Nisan Salib Dipotong, Intoleransi Masih Langgeng

Sumber foto: Tirto.id

“Simbol-simbol apapun tidak ada yang perlu dipotong. Yang dipotong itu ya pikiran intoleranmu itu.”

Begitu tulis saya dalam status Instagram @rasyakur sore kemarin. Caption itu menjelaskan foto saya berkaos eindscloth “Antek Antek Humanis”, desain kaosnya orang-orang menyuarakan simbol-simbol agama dan keyakinan yang berbeda, bersandingan hidup dalam harmoni.

Perasaan saya campur aduk: kecewa, marah, kesal, miris membaca berita insiden pemotongan nisan salib Albertus Slamet Sugihardi di Pemakaman Jambon, Purbayan – Kotagede, Yogyakarta, dua hari yang lalu viral di media sosial. Saya enggak perlu tuliskan kronologinya secara detail di sini ya, silakan teman-teman tanyakan langsung di Mbah Google.

Dikutip dari Tirto.id, seorang tokoh masyarakat Purbayan, Bejo Mulyono mengakui almarhum Slamet dan keluarganya merupakan warga masyarakat yang aktif mengikuti kegiatan di lingkungannya, seperti arisan dan ronda. Menurut Bejo, pemotongan salib terebut sudah menjadi “kesepakatan” antara warga, keluarga almarhum, tokoh agama dan tokoh masyarakat di sana. Kata Bejo, lingkungan daerahnya tidak memperbolehkan adanya simbol-simbol agama Nasrani di makam tersebut.

Selain melarang simbol agama lain di luar Islam, warga juga melarang adanya ibadah pemakaman secara Katolik di lokasi pemakaman dan di rumah almarhum. Akhirnya, misa dilakukan di Gereja Santi Paulus Pringgolayan, Senin (17/12) sebelum dimakamkan pada pukul 12.00 WIB.

Pikiran saya melayang mundur. Sejak kecil, saya mengenal Jogja sebagai sebuah kota yang menjunjung tinggi keberagaman. Di kota ini, keluarga besar saya dengan beragam agama dan keyakinannya lahir, tumbuh dan tinggal dengan damai. Budayanya yang kuat turut andil dalam mewarnai kota ini. Jogja melahirkan seniman-seniman berkarakter, aneka kuliner khas yang sukses bikin ngiler, bejibun tempat wisata dan bersejarah, juga kekerabatan erat yang tak bisa dibayar dengan apapun. Jogja juga menjadi saksi waktu saya ngegebet mantan pacar yang sekarang jadi istri. Jogja punya cerita manis di hati saya.

Ada apa dengan Jogja kini? Tindak intoleransi kembal terjadi di Kota dengan slogan “Jogja Istimewa” ini. Sekjen Forum Persaudaraan Umat Beriman (FPUB) Yogyakarta Timotius Apriyanto mencatat bahwa sepanjang tahun 2018, keindahankeberagaman di kota Yogyakarta dicoreng dengan berbagai tindak intoleran. Insiden pembakaran Al-Quran di Kulon Progo, pembatalan aksi sosial gereja di Bantul, penyerangan terhadap seorang Romo di Gereja Sleman, pembakaran kantor PCM Muhammadiyah. Dan kini pemotongan nisan salib di Kotagede. Jelas ini merupakan sinyalemen buruk bagi kehidupan demokrasi di Indonesia.

Sulitnya Menerima Perbedaan

Guru Bangsa kita Gusdur mengingatkan bahwa “Undang-Undang Dasar menjamin kebebasan berpikir. Kenapa? Ya, melindungi semua. Itu hasil daripada tujuh abad namanya kita berpancasila tanpa nama. Yaitu yang dinamakan Bhinneka Tunggal Ika. Berbeda-beda tapi satu tujuan. Gitu aja kok repot!” Sangat disayangkan bahwa keberagamaan kita terjebak pada patron kebenaran tunggal. Memaksakan keimanan kita terhadap orang lain yang berbeda keyakinan. Di sanalah kita tidak pernah belajar bagaimana menghormati perbedaan sebagaimana telah Tuhan anugerahkan itu kepada kita.

Peristiwa pemotongan salib di Jogja tidak mungkin terjadi kalau kita percaya bahwa kita semua bersaudara tanpa kecuali. Tentunya, kita tidak perlu melihat apapun latar belakang orang lain untuk berbuat baik terhadap sesama. Apalagi dari cerita warga Purbayan di atas, Pak Albertus Slamet adalah warga sana, yang semasa hidupnya aktif berkegiatan positif dengan warga. Itu saja masih sulit untuk dimakamkan di pemakaman umum sekitar warga, hanya karena simbol salib. Bahkan, keluarganya tidak boleh melakukan misa di rumahnya. Hanya karena lingkungan tempat tinggal dan makam tersebut mayoritas muslim.  

Tentunya kita ingat dong kalau UUD pasal 29 ayat 2 yang dimaksud Gusdur di atas ini berbunyi, Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu. Ini Undang-Undang Dasar lho, tuntunan kita dalam berbangsa dan bernegara. Bukan cuma bahan hafalan, yang keluar saat ujian. Artinya apa? Negara harus benar-benar melindungi warganya dalam beribadat menjalankan ajaran agamanya. Pemotongan salib dan pelarangan misa di rumahnya ini jelas jelas merupakan suatu pelanggaran terhadap hak dasar warga Negara dalam beragama dan berkeyakinan.

