Makanan Pokok Indonesia Ternyata Bukan Nasi?

on

“Orang Indonesia itu kalau belum makan nasi itu namanya belum makan.”

Mungkin ucapan di atas sering merasuki telinga kita. Makan bakso belum lengkap tanpa nasi. Makan mie instan, kurang kenyang tanpa nasi. Bahkan, makan siomay makin sedap kalau pakai nasi. Bahkan makan di Restoran Padang kurang lengkap rasanya kalau enggak nambah nasi. Makanya, pasti terjadi kegaduhan tingkat tinggi kalau harga beras meroket.

Pertanda, orang Indonesia tidak bisa hidup tanpa nasi. Berat. Bak rindunya Dilan kepada Milea. Bah!

Tapi apa benar beras itu makanan asli Indonesia?

Bukan. Ternyata menurut Peneliti Sagu Indonesia  Prof. Nadirman Haska kepada Detik.com (2015), sagu telah lebih dahulu menjadi makanan penduduk nusantara jauh hari sebelum beras masuk ke Indonesia.

Menurut Prof. Nadirman, padi, jagung, singkong dan gandum, itu bukan berasal dari wilayah Indonesia, tapi dari berbagai negara pendatang. Seperti padi dari India, singkong dari Amerika dan sebagainya, hanya pohon sagu lah yang asli Indonesia (Trendezia.com, 2016)

Buktinya dapat terlihat dari relief-relief di Candi Borobudur — salah satu peninggalan kerajaan Budha di Indonesia — tentang palma kehidupan yang terdiri dari nyiur (kelapa), lontar, aren, dan sagu. Setelah itu, beras barulah dibawa masuk ke wilayah nusantara pada masa Kerajaan Hindu, oleh orang India.

Kata Prof. Nadirman, dari awal sebelum makan nasi masyarakat nusantara sudah biasa makan sagu. Kajian antropologi memperlihatkan, masyarakat Jawa menyebut beras dengan istilah sego. Masyarakat Sunda menyebut beras dengan sebutan sangu. Sego atau sangu dalam bahasa sesungguhnya ialah sagu. Hal ini menjelaskan bahwa pada masa itu, orang Jawa juga mengkonsumsi sagu.

Berdasarkan riset yang dilakukan oleh para ahli, sagu bisa menjadi solusi untuk mengatasi masalah ketahanan pangan pada akhir abad ke-21 ini. Hal tersebut dikarenakan turunan dari sagu masih memiliki kandungan karbohidrat yang sama. Berbeda dengan beras yang banyak mengandung glukosa. Selain itu, pembudidayaan sagu juga tidak membutuhkan lahan yang luas seperti padi.

Indonesia merupakan penghasil sagu terbesar di dunia, memiliki 1,4 juta hektar (ha) lahan sagu yang tersebar di hutan tropis Sumatera, Kalimantan, Maluku hingga Papua. Bahkan Papua dan Papua Barat menyimpan cadangan 1,2 juta ha, yang 95%-nya merupakan sagu yang tumbuh alami. Artinya, Papua dan Papua Barat berpotensi menghasilkan delapan juta ton sagu per tahun dari pohon yang tumbuh alami dan belum dimanfaatkan.

Namun ironisnya anugerah Tuhan tersebut belum dimanfaatkan dan dikembangkan secara serius oleh Pemerintah Indonesia. Baru sekitar 5% cadangan sagu yang dimanfaatkan sebagai sumber karbohidrat dan produk olahan makanan. Padahal, sagu bisa diolah menjadi makanan yang aduhai lezatnya seperti siomay, empek-empek, bakso hingga papeda.

Justru Jepang yang saat ini mengembangkan sagu bukan hanya karena potensi karbohidrat di dalamnya, namun juga karena kisah heroik di balik manfaat sagu. Prof. Nadirman pernah mendapatkan cerita dari Ilmuwan Jepang Prof. Nagato, konon prajurit Jepang bisa bertahan hidup dan sehat selama 35 tahun di pedalaman belantara Halmahera karena makan sagu yang tumbuh alami di sana.

Nah, berdasarkan kisah dan temuan fakta tersebut, secara diam-diam Ilmuwan Jepang mulai mengembangkan salah satu tanaman asli Indonesia ini.

[Telah dipublikasi di http://www.eindscloth.wordpress.com, 18 Maret 2018]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s