannya antara menginjak kaki dengan menstruasi.

Mungkin mitosnya perlu ditambahi sedikit, bukan cuma injek jempol tapi juga pijat kaki dan punggung. Pasti dijamin pegal dan capek hilang. Hehe. Atau dihubungkan dengan teknologi kekinian, misalnya menstruasi bisa dikirimkan melalui email, WA, atau DM Instagram 😀

Selain terkait mitos, remaja perempuan juga menceritakan pembalut yang digunakannya saat menstruasi. “Karena saat itu, pembalut sekali pakai sulit ditemukan di desa saya. Jadi, saya menggunakan kain. Itu diberitahu oleh orang tua saya.” Pembalut menggunakan kain lebih hemat waktu, biaya dan juga ramah lingkungan. Terhindar dari kebiasaan membuang sampah pembalut bekas pakai.

Minimnya Peran Ayah

Lain cerita ketika laki-laki mengalami mimpi basah. Mereka lebih memilih cerita ke teman-teman sepermainannya. Keluarga tidaklah menjadi pilihannya untuk cerita. Bagi mereka, mimpi basah adalah hal yang biasa saja.

“Waktu itu pas saya mimpi basah, saya langsung mencuci celana saya sendiri. Takut ketahuan keluarga, malu,” tutur salah satu remaja laki-laki dalam pelatihan.

“Kalau saya, celana saya taruh paling bawah cucian. Enggak enak kalau ketahuan. Saya bangga sudah mimpi basah, jadi bisa cerita ke teman sepermainan,” tutur yang lainnya.

Meskipun laki-laki dan perempuan sama-sama ada perasaan bangga ketika sudah menstruasi atau mimpi basah, tapi ada hal yang membedakan setelahnya. Perempuan dihinggapi perasaan takut, karena “bocor” dan tembus saat di sekolah. Ini menjadi hal yang memalukan bagi remaja perempuan, karena jadi bahan ledekan kawan-kawannya. Laki-laki tidak merasakan hal itu. Mimpi basah kebanyakan terjadi saat tidur di rumah. Tidak kelihatan yang lain. Setelah itu, tidak ada rasa malu yang hadir setelah ini.

“Mimpi basah adalah hal yang biasa saja” ini mengusik pikiran saya. Fase awal pubertas ini dianggap sebagai hal yang biasa saja. Padahal, dalam konteks kesehatan seksual dan reproduksi, di fase ini laki-laki mulai bisa membuahi. Untuk itu perlu bekal agar terhindar dari perilaku seksual yang berisiko.

Lalu wacana ini saya bawa untuk menyambungkannya dengan peran laki-laki dalam pubertas anak-anaknya. Pasalnya, tidak ada satupun peserta yang menjawab ayah sebagai teman cerita tentang menstruasi atau mimpi basah. Apa laki-laki cenderung tidak peduli dengan kesehatan reproduksi? Apa ini juga sebab dari budaya patriarki yang mengakar di kepala kita?

Saya jadi ingat pernah menjadi moderator diskusi soal HIV dan AIDS di sekitar rumah tinggal saya. Waktu itu narasumbernya aktivis HIV dan Ibu Rumah Tangga yang terinfeksi HIV. Dari empat puluhan yang hadir, hanya satu orang laki-laki yang ikut dalam diskusi itu, dia adalah Bapak RW, yang mengundang saya. Selebihnya ibu-ibu PKK. Satu orang ketua RT laki-laki, baru lima menit acara sudah pergi.

Dalam masyarakat patriarkis, ayah dikonstruksi sebagai sosok dingin yang bertugas menafkahi keluarga. Eitsss, urusan anak-anak bukan urusan ayah dong. Kan udah capek kerja, masa iya disuruh ngurusin anak pula. Turun dong kasta laki-laki ayah yang harus berwibawa di mata keluarganya. Tapi kalau anaknya mengalami KTD, terinfeksi HIV, mengalami tindak kekerasan, ayah paling ngamuk. Merasa keluarganya ternodai. Tapi di sisi lain, dalam kasus perkosaan, ayah juga kerap kali terlibat sebagai pelaku terhadap anak atau istrinya.

Untuk itu, perlu penyadaran dimulai dari diri kita sendiri bahwa semua hal akan terasa lebih indah jika dibubuhi kata “saling”. Di sanalah kita menjadi manusia setara. Patriarki hanya akan menjauhkan jarak hubungan setara kita sebagai sesama manusia. Dengan jarak ini, nalar kita terus digerus dengan konstruksi moral dari budaya dominan. Sehingga kita terasing dari peran kita sesungguhnya: menjadi manusia seutuhnya. Jadi, yuk ah tabrak tabu tabu itu!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s