Keluarga Cemara, Merenungi Makna Keluarga

sumber foto: http://www.cdnx.kincir.com

Tidak ada hari libur untuk membahas keluarga.

Begitu kata Anggia Kharisma, salah satu Produser Keluarga Cemara, ketika sesi diskusi Film Keluarga Cemara pasca nonton bareng dengan Keluarga Besar PKBI di Blok M Square Jakarta, awal Januari lalu. Quotes yang terus mengaliri benaknya itu merupakan kalimat sakti dari Mas Arswendo Atmowiloto, sang pencipta karya legendaris Cerita Keluarga Cemara. Langsung ataupun tidak, kalimat ini memompa semangat para sineas dan pemain di dalamnya untuk menghadirkan Keluarga Cemara dengan penuh dedikasi tinggi.

Hasilnya, hingga seminggu yang lalu, Film Keluarga Cemara ditonton oleh lebih dari 1.500.000 orang. Film Keluarga Cemara juga memborong Piala Maya 7 – 2018 sebagai Film Bioskop Terpilih, Skenario Adaptasi Terpilih (Gina S. Noer dan Yandy Laurens), Aktris Remaja Terpilih (Zara JKT48), Penyutradaraan Film Panjang Perdana (Yandy Laurens), Tata Musik Terpilih (Ifa Fachir), Lagu Utama Terpilih (“Harta Berharga” ciptaan Arswendo Atmowiloto dan Harry Tjahyono, diaransemen oleh Ifa Fachir dan didendangkan oleh Bunga Citra Lestari).  

Sejak awal tahun lalu, saya termasuk orang yang gembira maksimal ketika mendengar cerita Keluarga Cemara akan diangkat ke layar lebar. Sebagai pencinta karya-karya Mas Arswendo Atmowiloto, saya menunggu-nunggu dengan penasaran kira-kira akan seperti apa ya cerita legendaris keluarga Indonesia ini diadaptasi kemudian dijahit dan diwarnai oleh para sineas muda. Apalagi saya baca waktu itu ada nama Gina S. Noer dan Angga Dwimas Sasongko di balik Film Keluarga Cemara ini. Makin yakin akan keren. Saya mengikuti karya mereka, sejak berduet membesut film pendek Ladies Room (2003).  

Saya malah jadi semakin penasaran. Akan seperti apa jadinya Keluarga Cemara di tangan mereka. Jujur saja, saya kangen sekali dengan cerita Keluarga Cemara, yang dulu menghiasi masa-masa kecil menuju remaja. Saking kangennya sama Keluarga Cemara, pertanyaan saya sederhana sekali. Abah masih narik becak enggak ya? Apa Emak dan Euis masih jualan opak segede gaban? Ara apa masih ceria dan usil? Nah, katanya akan ada tokoh kejutan, hmmm siapa ya? Semua itu mengaliri kepala saya. Yang paling menjadi pertanyaan besar: apa Keluarga Cemara masih sarat nilai-nilai keluarga? Bagaimana nilai-nilai Keluarga Cemara beradaptasi dan bersinggungan dengan nilai-nilai masyarakat kini?

Pertanyaan sederhana saya terjawab satu persatu. Abah enggak mungkin dong ya narik becak lagi di zaman sekarang gitu lho. Helloooow. Abah kini menjadi pengemudi ojek online. Setelah bisnisnya karam, ia dan keluarganya pindah ke rumah peninggalan Bapaknya di sekitaran Bogor. Emak berdagang opak berkongsi dengan Ceu Salmah Sang “Loan Woman”, dipasarkan oleh Euis di sekolahnya. Masih sama ya. Bedanya sekarang opaknya lebih kecil, kantongable (mudah dikantongin) dan instagramable lah pokoknya. Cemara (Ara) masih aja ngocol dan gemesin.

Dahulu Keluarga Cemara adalah tontonan keseharian saya. Sekarang, Keluarga Cemara menjadi medium perenungan saya. Dari karakter Ara saya belajar seberapa besar masalah yang membelit kita, jangan pernah lupa tertawa dan bahagia. Lah Ara kan masih kecil? Ya terang aja dia bahagia terus, karena belum paham masalahnya! Eits, justru itu, setua apapun kita hari ini mari kita belajar menjadi anak-anak. Di sanalah bersemayam kejujuran dan ketulusan. Dua hal itu yang membawa anak-anak bisa hidup dengan bahagia dan tertawa terus di usianya. Bukan berarti kita harus berperilaku kekanak-kanakan, tapi belajar dari jiwa-jiwanya yang bebas dan tanpa beban dalam menjalani hidup. Ada adegan ketika Ara malah senang ketika harus tinggal di rumah kakeknya di kampung ketika keluarganya bangkrut. Ara senang karena dengan begitu lebih banyak waktu untuk berkumpul bersama. Simpel tapi punya makna dalam.

