Pertandingan Cinta Kasih

“Bun, bagi Bunda apa sih yang paling penting di Dunia?”

“Hmm.. Apa ya? Cinta Kasih.”

“Wow.”

“Kenapa Din?”

“Enggak apa-apa. Aku pikir Bunda akan jawab kayak orang lain: harta, keluarga, rumah. Ternyata jawaban Bunda di luar dugaanku.”

Percakapan ini terjadi antara Mbak Tina, kakak sepupu saya yang tinggal di Malang, dengan anaknya Dinda (11). Setelah Dinda terkaget-kaget dengan jawaban itu, ia langsung mencium bundanya.

Ya, saya sedang berada di Malang untuk kegiatan kantor. Semalam Mbak Tina menjemput saya di Hotel untuk kongkow-kongkow cantik di warung kopi. Sungguh anugerah bagi saya bisa mendengarkan cerita-cerita Mbak Tina dan ketiga anaknya yang unik-unik; Putri, Dinda dan Arya. Dari sanalah bersemayam pembelajaran luar biasa tentang kehidupan.

Percakapan dengan Dinda membawa kami pada salah satu cerita Mbak Tina, yang menurut saya mengandung banyak sekali pembelajaran yang bisa dipetik.

Waktu itu kakak (Putri) ada lomba nyanyi di Batu. Jauh dari rumah dan jalannya berliku-liku. Mbak Tina mengantar dia naik motor. Besoknya mendapat kabar kalau Kakak masuk final.

“Setelah menjemput ketiganya pulang sekolah, kami berangkat bareng ke lokasi. Kami hanya nge-drop kakak saja, nanti jemput lagi. Dua jam kemudian, kami balik lagi. Ternyata kakak belum juga nyanyi. Aku udah mau turun mobil, tapi kakak mencegah. Pokoknya bunda jangan turun. Nanti bisa marah-marah di sana, begitu kata kakak. Yo wes aku nunggu di mobil.”

Di perjalanan, Dinda dan Arya membantu kakak dandan di mobil. Mereka berdua berupaya keras mendukung kakaknya tampil maksimal.

Belum selesai sampai situ, selama menunggu, Dinda dan Arya bergantian mendampingi kakak di lokasi. Sampai malam pun tiba. Mbak Tina sempat memutuskan untuk pulang ke rumah. Karena Dinda besok ulangan dan Arya ada PR yang harus dikerjakan.

“Tapi Arya dan Dinda tetap bersikeras mendampingi dan mendukung kakaknya di sana. Dinda bilang kalau dia udah minta tolong temannya untuk fotoin bahan-bahan ulangannya, jadi dia bisa belajar di mobil. Arya bilang kalau PR-nya bisa dikerjain nanti pulang dari lokasi.”

Mendapat dukungan penuh tersebut, kakak berempati. Ia juga memikirkan kondisi bunda dan kedua adiknya. Ia lantas menyarankan mereka untuk pulang lebih dahulu dan beristirahat. Nanti kakak akan minta tolong kawannya yang menjemputnya.

“Di titik inilah aku langsung bilang sama anak-anak kalau kita sudah menang. Apapun hasil kakak kita berempat sudah memenangkan cinta kasih. Ini bukan cuma pertandingan menyanyi, Apa yang kita lakukan ini sudah menjalankan pertandingan cinta dan kasih, lalu memenangkannya.”

Dari sini saya belajar bahwa cinta dan kasih itu nyata. Praktik cinta dan kasih itu ada di kehidupan kita sehari-hari. Dari hal-hal kecil. Dukungan penuh kita secara ikhlas kepada orang terdekat kita adalah bentuk nyatanya. Kita secara sadar ataupun tidak telah mengorbankan segala sesuatunya. Waktu, tenaga dan kepentingan lainnya. Memadamkan ego individu. Meleburkannya jadi satu kekuatan. Terlahir manjadi sebuah dukungan yang besar terhadap orang terdekat kita.

Ini contoh nyata bagaimana sebuah sistem dukungan keluarga berjalan. Bukan hanya bagus di teorinya saja. Namun menjelma jadi praktik keseharian. Memang bukan perkara mudah. Menerapkannya saja sulit. Apalagi menjadi kebiasaan dan lalu membudaya. Mbak Tina dan ketiga anaknya telah melakukannya dalam laku kesehari-harian. Belajar dan terus belajar memperbaiki diri, dimulai dari memaknai hal kecil.

Yuk mari tebarkan cinta kasih.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s