Ramadhan Tiba, Sudah Siapkah Kita?

Wah enggak terasa ya puasa sudah dekat. Dua hari lagi. Sudahkah kita siap menghadapinya?

Bagi saya bulan ramadhan itu bukan cuma soal menunaikan hal-hal normatif macam puasa, ngaji, solat, zakat. Itu perlu. Tapi itu seringkali kita lakukan hanya untuk menggugurkan kewajiban saja. Kalau enggak ya, biar terlihat baik di mata orang-orang sekitar saja.

Ada yang penting juga untuk kita perhatikan betul di bulan Ramadhan ini. Hawa nafsu. Eits, hawa nafsu bukan Cuma soal seksual saja sob! Ngontrol nafsu kita  biar enggak marah-marah di jalanan kala macet mendera. Ngontrol nafsu kita biar enggak main ikutan razia warung-warung yang buka saat siang hari. Ngontrol nafsu kita biar enggak melakukan kekerasan sekecil apapun terhadap sesama. Ngontrol nafsu kita untuk enggak menyebarkan berita hoax. Ngontrol nafsu kita biar enggak main hakim sendiri terhadap hal hal yang bertentangan dengan pemikiran kita.

Lah, ini kan harusnya memang dilakukan di keseharian? Jadi enggak perlu nunggu bulan puasa dong!

Iya, benar banget. Tapi hal-hal yang esensial ini kadang terlupakan sama kita kan. Nah bulan puasa ini bisa menjadi momen kita untuk merenung dan merajut kembali hubungan dengan Tuhan (komunikasi intra personal), kalau kita percaya. Dan hubungan dengan manusia (komunikasi antar personal, kalau ini wajib dilakukan.

Jadi, puasa kita selain diisi dengan hal-hal yang sifatnya ritual keagamaan, juga perlu untuk mengeratkan kembali hubungan kita dengan sesama manusia lainnya. Ini lebih berat sih dari ritus komunikasi intra personal kita. Pada ritus komunikasi intra personal kita bisa saja “kosong”, atau menjalankan seadanya saja. Hanya kita dan Tuhan yang tahu. Magis. Tapi kalau hubungan antara sesama manusia, itu dilihat oleh sekitar. Sehingga berbuat baik dengan sesama itu harusnya menjadi perlombaan kita di bulan Ramadhan ini.

Pernahkah teman-teman melihat sendiri orang yang berantem di jalanan di bulan puasa, gara-gara mengejar berbuka puasa di rumah? Saya pernah! Terus kita nontonin doang? Ya enggak lah. Kita kudu hadir untuk menengahi mereka. Kalau pun sulit, ya lakukan apa yang kita bisa.

Gimana kalau kita puasa terus teman sekelas atau seruangan di kantor makan. Jadi laper? Terus marah? Ya enggak dong! Kita wajib menghormatinya. Kalau perlu makan bareng. Eh enggak ya. Hahaha. Ya biarin aja mereka makan. Jangan sampai dia mau makan aja harus ngumpet-ngumpet karena kita puasa.

Terus gimana nih kalau mau ngomen di media sosial. Boleh ghibah enggak ya? Siapa yang ngelarang komen. Bebas. Ini negara demokrasi. Tapi yang harus diperhatikan itu, kenyinyiran kita tidak menyinggung orang lain. Setidaknya kita berusaha menjaga jari-jari kita yang aduhai lincahnya itu untuk enggak menyudutkan orang lain.

Terus kalau ngeritik negara gimana dong? Itu mah enggak ada kata libur! Tapi, mari menggunakan cara-cara yang manusiawi.

Ritus-ritus tadi ada baiknya juga jika gunakan bukan cuma mengejar pahala dan surga saja. Juga bukan cuma jadi tempat untuk minta-minta yang kita inginkan. Tapi digunakan sebagai ruang monolog. Ruang refleksi. Ruang relaksasi. Ruang untuk merenung. Ruang untuk memaknai. Kemudian kita menggali lagi esensinya, untuk berbuat baik kepada sesama.

Selamat menunaikan Ibadah Puasa kawan-kawan. Mari memaknainya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s