Seni Merayakan Kritik di Tengah Kegaduhan Praktik Politik

Partai Senang Revisi. Anda sudah barang pasti tidak akan menemukannya di deretan daftar Partai Peserta Pemilu 2019. Sebagai sebuah karya seni, Partai ini akan menjelajah nalar kita. Mempertanyakan berbagai kegaduhan politik negeri ini jelang April. Memperolok-olok kenaifan berpikir politisi dan kaum elit negeri. Sekaligus tes ombak, sudah sejauh mana bangsa ini mampu menerima kritik dari generasi mudanya tanpa reaktif bahkan bergegas mengkriminalisasi.

Sabtu (9/2) saya menjejak di Taman Ismail Marzuki. Seperti biasa, menjemput istri saya Sisy latihan nari. Mata saya terperanjat oleh spanduk besar di depan Gedung Galeri Cipta III, sebelah Bioskop. “Kantor Pusat Partai Senang Revisi”. Sekilas, atribut warna merah-putih dan logonya agak mirip mirip dengan Partai baru yang diisi orang muda. Saya pun penasaran untuk masuk mengeksplorasi.

Partai Senang Revisi (PSR) ini merupakan pameran seni yang digagas oleh mahasiswa program studi Desain Grafis Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Sebagai sebuah kerja seni komunal, pameran berisikan kolaborasi karya desain visual dituangkan dalam berbagai media. Mengusung konsep “Markas” sebuah partai, dengan bentuk Kantor Pusat, lengkap dengan atribut kaos partai, visi-misi, mars nyenyanyian partai sampai susunan kepengurusan.

Pada dinding juga menyajikan poster kritik terhadap kondisi kekinian. “Tolak RUU Permusikan” terpatri tegas dalam sebuah poster yang menempel di dinding. Menyiratkan bahwa anak muda penggagas pameran ini melek politik. Yup, politik memang acapkali diartikan sempit sebagai praktik kotor, korupsi, menjijikan. Ya enggak heran sih. Karena setiap hari kita disajikan praktik politik busuk para elit a.k.a politisi. Bagi saya, politik adalah upaya untuk mengubah sesuatu menjadi lebih baik. Makanya, saya memandang pameran ini sebagai upaya politik kaum muda untuk menggagas perubahan.

“Ini adalah pameran seni yang interaktif. Jadi silakan untuk menuliskan komentar pada poster-poster yang disediakan kolom komentar. Ini surat suaranya (memberikan saya surat suara), silakan untuk memilih presiden dan wakilnya secara fiktif pada bilik suara di sebelah sana,” kata penerima tamu di meja registrasi.

Wah seru sekali. Saya langsung tidak menyianyiakan kesempatan ini untuk turut berpartisisapi ehhhh berpartisipasi. Sapi kan lahan korupsinya salah satu partai ya. Ehh. Lanjut. Setelah melihat-lihat mars PSR, saya melipir ke kanan. Terpampang poster interaktif yang sudah ditempeli oleh kertas post-it kuning.

Tertulis, “Ini adalah keadan (sengaja dibiarkan typo mengikuti aslinya) Indonesia dimana PSR sudah menajdi partai terpilih dan angka dollar sudah turun menjadi Rp. 1000 untuk 1 Dollar. Tulis apa yang akan kalian beli jika 1 dollar sudah seharga Rp. 1000.”

Saya pun menulis, “Memborong akal sehat”. Ya, manusia Indonesia kini kekurangan akal sehat. Kita sudah rasakan sendiri berapa banyak saudara, teman, tetangga kita musuhan karena berbeda pilihan capres atau cawapresnya. Juga, anak-anak didoktrin untuk menyuarakan intoleransi melalui simbol-simbol, kebencian terhadap minoritas, sampai dimanipulasi untuk ikutan kampanye politik kebencian.

Herannya juga, mengapa kita larut dalam euforia dan larut dalam canda-canda tidak lucu yang menyudutkan perempuan ketika VA ditangkap dalam kasus prostitusi online. Kita sibuk membully VA. Sibuk menghakimi VA. Sibuk nulis komen nyinyir di IG-nya VA. Tapi, kita diam seribu bahasa tidak meributkan laki-laki yang membeli jasa seksnya. Bukan cuma kasus VA, mayoritas kasus prostitusi, selalu yang menjadi korban adalah pekerja seks. Pembeli seks aman tidak tersentuh.