Berikutnya, saya belajar nilai memaafkan dalam keluarga. Saya terkesan dengan adegan ketika abah sedang menyemen lantai, di bawah tangga. Belum kering Ara sudah menginjaknya. Ada bekas tapak Ara. Segera Ara meminta maaf. Abah enggak marah sedikitpun. Tapi kemudian Ara mengulanginya lagi. Ara segera minta maaf lagi karena lupa. Abah juga tidak marah. Malah ia membiarkan tapak itu. Tidak lama Euis pulang sekolah lari terburu-buru juga menginjaknya. Kemudian Euis naik tangga ke kamarnya. Tapak di lantai ini dibiarkan kering dan menjadi monumen tapak keluarga yang kelak jadi sejarah.

Adegan ini mengajak saya merenungi makna maaf memaafkan yang seringkali luput dalam kehidupan kita. Keluarga adalah rumah terbaik untuk belajar memafkaan atas beribu-ribu salah. Kita tak mungkin selalu benar. Tapi menerima kesalahan orang lain dengan memaafkannya kelak membukakan pintu-pintu untuk belajar memaknai setiap kesalahan. Pasti ada pembelajaran bermakna dari setiap kesalahan, kalau kita mau merenungi dan memperbaikinya. Keluarga adalah salah satu ruang belajar itu. Sebeku-bekunya komunikasi antar individu di dalamnya. Seberapa hancurnya pondasi. Saya masih yakin, keluarga menyediakan ruang-ruang maaf bagi kita. Apa kita berani untuk kembali, dan masuk ke dalam ruang itu?

Belajar Setara dari Keluarga Cemara

Selama Film Keluarga Cemara diputar di Bioskop – sampai tulisan ini dipublikasi pun masih tayang -, di ranah nyata dan maya ramai sekali diskusi terkait. Menarik bagi saya yakni terkait kritik terhadap muatan patriarkal yang masih ada dalam Film ini. Ya, Keluarga Cemara dianggap masih melanggengkan budaya patriarki dalam keluarga. Apa iya? Saya kurang sepakat dengan anggapan ini. Beda pendapat boleh kan ya.

Saya mencoba melihatnya dengan mempertimbangkan juga siapa sosok di belakang layar dari film ini. Karena film tidak berdiri sendiri. Sebagai sebuah produk media, ia dipengaruhi juga oleh siapa pembuatnya, latar belakangnya, hingga bersinggungan dengan ekonomi-politik dalam konteks industri. Kalau saya lihat berdasarkan literasi dan mengenal sejak lama beberapa dari mereka, kawan-kawan Visinema beserta awak pembesutnya cukup clear dengan isu gender dan patriarki ini.

Saya sih melihat tidak ada upaya untuk melanggengkan Patriarki melalui Keluarga Cemara. Jika karakter Abah ditampilkan sebagai sosok yang maskulin, dominan, tegas, marah pada anaknya, bekerja untuk menafkahi keluarga. Sedangkan Emak menjadi sosok yang cenderung patuh pada suami, bertugas menjaga anak-anak, mengurus rumah, memasak. Bukan berarti lantas ujug-ujug melanggengkan patriarki. Ini adalah potret keluarga Indonesia yang juga masih kita alami sampai sekarang. Meskipun marahnya abah saya rasa mengerikan juga di film ini. Saya jadi terngiang-ngiang ketika Bapak memarahi saya tempo dulu. “Masuk kamar sana!” ini menjadi kalimat andalan.

Saya kemudian melihat, adegan-adegan ini ditampilkan untuk membalikkannya. Menampar Patriarki dengan halus. Ada satu adegan ketika Abah frustasi dengan beban yang dipikulnya sebagai kepala keluarga. Konstruksi peran tunggal laki-laki sebagai ayah dan kepala keluarga inilah yang seharusnya dibagikan kepada seluruhnya; ayah, ibu, anak-anak punya peranan dalam keluarga, bukan? Karena keluarga pada dasarnya membutuhkan teamwork untuk meraih apa yang dicita-citakan bersama. Dalam Keluarga Cemara, Abah sebenarnya begitu tertekan dengan budaya patriarkis. Laki-laki memiliki relasi kuasa yang dominan ini juga ternyata tidak mengenakkan bagi laki-laki. Saya melihat abah merasakan itu, tapi virus patriarki begitu membius nalarnya. Sehingga ia menjalani kekuasaan yang timpang itu seolah-olah lumrah dilakukannya. Dipendam sekian lama sehingga menjadi bebannya. Ia hadir dengan peraaan merasa bersalah.

Berikutnya, tamparan patriarki setidaknya digambarkan dalam dua adegan yang simpel tapi cukup menohok. Pertama, ketika Abah disindir oleh rekan perempuan sesama pengemudi ojek online tentang bebannya sebagai kepala keluarga yang seharusnya tidak diembannya sendirian saja. Berbagi peran dengan Emak dan anak-anak juga perlu dilakukan. Kedua, ini adegan yang paling saya suka dan menggetarkan hati. Ketika Abah lagi-lagi dengan emosional bilang bahwa Emak, Euis dan Ara adalah tanggung jawabnya. Tentunya saya melihat beban berat dipikul abah. Lalu Euis bilang, “Lalu Abah tanggung jawab siapa?” Jlebbbb! Saya angkat dua jempol untuk Gina dan Yandy, untuk adegan yang begitu menyentuh ini. Juga, kalimat yang sangat sakti. Kalimat yang bagi saya menampar patriarki dengan sederhana. Air mata mengalir berkali-kali. Hati saya basah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s