Cerita Minimalis #1 : Dimulai dari Meja Kerja Kantor

Berawal dari cerita Sisy soal series Netflix Tidying Up with Marie Kondo. Lanjut, nonton film dokumenter Minimalism: a Documentary about The Important Things karya Matt D’Avella. Lalu, membaca buku Goodbye, Things-nya Fumio Sasaki kian menebalkan semangat hidup minimalis. Selemah-lemahnya iman, mengurangi barang-barang yang tidak saya butuhkan.

Sebagai seorang yang gemar menimbun barang (setidaknya dari banyak barang-barang yang menumpuk di rumah), saya memutuskan sudah waktunya hidup minimalis. Meski memang bukan sesuatu yang mudah. Saya paham. Mppff.

Saya mengoleksi banyak buku di lemari buku, di rumah. Ada juga yang berserakan di luar lemari, berharap bisa jalan sendiri masuk ke lemari, haha. Saking banyaknya, saya lupa apa saja yang saya koleksi. Eits tenang saja, hanya beberapa saja yang saya tuntaskan membacanya. Selebihnya saya beli entah karena apa.

Kaos hitam jangan ditanya. Satu lemari hampir berisi koleksi kaos hitam beraneka desain. Meski semakin ke sini, sudah banyak yang harus saya relakan karena sudah kesempitan. Upss. Beberapa di antaranya masih saya koleksi, karena berharap saya akan langsing dan memakainya kembali :D.

Berikutnya koleksi sepatu yang dahulu pas beli terlihat lucu dan keren. Tapi sekarang jarang dipakai, malah berdebu. Sepatu-sepatu Vans zaman kuliah dulu udah saya donasikan jelang Lebaran kemarin.

Belum lagi tas dan pernak pernik lainnya yang enggak terlampau jelas mengapa bisa saya bawa pulang.

Lainnya, ada tiga sepeda bertengger di halaman rumah: sepeda onthel, listrik dan lipat. Yang masih saya pakai sepeda lipat. Dua yang lainnya rusak, tak bisa dipakai.

Yang terbaru saya membeli perlengkapan kopi manual. Tapi untuk ini saya mulai tersadar untuk mengendalikan.

Barang barang itu mulai jadi masalah karena menumpuk dan bikin pusing. Saya dan Sisy stress ketika harus nyari barang yang lupa naruh, ternyata keselip di antara barang lainnya. Belum lagi keberadaannya makan space.

Saya mau banget hidup minimalis, tapi bingung untuk memulai.

Aha! Saya butuh mentor.

Nah saya pun menanyakan ke akun IG Periperapi, milik kawan lama saya Vro Nunu. Dia sudah jauh lebih dulu mempraktikkan Minimalisme, di kehidupan sehari-hari.

“Minimalisme itu perjalanan panjang. Dimulai dari yang terdekat. Ini lagi di kantor? Mulai dari meja kantor. Foto before dan after-nya,” tulisnya via DM IG dan bersambung di WA.

Oke baiklah. Saya pun memulainya.

Before

Saya singkirkan barang-barang yang tidak saya perlukan. Tersisa barang yang saya sering gunakan. Sehingga saya enggak pusing lagi kalau ada barang lupa naruh dan nyelip nyelip karena kebanyakan barang untuk pamernya haha. Buku buku yang saya enggak baca pun saya singkirkan dari pandangan.

After

PR selanjutnya adalah menyingkirkan barang-barang di rumah, yang jauh lebih banyak dari meja kantor

Hmmmm…. doakan sayaaaaa yaaaa….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s