Selain itu, berapa banyak manusia Indonesia yang ditangkap gara-gara pasal karet UU ITE sialan, cuma karena menyampaikan pendapatnya yang berbeda. Apalagi korban pelecehan seksual yang dipidana karena menyuarakan kasusnya. Ketika ada RUU Penghapusan Kekerasan Seksual yang berperspektif perlindungan korban untuk segera disahkan oleh DPR, tapi ada kelompok-kelompok yang berpetisi menolak dengan memelintir fakta: menganggap RUU tersebut Pro Zina. Ironisnya, Seorang mantan Hakim yang terkenal menjaga citranya yang agamis dan bersuara lantang sebagai polisi moral, tertangkap KPK karena kasus suap. Ahay!

Pula, ada lagi calon presiden yang ngoceh soal keadilan sosial dan kemakmuran, tapi buruh perusahaannya menuntut soal tunggakan upah; apalagi punya masalah kelam kejahatan HAM masa lalu yang buram dari kata “adil”. Eits petahana juga enggak perlu didukung mati-matian. Masih banyak PR terkait penyelesaian pelanggaran HAM masa lalu yang kudu diselesaikan. Aksi Kamisan sudah 12 tahun menagih janji-janji penuntasan kasus pelanggaran HAM. Berganti penghuni istana tidak ada yang bisa dipegang janjinya.

Nah ngomong-ngomong soal Pilpres, Pameran ini memberi kesempatan kita memilih alternatif Capres Cawapresnya sendiri. Di ruang pameran disediakan bilik suara untuk memilih calon presiden dan wakil presiden pilihan kita. Saya suka! Enggak perlu terlalu serius kok, ini fiksi saja. Jadi, kalo di negara kita cuma ada dua pasang capres yang orangnya itu itu aja. Enggak menjawab masalah kita. Maka di bilik suara versi PSR kita bebas menentukan sendiri siapa calon pemimpin kita.

Masih konsisten dengan uneg-uneg saya tadi saya pun memilih AKAL sebagai Capres dan SEHAT sebagai Cawapres. Saya menuliskan pesan, “Bubarkan DPR! Indonesia tidak membutuhkan politisi. Indonesia butuh manusia berakal sehat.” Karena politisi itu motivasinya mengejar perolehan suara. Maka, praktiknya dengan berbagai cara menghalalkan segala cara. Rakus. Terasing dari kemanusiaan.

Saya melangkahkan kaki ke lantai dua pameran. Menyajikan ruang rapat PSR. Lengkap dengan meja dan kursi. Poster-poster kritik menghiasi dinding ruang rapat. Saya ada kritik sedikit soal kutipan Kartini yang direvisi menjadi “Habis Gelap Masih Tetep Gelap”. Dengan mengedit Kartini berkacamata hitam, berkumis, dan mengubahnya menjadi Kartono. Di atasnya ada logo PLN. Saya kehilangan makna, apa maksudnya ini? Mau ngritik kinerja PLN? Mengapa harus Kartini yang diedit sedemikian rupa? Apalagi diubah jadi Kartono, kenapa oh kenapa? Kok saya jadi memiripkannya dengan keisengan orang-orang yang mencoreng gambar pahlawan di uang kertas yang sering dikasih kumis dan tahi lalat. Karena pada poster ini saya kehilangan esensi kritiknya.

Berikutnya, saya mengapresiasi sangat semangat pameran ini untuk menumbuhkan ruang interaksi dengan pengunjungnya. Kemudian, ini jadi semacam edukasi bagi kita yang mampir ke sana. Pada Poster “Gapapa ….. Yang Penting …….” sang pembuat karya terbaca ingin mengajak para pengunjung untuk menyindir kondisi wajah perpolitikan praktis di Indonesia. Tapi ada dua interaksi pengunjung yang mengganjal saya. Pertama “Gapapa Toket Kecil, Yang Penting Enak”. Kedua, “Gapapa Vanesa Mahal, Yang Penting Enak.. Hehe..”

Dua komentar ini jelas saja bikin geram. Diajak untuk membuat kritik yang membangun malah nulis hal-hal yang seksis dan merendahkan perempuan. Ini membuktikan bahwa Patriarki rupanya juga mengunjungi ruang pameran ini. Bagi saya ini bukan bahan becandaan.

Apresiasi saya yang tinggi untuk semua pembuat karya Partai Senang Revisi. Karya ini juga telah menjadi medium eksperimen sosial untuk mengukur sejauh mana nalar kritis kita menyikapi keadaan sosial di sekitar.

Bravo!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s