Belum Bisa Move On Dari Pilpres

“Harusnya Prabowo nih yang menang……” kata supir taksi online, saat mengantarkan saya balik dari kantor. Sebut saja Pak X.

Kalimat ini membawa pada obrolan tentang Pilpres (lagi). Jujur saya bosan. Bahasan 01 dan 02 harusnya sudah selesai.

Apapun hasilnya harus dihargai. Masih ada pekerjaan yang lebih berat lagi: mengawal demokrasi.

Itu bagi saya. Namun nyatanya para pendukung fanatiknya sulit untuk move on.

“Banyak kecurangan di kubu 01 yang dibiarkan saja. Parah banget ini,” katanya lagi.

Pak X bilang kalau saat di Mahkamah Konstitusi (MK) ada kejanggalan. Apa iya? Gimana tuh Pak?

“Lha iya, kesembilan Jaksanya di MK. Itu semuanya dapet uang 4 triliun masing masing, termasuk semua pegawainya juga dapet,” cetusnya.

Menurutnya, sumbernya dari orang orang pendukung 02. Dia sangat percaya. Dan tidak mau disebut sebagai penyebar informasi hoax.

Saya kaget dengan jumlah uangnya yang buanyak. Tapi tunggu dulu, kok Jaksa? Haha. MK itu punyanya 9 Hakim Konstitusi lho Pak. Haha. Ini sudah pasti ngawur.

Terus, semua pegawainya juga dapat uang katanya. Saya tambah ngakak. Sampai detik ini saya enggak pernah menemukan buktinya.

Lanjut, dia cerita bahwa Prabowo akan membawa Indonesia ke zaman Soeharto. Tegas. Keras. Semua semua murah katanya.

Hmmm, termasuk HAM juga murah ya Pak, main culik sini culik sana. Tembak sini tembak sana. Suara suara dibungkam.

Lah mundur dong namanya!

Sepakat bahwa penyelenggaraan Pilpres 2019 memang jauh dari kata sempurna. Banyak bolong di sana sini. Apalagi menelan banyak korban meninggal. Ini PR besar yang harus diselesaikan. Pula harus diusut tuntas.

Tapi tidak lantas mutung bersikeras tidak mengakui hasilnya, karena pilihannya kalah suara. Kecurangan Terstruktur, Sistematis, Masif haruslah bisa dibuktikan secara nyata. Bukan cuma nyaring dibunyikan.

Toh sekarang, sang junjungan cenderung merapat ke petahana. Pendukung garis miring makin uring uringan.

Padahal politik tak pernah mengenal istilah lawan dan kawan abadi. Semuanya cair melebur demi kepentingan kekuasaan.

Elitnya setiap waktu bisa musuhan, besoknya bisa mendadak jadi sahabat. Nah, di akar rumput, beda pilihan capres aja bisa ribut sampai putusnya ikatan pertemanan bahkan saudara.

Lucunya, argumen dibangun dari “katanya”. Hoax dipelihara, bahkan disembah.

Pada akhirnya, kita sendiri yang menentukan jalan politik. Sebagai rakyat. Lepaskan atribut dukungan. Enggak ada lagi Cebong, Kampret, Golput. Mari kawal setiap kebijakan dari Presiden terpilih.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s