Kalau misalnya Sang Tokoh Purbayan Pak Bejo mengklaim bahwa ia dan warganya telah menunjukkan sikap toleran dengan membantu keluarga mengurus jenazah; dari mulai proses pemakaman, pemandian jenazah hingga meminjamkan ambulan untuk membawa jenazah itu hal yang memang seharusnya dilakukan dalam bermasyarakat. Saling berbuat baik itu hal mutlak yang kudu dilakukan, tidak ada yang istimewa dengan itu. Justru, yang perlu digarisbawahi adalah mengapa keberagamaan dan keyakinan kita harus tunduk kepada aturan atau kesepakatan kelompok mayoritas? Jelas-jelas UUD 45 itu sudah mengatur.

Beberapa kali terlibat langsung dalam proses pemakaman keluarga dan orang-orang terdekat, saya memahami betapa rumitnya situasi keluarga saat akan dilakukan pemakaman. Dalam kondisi duka tersebut banyak hal yang mesti dilakukan, mengurusi pemakaman yang kian sulit tempatnya, menggelar prosesi pemakaman, mengurusi surat-surat dokumen untuk pemakaman, hingga acara kegiatan peribadatan saat dan pasca pemakaman. Belum lagi, kita berada dalam kondisi duka setelah ditinggalkan orang terkasih. Rasa sedih masih berkecamuk di dada.

Makanya, keberadaan masyarakat sekitar sangat dibutuhkan. Masyarakat lah yang berperan meringankan beban keluarga yang sedang berduka. Kebayang, apa yang dirasakan oleh keluarga Pak Albertus Slamet ketika harus menandatangani di atas materai “kesepakatan” dengan warga terkait pemotongan salib dan pelarangan prosesi doa. “Kesepakatan” dimaknai sepihak sebagai penerimaan.

Sialnya, oleh berbagai pihak tekanan kelompok mayoritas ini malah bukan dianggap sebagai tindakan intoleran. Jadi, ini sah sah saja dilakukan, karena ada kesepakatan dengan keluarga. Lantas ini menjadi narasi pembenaran, bahwa tindakan dilakukan karena kesepakatan. Hei, kesepakatan model apa yang dilakukan saat keluarga sedang dirudung duka. Dimana kau letakkan rasa kemanusiaanmu? Saya tidak melihat ini sebagai sebuah “kesepakatan”, melainkan pemaksaan kelompok dominan terhadap sub-dominan. Supremasi model begini harus diruntuhkan dari pola pikir kita.

Saat hidup didiskriminasi, meninggal pun masih didiskriminasi. Sulit banget ya menerima perbedaan itu apa adanya?

Perbedaan adalah Anugerah

Bagaimana reaksi Pemerintah Yogyakarta? Sri Sultan Hamengku Buwono X malah menguatkan wacana “ini bukan tindak intoleran”. Ia dengan tegas membantah anggapan Yogyakarta tidak toleran. Menurutnya yang terjadi bukan pemotongan salib seperti yang viral, tapi itu kesepakatan antara warga setempat dengan keluarga. Dengan semakin menguatkan wacana dominan di masyarakat ini jelas bahwa Pemerintah gagal melindungi warganya. Pemerintah tidak hadir untuk memberikan rasa aman dan nyaman warganya untuk menjalankan prosesi ibadah dan pemakaman sesuai dengan amanat UUD. Malah semakin menebalkan dinding diskriminasi.

Bicara soal hak kebebasan beragama dan berkeyakinan bukan hanya bicara relasi umat Islam dan Kristen saja, sebagai dua agama dengan penganut  terbanyak di Indonesia. Namun juga agama dan keyakinan lainnya. Masalahnya, persoalan sulitnya cari makam juga pernah dialami oleh aliran kepercayaan Sapta Darma di Kabupaten Brebes setahun silam. Seorang penganut kepercayaan dilarang oleh warga setempat saat ingin memakamkan jenazah di tempat pemakaman umum. Akhirnya, jenazah dikubur di perkarangan rumahnya.

Sebegitu sulitnya ya kita melepaskan segala perbedaan untuk kemudian melihat sesama sebagai seseorang manusia tanpa atribut. Saya pun ingat, bagaimana Almarhum Pakde saya yang menganut Katolik mengingatkan saya untuk solat saat umur saya masih awal belasan tahun. Waktu itu saya sefang menginap di rumahnya di Malang.

“Yan, solat dulu sudah masuk waktu Dzuhur.” Saya pun solat di kamar kakak sepupu yang sedang tidak ditinggali empunya.

“Wah Yan, tapi ini kiblatnya menghadap ke salib. Pakde turunin dulu ya. Atau masu solat di kamar lain?” Waktu itu di tembok depan saya ada patung Tuhan Yesus dengan salib terpasang di tembok.

Dengan polosnya saya menjawab, “Enggak apa-apa Pakde. Aku enggak terganggu kok.”

Saya tidak berpikir apa-apa kala itu. Tidak punya analisis apapun dengan jawaban itu. Pun dengan teori-teori apapun. Saya hanya menjawab spontan saja.

Malah sekarang saya berpikir, jawaban spontan itu berasal dari hati. Jujur tanpa maksud apapun. Seperti putihnya kertas kosong yang masih belum dinodai kebencian. Artinya, enggak perlu mikir ribet-ribet untuk toleran. Gitu aja kok repot!

Bukankah seperti itu yang diajarkan Tuhan kepada kita? Karena Tuhan memberikan anugerah perbedaan agar dunia ini semakin Indah dengan keberagaman.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s