Berhenti Sejenak

Halo kawanku! Apa kabar kalian hari ini? Semoga kita semua diberikan kesehatan dan kelancaran untuk menjalani hari-hari. Amin.

Pernahkah kalian merasa bahwa waktu berjalan begitu cepatnya? Sehari-hari kita dihantui berbagai macam pekerjaan yang harus diselesaikan tepat waktunya. Kita fokus pada panjatan demi panjatan menuju puncak karier. Kita sibuk mencitrakan diri sesuai dengan yang orang lain harapkan. Enggak capek tuh?

Jawabannya bisa beragam. Kalau kalian merasa capek, kita berada pada barisan yang sama.

Saya lelah melajukan diri hari demi hari untuk mengejar kebanggaan kebanggaan artifisial duniawi, yang pada akhirnya nanti akan hilang satu per satu. Mengejar kebanggan ini menempatkan kita sebagai manusia yang rakus. Manusia yang mau mengalahkan manusia lainnya. Manusia yang ingin selalu berada di depan dalam kompetisi bernama kehidupan. Manusia konsumtif yang enggak peduli dengan kehidupan makhluk lainnya.

Setiap hari kita lalui dengan secepat kilat. Berbagai macam kegiatan kita lakukan untuk mengejar pundi pundi kian memangkas waktu kita dengan segera. Enggak terasa kita sudah berada di tengah malam, dan kita masih belum merasa puas dengan hari ini. Begitu setiap harinya.

Pun di masa pandemi ini, kegiatan berpindah ke dalam layar laptop dan smartphone. Sehari hari dibanjiri dengan webinar. Sampai kita melupakan hari libur. Belum lagi kegiatan rutin cek email pekerjaan dan Whatsapp group yang semakin membuat kita merasa hari-hari kita kian pendek setiap harinya.

Saya merasa beruntung akhirnya berhasil keluar dari rutinitas pekerjaan strutural yang membosankan awal Maret lalu. Saya memutuskan undur diri dari kantor lama, karena merasa tidak lagi nyaman berada di sana. Beberapa hari lalu saya juga telah memutuskan diri dari whatsapp group yang memenuhi memori kepala saya. Saya hanya aktif di whatsapp group keluarga saja, Itupun tidak aktif mengikuti. Dengan demikian saya ingin melakukan detox terhadap kebiasaan berkomunikasi saya yang seringkali terdistraksi karena bahasan yang mengacak pada whatsapp group. Saya tidak ingin membanjiri isi kepala saya dengan beragam informasi yang membuat saya tidak nyaman. Itu saja.

Hela nafas panjang. Saya mencoba menikmati setiap keheningan dan kesunyian dalam ritus ibadah. Ternyata bagi saya itu menjadi self healing dari dunia yang kian bising. Di Jakarta yang bergerak cepat, menikmati detik jam berdetak, suara cicit burung, ketukan kayu pedagang bakso adalah sebuah kemewahan. Menikmati waktu yang bergerak perlahan sembari mencecap teh atau kopi dan membaca buku juga menjadi hal yang sungguh nikmat. Hal yang kian terpinggirkan karena kita selalu sibuk menjadi yang terdepan dan tercerdas dalam menjawab pesan di whatsapp group. Yang pada dewasa ini menjadi ukuran tidak tertulis “kehadiran” manusia pada kelompoknya. Namun kita melupakan bahwa “kehadiran” kita pada dunia digital tersebut melupakan kehadiran lain yang sebelumnya dibawa oleh pendahulu kita, yakni hadirnya jiwa. Manusia tanpa jiwa ini, kemudian menumbuhkembangkan varian baru: “manusia robot”.

Maka, berhenti sejenak untuk menikmati hari-hari, dengan menghidupkan kembali jiwa manusia kita adalah hal yang perlu kita asah dan jalankan. Dalam dunia modern yang berputar begitu cepat, kita jangan sampai kehilangan waktu untuk menjadi manusia merdeka.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s